Opini & Cerita
·
4 Oktober 2020 19:21

Ben Chilwell dan Mimpi The Blues

Konten ini diproduksi oleh Husain Abdullah
Ben Chilwell dan Mimpi The Blues   (289368)
Ben Chilwell saat bela Leicester City. Foto: Andy Rain/Pool via REUTERS
Gol Ben Chilwell yang merobek jala Crystal Palace bukan sembarang gol. Gol itu pembuktian kualitasnya sekaligus membenarkan pembeliannya ke Chelsea sebagai pilihan tepat. Gol Chilwell memecah kebuntuan setelah Chelsea bermain kaca mata pada babak pertama melawan Crystal Palace, gol perdana Chilwell membawa fans Chelsea ke mimpi indah akan kembalinya sosok Ashley Cole di Stamford Bridge yang sudah lama menghilang dari gegap gempita permainan The Blues.
ADVERTISEMENT
Saat membukukan gol, Ben Chilwell menunjukkan intelegensianya dalam bermain; timing dan pengambilan posisinya membuat jarak dari kerumunan pertahanan lawan , lalu muncul dengan kekuatan penuh merobek sisi kiri gawang Vicente Guaita, sungguh memperdaya barisan belakang The Eagle yang siang itu sibuk memperketat pengawalan Tammy Abraham dan Kai Havertz.
Sejak menit awal Chilwell bukan saja mempertontonkan kemahirannya sebagai bek kiri, tetapi juga daya jelajah serta mobilitasnya yang tinggi. Tidak heran jika Lampard memberinya tugas ekstra selaku eksekutor sepak pojok baik dari kanan maupun sektor kiri pertahanan lawan.
Dengan memplot Chilwell sebagai spesialis tendangan sudut, Lampard membuka ruang untuk Werner agar leluasa mengisi ruang yang ditinggal Chilwell, demikian dengan Havertz dan Hudson Odoi. Pemain pemain berpostur jangkung ini, punya kesempatan memanfaatkan service sepak pojok dari Chilwell. Tammy sendiri sekali dua kali mendapat assist Chilwell sebelum frustrasi dan terlibat insiden rebutan tendangan penalti.
ADVERTISEMENT
Sejatinya Ben Chilwell harus kerja keras dengan tugas ini, sebab usai mengeksekusi sepak pojok di sektor kiri pertahanan lawan, ia harus merotasi diri kembali ke posisi aslinya sebagai bek kiri (areal permainannya, di sektor kanan pertahanan lawan). Tugas ini sebenarnya terbilang berat, tetapi melihat performa Chilwell melakoni peran tersebut saat menjamu Crystal Palace, sepertinya bukan masalah bagi dia. Ben Chilwell tampak menikmati lakon tersebut, ia berlari ringan bagai angin kembali ke posisinya setelah mengambil sepak pojok, sambil menanti bola bola rebound untuk dikonversi menjadi umpan.
Frank Lampard sendiri bukan tanpa beban dengan pilihan strateginya itu. Mantan gelandang Chelsea ini harus memastikan orang yang ditunjuknya mengisi pos Ben Chilwell saat ia menjalankan misi sebagai eksekutor sepak pojok. Apalagi saat bola bola mati seperti itu, Zouma dkk sering kali ditugaskan memenuhi kotak 16 lawan dan menyisakan Kante di lini belakangnya mengawal Mendey. Situasi ini perlu otomatisasi pergerakan yang cepat saat Chelsea kalah bola. Ketika lambat diantisipasi, malapetaka mengintai Chelsea, karena serangan balik lawan pastinya akan menyasar titik titik rawan.
ADVERTISEMENT