KRL dan Perjuangan Menembus Jam Sibuk

Mahasiswi Politeknik Negeri Media Kreatif semester 5
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Husnul Fahima tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perjuangan Mahasiswa Menjalani Rutinitas dengan KRL Setiap Hari
JAKARTA — Bagi Siti Sofi, KRL menjadi salah satu transportasi yang diandalkan untuk menuju kampus setiap hari. Ia berangkat dari kawasan Walikota Jakarta Timur sekitar pukul 05.00–05.15 WIB dan menempuh perjalanan sekitar dua jam hingga tiba di kampus di Jakarta Selatan.
Bertarung dengan Waktu dan Kepadatan Fajar
Sofi biasanya sudah melangkahkan kaki keluar rumah sekitar pukul 05.00–05.15 WIB demi menghindari keterlambatan kelas pagi. Keputusannya untuk berangkat lebih awal bukan tanpa alasan; kondisi stasiun dan gerbong kereta akan membludak hebat seiring mendekati jam kerja.
Tantangan serupa kembali menanti saat jam pulang perkuliahan bertepatan dengan jam pulang kantor. Berdesakan di tengah himpitan penumpang lain tak ayal menguras sisa-sisa energi fisik dan mentalnya setelah seharian belajar.
“Selain kesiapan fisik buat berdesakan, ketenangan mental yang cukup juga sangat diperlukan,” tutur Sofi.
Bagi Sofi, fase paling melelahkan berada pada momen transit atau berpindah moda transportasi. Setelah bersabar melewati hiruk-pikuk Stasiun Cakung dan Manggarai, ia masih harus melanjutkan perjalanan hingga Stasiun Universitas Pancasila sebelum akhirnya menyambung transportasi lokal menuju kampus.
Bertahan Pulang-Pergi demi Keluarga
Melihat jarak tempuh yang begitu menguras tenaga, tinggal di rumah kos tentu menjadi opsi yang jauh lebih ideal dan praktis. Namun, untuk saat ini Sofi mantap memilih untuk tetap tinggal bersama orang tuanya.
“Karena keadaan. Jika bukan karena keadaan, saya juga mau ngekos,” ungkapnya jujur.
Keterbatasan finansial serta pertimbangan kebersamaan dengan keluarga menjadi alasan utama Sofi terus melakoni rutinitas berat ini. Di sela-sela waktu menunggu kedatangan kereta atau angkutan, ia kerap memanfaatkan momen singkat tersebut sekadar untuk mengistirahatkan pikiran dan mengambil jeda sejenak dari keletihan.
Saat ditanya mengenai pendorong terbesar yang membuatnya tetap bertahan melintasi separuh Jakarta setiap hari, Sofi menjawab ringkas namun bermakna mendalam: “Keluarga.”
Bagi Sofi, menuntut ilmu bukan cuma soal duduk mendengarkan kuliah di dalam kelas. Ada tumpuhan waktu, keringat, dan kesabaran panjang yang harus ia siapkan sejak melangkahkan kaki dari ambang pintu rumah. Meski melelahkan, semua langkah itu tetap ia jalani dengan lapang dada demi masa depan dan keluarga tercinta.
