Influencer Lebih Dipercaya daripada Media Massa: Mengapa Bisa Terjadi?

Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Project Management Perusahaan IT
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Huriyah Salwa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap kali sebuah produk kecantikan atau gawai baru viral, yang menjadi rujukan publik bukan lagi tajuk utama koran, melainkan video sembilan puluh detik seorang creator di Instagram atau TikTok. Fenomena ini bukan kebetulan. Riset YouGov yang dikutip Departemen Komunikasi Universitas Islam Indonesia (2025) menemukan bahwa hampir seluruh pengguna internet di Indonesia mengakui pengaruh influencer nyata dalam keputusan mereka, dan mayoritas mengaku tertarik membeli produk karena rekomendasi para pembuat konten tersebut. Media massa, yang dahulu menjadi rujukan utama informasi publik, kini harus berbagi panggung bahkan kerap kalah bersaing dari sisi jangkauan dan keterikatan emosional audiens dengan sosok-sosok yang tidak pernah menempuh pendidikan jurnalistik.
Mengapa hal ini bisa terjadi, dan benarkah publik benar-benar lebih memercayai influencer ketimbang media massa, ataukah yang sebenarnya terjadi adalah pergeseran cara publik memaknai kepercayaan itu sendiri?
Kedekatan yang Dibangun, Bukan Sekadar Diberitakan
Argumen pertama terletak pada relasi yang dibangun influencer dengan audiensnya. Berbeda dari media massa yang berbicara dari posisi institusional dan berjarak, influencer berkomunikasi dalam bahasa sehari-hari, memperlihatkan sisi personal, bahkan kerentanan, sehingga memunculkan apa yang oleh ahli komunikasi disebut sebagai relasi parasosial: pengikut merasa mengenal sang kreator secara personal, seolah berbicara dengan teman, bukan menerima informasi dari sebuah lembaga. Kedekatan semacam ini menghasilkan bentuk kepercayaan yang berbeda dari kepercayaan terhadap institusi kepercayaan yang berbasis afeksi dan keakraban, bukan semata verifikasi fakta.
Algoritma Memilih Emosi, Bukan Akurasi
Argumen kedua adalah logika algoritma media sosial itu sendiri. Platform digital dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna, dan konten yang personal, ringkas, serta emosional terbukti jauh lebih mudah viral dibandingkan laporan panjang yang berimbang dan penuh verifikasi. Ironisnya, data Reuters Institute Digital News Report (2021) justru menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan publik Indonesia terhadap berita di media sosial hanya sekitar 31 persen, lebih rendah dibandingkan kepercayaan terhadap berita secara umum yang mencapai 39 persen. Artinya, tingginya konsumsi konten influencer di media sosial tidak selalu berbanding lurus dengan tingginya kepercayaan terhadap akurasi informasi yang disampaikan. Publik mengonsumsi, tetapi tidak selalu meyakini kebenarannya. Contoh nyata terlihat pada isu kesehatan atau kebijakan publik: potongan video singkat dari seorang kreator sering kali lebih cepat tersebar dan dibicarakan warganet daripada laporan investigatif media arus utama tentang topik yang sama, meski isi laporan itu jauh lebih terverifikasi.
Paradoks Kepercayaan: Dikonsumsi tetapi Diragukan
Di sinilah letak analisis yang perlu diluruskan. Survei Ipsos Global Trustworthiness Index 2024 justru menempatkan jurnalis sebagai profesi paling dipercaya di Indonesia, dengan tingkat kepercayaan tertinggi di dunia untuk profesi tersebut, sementara tingkat ketidakpercayaan terhadap influencer tercatat di angka yang tidak kecil. Dengan kata lain, yang terjadi bukanlah media massa kehilangan kredibilitas secara mutlak, melainkan pergeseran preferensi konsumsi: publik memilih influencer karena kenyamanan, kecepatan, dan kedekatan emosional, bukan semata-mata karena menilai mereka lebih akurat. Fenomena ini selaras dengan konsep framing dan agenda setting dalam kajian opini publik ketika gatekeeper informasi bergeser dari redaksi media ke algoritma dan personal branding kreator, arah wacana publik pun ikut bergeser, sering kali menuju ruang gema (echo chamber) yang menegaskan preferensi yang sudah ada ketimbang menantangnya dengan sudut pandang baru.
Media Massa Perlu Merebut Kembali Kedekatan
Fenomena ini semestinya menjadi refleksi, bukan alasan untuk menyerah pada logika algoritma. Media massa perlu belajar dari kekuatan utama influencer, yakni kedekatan dan keaslian penyampaian, tanpa mengorbankan standar verifikasi dan keberimbangan yang menjadi ruh jurnalisme. Kolaborasi dengan kreator konten yang kredibel, transparansi proses peliputan, serta format penyajian yang lebih manusiawi dapat menjadi jembatan. Di sisi lain, publik juga perlu ditingkatkan literasi digitalnya agar mampu membedakan antara konten yang menghibur dan meyakinkan secara personal, dengan informasi yang telah melalui proses verifikasi jurnalistik. Kepercayaan publik pada akhirnya bukan soal siapa yang paling dekat secara emosional, melainkan siapa yang paling bertanggung jawab atas kebenaran informasi yang disebarkannya dan itu adalah pekerjaan rumah bersama, bagi media massa maupun bagi setiap warganet yang kini juga berperan sebagai penyebar informasi. Selama media massa mampu menghadirkan keterbukaan dan kedekatan tanpa mengorbankan akurasi, dan selama publik terus dilatih untuk bertanya 'dari mana sumber informasi ini' sebelum mempercayainya, ruang publik digital masih punya peluang untuk menjadi lebih sehat, bukan sekadar lebih ramai.
#MediaMassa #Influencer #LiterasiDigital #OpiniPublik #Jurnalisme #KepercayaanPublik
