Konten dari Pengguna

PINAS Muhammadiyah di Unismuh Beri Penghargaan Peserta Terbaik

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Unismuh Makassar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

PINAS Muhammadiyah di Unismuh Beri Penghargaan Peserta Terbaik
zoom-in-whitePerbesar

KABAR UNISMUH, MAKASSAR — Pelatihan Instruktur Nasional (PINAS) Muhammadiyah yang berlangsung selama lima hari di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menetapkan sejumlah peserta terbaik serta penerima penghargaan dalam berbagai kategori. Pengumuman disampaikan pada penutupan kegiatan di Balai Sidang Muktamar, Kampus Unismuh Makassar, Selasa, 29 September 2026.

Dalam pelaksanaan PINAS, Dr Faiz Rafdhi, M.Kom menjadi Master of Training (MoT) PINAS PTMA, sedangkan Dr Iman Sumarlan, SIP, MHI menjadi MoT PINAS KTI atau Persyarikatan Muhammadiyah Regional Indonesia Timur.

Faiz menjelaskan, penilaian peserta tidak hanya didasarkan pada kemampuan kognitif. Aspek afektif, psikomotorik, performa selama proses pelatihan, serta praktik keinstrukturan melalui microtraining juga menjadi bagian dari evaluasi.

Dalam sambutannya, Faiz menyampaikan apresiasi kepada Unismuh Makassar, jajaran pimpinan kampus, PWM Sulawesi Selatan, serta tim instruktur yang mendampingi peserta selama pelatihan.

“Kami sekali lagi mengaturkan terima kasih yang seluas-luasnya, setinggi-tingginya, sebesar-besarnya kepada Unismuh Makassar, khususnya kepada Pak Rektor beserta jajaran, dan juga kepada PWM Sulawesi Selatan yang berkenan menyambut Bapak-Ibu sekalian menjadi peserta pelatihan instruktur,” kata Faiz.

Enam Peserta Terbaik

Pada kategori peserta terbaik utama, kelas Persyarikatan atau KTI menetapkan Salfiah Sanusi sebagai peserta terbaik pertama, Imran sebagai peserta terbaik kedua, dan Siti Rohmanatin Fitriani, S.Th.I., MA., Ph.D. sebagai peserta terbaik ketiga.

Pada kelas PTMA, Dr Muktashim Billah, Lc., M.H. ditetapkan sebagai peserta terbaik pertama, Dr Hadisaputra sebagai peserta terbaik kedua, dan Agusdiwana Suarni, SE., M.Sc.Acc. sebagai peserta terbaik ketiga.

Penetapan peserta terbaik didasarkan pada gabungan penilaian selama proses pelatihan, bukan semata-mata hasil tes tertulis.

Kategori Khusus

Selain enam peserta terbaik, PINAS memberikan penghargaan pada sejumlah kategori khusus.

Untuk kategori terdisiplin, penghargaan diberikan kepada Susiyati dari kelas Persyarikatan dan Dr KH Abbas B. Miro, Lc., M.Ag. dari kelas PTMA.

Kategori teraktif diberikan kepada Dr Yusuf, S.Pd., M.Pd.I. dari kelas Persyarikatan dan Ummi Khaerati Syam dari kelas PTMA.

Untuk kategori terlucu, penghargaan diberikan kepada Muhammad Maulidhin Mattaropura, A.Md.Ku. dari kelas Persyarikatan dan apt. Sulaiman, S.Si., M.Kes. dari kelas PTMA. Kategori ini merupakan penilaian berbasis persepsi peserta terhadap dinamika selama pelatihan.

PINAS juga memberikan penghargaan kepada peserta yang dinilai inspiratif. Pada kelas Persyarikatan, penghargaan diberikan kepada Suwarno, M.Pd., yang dalam laporan MoT disebut mewakili semangat peserta yang datang dari daerah jauh, khususnya Papua.

Sementara itu, pada kelas PTMA, penghargaan diberikan kepada Dr Ir Drs H Muh Tamrin, ST., MM., IPP.

Dengan demikian, terdapat 14 peserta yang menerima apresiasi dalam kategori utama dan kategori khusus selama PINAS, terdiri atas enam peserta terbaik, dua peserta terdisiplin, dua teraktif, dua terlucu, dan dua peserta inspiratif.

Penghargaan Bukan Akhir

Faiz menegaskan, berakhirnya pelatihan bukan berarti tanggung jawab peserta sebagai calon instruktur juga selesai. Mereka masih harus membuktikan hasil pelatihan melalui rencana tindak lanjut di wilayah dan institusi masing-masing.

Saat menerima kembali peserta dari tim instruktur, Faiz menekankan bahwa proses pendampingan tetap berlanjut agar peserta benar-benar berkembang menjadi instruktur yang andal.

“Mandat kami ambil kembali, namun masih ada tugas untuk mengawal RTL di tiap-tiap pelatihan instruktur,” ujar Faiz.

Rencana tindak lanjut itu mencakup kajian Tarjih, perekrutan anggota baru Muhammadiyah, serta pengelolaan perkaderan utama. Untuk peserta PTMA, antara lain ditetapkan kajian Tarjih minimal tiga kali, perekrutan sedikitnya tiga anggota, serta keterlibatan dalam pengelolaan perkaderan. Laporannya harus disampaikan paling lambat Desember 2026.

Faiz secara khusus mengingatkan agar kewajiban tersebut tidak berhenti sebagai catatan setelah peserta kembali ke daerah masing-masing. “Selamat kembali dan juga ditunggu RTL-nya,” katanya.

Ia berharap kebersamaan selama PINAS menjadi bagian dari komitmen yang terus dijaga dalam Persyarikatan.

“Mudah-mudahan kita bertemu kembali di lain waktu yang akan datang. Bersama dengan Muhammadiyah, insya Allah kita yakini bermuhammadiyah merupakan salah satu jalan menuju surga dan rida Allah SWT,” ujar Faiz.

Penghargaan kepada peserta dengan demikian tidak berhenti sebagai capaian individual. Penilaian itu menjadi bagian dari proses pembentukan instruktur, sedangkan ukuran berikutnya terletak pada kemampuan mereka menerjemahkan hasil pelatihan menjadi kerja nyata perkaderan setelah kembali ke daerah dan institusi masing-masing.