Konten dari Pengguna

Bagaimana Cina dan Indonesia Membangun Kemitraan Hijau

Huo Li

Huo Li

Biz reporter in Beijing. Tracking China's economic pulse & its global ripples.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Huo Li tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto udara pembangunan proyek LRT Jakarta Fase 1B Rute Velondrome-Rawamangun di kawasan Pramuka, Matraman, Jakarta, Selasa (22/7/2025). Foto: Darryl Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Foto udara pembangunan proyek LRT Jakarta Fase 1B Rute Velondrome-Rawamangun di kawasan Pramuka, Matraman, Jakarta, Selasa (22/7/2025). Foto: Darryl Ramadhan/kumparan

Dengan cadangan nikel terbesar di dunia, tenaga kerja muda, serta kebijakan investasi yang semakin membaik, Indonesia menjadi tujuan utama bagi investasi industri dan energi luar negeri Cina.

Data dari Administrasi Umum Bea Cukai Cina menunjukkan bahwa perdagangan bilateral mencapai US$150,3 miliar dalam 11 bulan pertama tahun 2025. Angka ini telah melampaui total perdagangan sepanjang tahun 2024.

Indonesia memprioritaskan strategi yang dikenal sebagai down-streaming. Pendekatan ini memastikan bahan mentah diproses secara lokal, bukan diekspor dalam bentuk mentah. Bagi Cina, Indonesia menawarkan sumber mineral kritis yang andal dan basis manufaktur yang strategis.

Rantai pasok kendaraan listrik (EV) merupakan bidang kerja sama utama. Pada Juni, konsorsium yang dipimpin anak perusahaan raksasa baterai Cina CATL memulai proyek senilai US$6 miliar. Usaha ini mengintegrasikan seluruh proses mulai dari penambangan nikel hingga produksi baterai, dengan target mencukupi daya hingga 300.000 EV setiap tahunnya. Setelah beroperasi penuh, proyek ini diperkirakan menciptakan 8.000 lapangan kerja langsung dan 35.000 tidak langsung.

Permintaan pasar juga terus meningkat. Penjualan kendaraan listrik murni di Indonesia melonjak 267 persen pada paruh pertama 2025, mencapai 35.749 unit. Merek-merek Cina saat ini mendominasi mayoritas penjualan ini.

Demografi menjadi keunggulan lain. Indonesia memiliki usia median di bawah 30 tahun, yang menciptakan basis konsumen besar dan tenaga kerja muda.

Selain itu, untuk menarik investasi asing, pemerintah Indonesia telah secara bertahap menurunkan ambang batas akses pasar dan menyederhanakan prosedur persetujuan dalam beberapa tahun terakhir.

Lebih jauh, Indonesia telah mengamankan kesepakatan perdagangan tarif dengan Amerika Serikat, dengan tarif akhir 19 persen—terendah di antara negara-negara Asia Tenggara sejenisnya. Tingkat tarif yang kompetitif ini menjadikan Indonesia hub ekspor yang menarik.

Kerja sama Cina-Indonesia juga meluas ke sektor energi terbarukan. Saat ini Indonesia masih sangat bergantung pada batu bara, tetapi berencana mencapai emisi nol-bersih pada tahun 2060. Perusahaan-perusahaan Cina mendukung tujuan ini melalui berbagai proyek infrastruktur.

Proyek panas bumi Lumut Balai Tahap II adalah contoh utama. Dikembangkan bersama oleh PowerChina dan perusahaan milik negara Indonesia, pembangkit ini memulai operasi komersial pada Juli. Proyek ini melayani sekitar 80.000 rumah tangga, dan pengurangan emisi karbon dioksida tahunannya setara dengan menanam 12 juta pohon.

Menurut data pemerintah Indonesia, dari tahun 2020 hingga paruh pertama 2025, investasi Cina di Indonesia totalnya mencapai US$35,3 miliar, tumbuh dengan rata-rata tahunan 31 persen. Sebagian besar mengalir ke sektor-seperti energi, manufaktur, logistik, dan teknologi digital—yang sangat penting bagi peningkatan industri Indonesia.

Melampaui perdagangan tradisional, hubungan bilateral kini dicirikan oleh integrasi industri yang mendalam, menawarkan cetak biru nyata bagi kerja sama antara ekonomi berkembang besar di Global South.