Kakanwil Ditjenpas DIY Apresiasi Budidaya Ayam Petelur Rutan Jogja

Humas Kanwil Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Daerah Istimewa Yogyakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Warta PAS Yogyakarta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

YOGYAKARTA — Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Daerah Istimewa Yogyakarta (Kakanwil Ditjenpas DIY) Muhammad Ali Syeh Banna memberikan apresiasi terhadap program pembinaan kemandirian yang dikembangkan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Yogyakarta melalui budidaya ayam petelur. Program tersebut dinilai mampu memberikan keterampilan sekaligus manfaat ekonomi nyata bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Apresiasi tersebut disampaikan Kakanwil saat melakukan kunjungan ke Rutan Kelas IIA Yogyakarta bersama Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Karo Ren Keu Kemenimipas), Sabtu (5/9). Dalam kunjungan tersebut, rombongan meninjau langsung berbagai program pembinaan kemandirian yang dijalankan oleh WBP, salah satunya budidaya ayam petelur.
Menurut Muhammad Ali Syeh Banna, program tersebut merupakan bentuk nyata pelaksanaan pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada pemberian aktivitas selama WBP menjalani masa pidana, tetapi juga mempersiapkan mereka agar memiliki keterampilan produktif sebagai bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.
“Program seperti ini sangat baik karena WBP tidak hanya diberikan kegiatan, tetapi juga keterampilan yang dapat menjadi bekal ketika mereka selesai menjalani masa pidana. Ini adalah proses pembinaan yang memberikan nilai tambah dan membuka peluang bagi mereka untuk mandiri setelah kembali ke masyarakat,” ujar Ali.
Budidaya ayam petelur di Rutan Jogja juga memberikan manfaat ekonomi secara langsung. WBP yang terlibat dalam kegiatan tersebut memperoleh pengalaman dalam berbagai tahapan pengelolaan peternakan, mulai dari perawatan ayam, pemberian pakan, menjaga kebersihan kandang, hingga proses pemanenan dan pengelolaan hasil produksi.
Hasil produksi telur yang diperoleh kemudian dapat memberikan nilai ekonomi bagi keberlangsungan program. Dari hasil penjualan tersebut, WBP yang terlibat mendapatkan premi sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi dan produktivitas mereka dalam kegiatan pembinaan kemandirian.
Premi yang diterima dapat dimanfaatkan WBP untuk memenuhi kebutuhan pribadi selama menjalani pembinaan. Selain itu, sebagian hasilnya juga dapat ditabung maupun diberikan kepada keluarga di rumah, sehingga kegiatan pembinaan kemandirian turut memberikan dampak positif bagi keluarga WBP.
“Ini yang kita harapkan dari program pembinaan kemandirian. WBP mendapatkan keterampilan, kemudian dari keterampilan itu mereka bisa menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai ekonomi. Bahkan hasilnya dapat membantu memenuhi kebutuhan mereka maupun keluarga. Jadi ada proses pembelajaran sekaligus manfaat yang dirasakan secara langsung,” jelas Ali.
Kakanwil menilai model pembinaan seperti budidaya ayam petelur perlu terus dikembangkan dengan memperhatikan aspek keberlanjutan, produktivitas, kualitas hasil, serta peluang pemasaran. Dengan demikian, kegiatan pembinaan kemandirian tidak berhenti pada pelatihan keterampilan, tetapi dapat berkembang menjadi aktivitas produktif yang memiliki nilai ekonomi dan berkelanjutan.
Pengembangan program tersebut juga sejalan dengan komitmen Kanwil Ditjenpas DIY dalam mendukung pelaksanaan 15 Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam mendorong pemajuan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berasal dari hasil karya dan produktivitas WBP.
Ali menegaskan bahwa jajaran pemasyarakatan di DIY akan terus mendorong setiap Unit Pelaksana Teknis (UPT) untuk mengembangkan potensi pembinaan kemandirian sesuai dengan sumber daya, sarana, serta peluang yang dimiliki masing-masing.
“Kita akan terus mendorong UPT untuk mengembangkan pembinaan kemandirian yang produktif. Potensi yang dimiliki WBP harus kita fasilitasi agar menjadi keterampilan dan karya yang memiliki nilai ekonomi. Ini juga menjadi bagian dari upaya kita mendukung 15 Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, termasuk pemajuan UMKM WBP,” tegasnya.
Kakanwil berharap program budidaya ayam petelur di Rutan Jogja dapat terus dikembangkan dan menjadi salah satu contoh keberhasilan pembinaan kemandirian di lingkungan pemasyarakatan DIY. Ke depan, program tersebut diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan keterampilan WBP, tetapi juga memperkuat jiwa kewirausahaan serta memberikan pengalaman kerja yang relevan sebagai bekal menghadapi kehidupan setelah bebas.
Melalui pembinaan yang terarah dan berkelanjutan, pemasyarakatan diharapkan mampu menghadirkan proses pembinaan yang benar-benar memberikan perubahan bagi WBP. Dari kandang ayam petelur, WBP belajar bekerja, bertanggung jawab, menghasilkan, dan mempersiapkan diri untuk kembali menjadi bagian produktif dari masyarakat.
