Konten dari Pengguna

Promahadesa Universitas Jember Dorong Pemanfaatan Limbah Kopi di Banjarsengon

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hurin Nabilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Diskusi bersama pihak Rumah Kopi Banjarsengon
zoom-in-whitePerbesar
Diskusi bersama pihak Rumah Kopi Banjarsengon

Hamparan perkebunan kopi yang luas membentang di Desa Banjarsengon, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, merupakan salah satu komoditas unggulan yang menjadi penopang kehidupan masyarakat desa. Selain menjadi sumber mata pencaharian para petani, kopi juga berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan karena sebagian besar kopi masih dipasarkan dalam bentuk biji. Adapun hasil samping dari pengolahannya, seperti kulit dan ampas kopi yang seringkali terbuang begitu saja padahal hasil tersebut dapat diolah lebih lanjut menjadi produk yang lebih bernilai.

Melihat adanya kondisi tersebut, diperlukan inovasi yang tidak hanya mampu meningkatkan nilai jual kopi, tetapi juga mendorong diversifikasi produk pangan berbasis kopi serta memanfaatkan hasil samping pengolahannya secara lebih optimal. Pendekatan secara ekonomi sirkular menjadi salah satu solusi yang relevan karena mampu mendorong pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan melalui pengolahan kembali hasil samping menjadi produk yang bernilai ekonomi. Selain itu, keberadaan SMK APHP Al Muttaqin yang memiliki unit praktik produksi roti juga menjadi peluang yang potensial untuk menjalin kolaborasi dalam pengembangan produk berbasis kopi sekaligus mengembangkan kewirausahaan berbasis potensi lokal.

Selain potensi dari sektor pendidikan, Desa Banjarsengon juga memiliki Rumah Kopi Banjarsengon (RKB) yang merupakan salah satu rumah produksi kopi terintegrasi dari hulu hingga hilir. Sebagai pusat pengolahan kopi di desa tersebut, RKB memegang peranan krusial namun sekaligus menghadapi tantangannya tersendiri, khususnya terkait akumulasi limbah padat hasil pengolahan. Keberadaan RKB inilah yang menjadi pelaku utama sekaligus penyedia bahan baku limbah kulit dan ampas kopi yang potensial untuk dimanfaatkan kembali, sehingga mata rantai produksi kopi di desa ini dapat dikelola dengan lebih ramah lingkungan.

Dokumentasi kerja sama dengan mitra SMK APHP Al Muttaqin

Berdasarkan dari berbagai potensi dan tantangan tersebut, Desa Banjarsengon menjadi lokasi pelaksanaan Promahadesa (Program Mahasiswa Berdesa) Universitas Jember 2026. Melalui program yang mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat Desa Banjarsengon melalui Implementasi Circular Economy Berbasis Kopi dan Pemanfaatan Limbahnya”, tim ini berupaya menghadirkan inovasi melalui diversifikasi pangan berbasis kopi yang dapat meningkatkan nilai tambah sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan hasil samping pengolahannya. Sebagai langkah awal, tim yang berada dibawah bimbingan Ibu Dr. Nita Kuswardhani, S.TP., M.Eng ini telah melakukan survei lapangan dan koordinasi bersama para mitra guna mengidentifikasi kebutuhan serta menyusun program yang sesuai dengan kondisi di lapangan. Kegiatan diawali dengan kunjungan ke Rumah Kopi Banjarsengon (RKB) untuk berdiskusi mengenai tantangan yang masih dihadapi, khususnya dalam pemanfaatan limbah kulit. Tim Promahadesa ini juga telah melakukan audiensi dengan pihak SMK APHP Al Muttaqin guna membahas kesiapan sekolah sebagai mitra pelaksana serta mendiskusikan potensi pengembangan unit produksi yang dimiliki.

Tim Promahadesa merancang program komprehensif yang berfokus pada dua kegiatan utama. Pertama, pengembangan roti kopi bersama SMK APHP Al Muttaqin sebagai produk pangan inovatif berbahan kulit kopi untuk memaksimalkan fungsi unit produksi sekolah sebagai sarana pembelajaran kewirausahaan. Kedua, pemanfaatan kulit kopi dari RKB untuk diolah menjadi campuran media baglog jamur tiram, sehingga mampu memberikan nilai ekonomi baru dari limbah yang selama ini terbuang. Melalui program ini, para mitra dan masyarakat sasaran tidak hanya akan memperoleh pelatihan teknis dalam proses produksi, tetapi juga pendampingan mengenai peningkatan mutu produk, pengemasan, hingga strategi pemasaran guna meningkatkan nilai tambah komoditas kopi Desa Banjarsengon.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, Rumah Kopi Banjarsengon (RKB), dan SMK APHP Al Muttaqin, program ini diharapkan mampu memberikan manfaat yang luas dan berkelanjutan. Tidak hanya meningkatkan keterampilan siswa SMK dan kapasitas unit produksi sekolah, tetapi juga dapat mendorong lahirnya inovasi berbasis potensi lokal yang ramah lingkungan. Melalui diversifikasi pangan dan penerapan konsep ekonomi sirkular ini, kopi tidak lagi dipandang hanya sebagai komoditas perkebunan biasa, tetapi juga sebagai sumber inovasi yang mampu menciptakan produk bernilai tambah, membuka peluang usaha baru, serta mendukung pembangunan ekonomi desa yang berkelanjutan.