Konten dari Pengguna

Seminar Hardiknas 2026, Unismuh Tekankan Etika Sipakatau hingga Sipakalebbi

Kabar Unismuh Makassar

Kabar Unismuh Makassar

Informasi seputar prestasi dan kegiatan kampus Unismuh Makassar

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Unismuh Makassar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Wakil Rektor 1 Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar Prof. Dr. Andi Sukri Syamsuri M.Hum
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Rektor 1 Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar Prof. Dr. Andi Sukri Syamsuri M.Hum

KABAR UNISMUH, MAKASSAR— Guru Besar Linguistik Prof Andi Sukri Syamsuri—yang akrab disapa Prof Andis dan saat ini menjabat Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar—menjadi salah satu pembicara dalam Seminar Nasional Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Surakarta secara daring, Sabtu, 2 Mei 2026.

Mengusung tema “Pendidikan Bermutu untuk Semua: Transformasi Profesionalitas Guru di Era Digital”, forum ini menyoroti peran strategis guru di tengah percepatan digitalisasi pendidikan.

Dalam paparannya, Prof Andis menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis berbanding lurus dengan peningkatan mutu pendidikan. Menurut dia, faktor penentu utama tetap terletak pada kualitas dan profesionalitas guru.

“Teknologi memang memperluas akses, tetapi kualitas pendidikan tetap ditentukan oleh guru yang mampu memanusiakan, merefleksikan, dan memuliakan peserta didik,” ujarnya.

Kearifan Lokal sebagai Fondasi

Prof Andis memperkenalkan nilai kearifan lokal Bugis-Makassar yang dikenal dengan prinsip 3S—Sipakatau, Sipakainge, dan Sipakalebbi—sebagai fondasi etika profesi guru di era digital.

Sipakatau, kata dia, menekankan pentingnya memanusiakan peserta didik dan menghargai martabat setiap individu. Adapun Sipakainge mendorong budaya saling mengingatkan melalui refleksi dan umpan balik. Sementara Sipakalebbi membangun lingkungan belajar yang aman, apresiatif, dan berkeadaban.

Ketiga nilai tersebut, lanjutnya, relevan sebagai “kompas moral” bagi guru dalam menghadapi dinamika pendidikan modern.

Tantangan Global Pendidikan

Dalam kesempatan itu, Prof Andis juga menyoroti tantangan global, termasuk proyeksi kekurangan jutaan guru di dunia hingga 2030. Selain itu, capaian literasi dan numerasi Indonesia dinilai masih tertinggal dibandingkan rata-rata negara maju.

Ia mengingatkan bahwa digitalisasi perlu diarahkan untuk memperkuat proses pembelajaran, bukan sekadar penggunaan teknologi.

“Risikonya, teknologi bisa menjadi distraksi atau bahkan menghilangkan relasi manusiawi dalam pendidikan. Karena itu, teknologi harus menjadi penguat nilai, bukan pengganti peran guru,” katanya.

Model Guru Digital-Humanistik

Prof Andis menawarkan konsep guru digital-humanistik, yakni sosok pendidik yang mampu mengintegrasikan kompetensi teknologi dengan kekuatan relasi dan nilai kemanusiaan.

Menurut dia, profesionalitas guru tidak hanya diukur dari kemampuan teknis, tetapi juga kualitas interaksi, ketepatan keputusan pedagogik, serta tanggung jawab moral terhadap peserta didik.

Ia juga mendorong guru dan calon guru untuk membangun budaya refleksi, praktik berkelanjutan, serta memanfaatkan teknologi untuk mendukung diferensiasi pembelajaran dan penguatan karakter.

Berbasis Nilai dan Budaya

Menutup paparannya, Prof Andi Sukri Syamsuri menegaskan bahwa pendidikan bermutu tidak dapat dilepaskan dari nilai dan budaya.

“Guru sejati di era digital bukan yang paling cepat menggunakan teknologi, tetapi yang paling bijak memanfaatkannya untuk memanusiakan, mengingatkan, dan memuliakan,” tuturnya.

Seminar ini merupakan bagian dari peringatan Hardiknas 2026 yang diikuti mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG), akademisi, serta praktisi pendidikan dari berbagai daerah di Indonesia.