Dari Penataan Jalur Pejalan Kaki Menuju Destinasi Wisata Berkelas Dunia
Tulisan dari Hyldan Natawiguna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Berawal dari keresahan sebagai pejalan kaki yang hak-hak nya terenggut dan bermuara pada penelitian berjudul "Rethinking the 15-Minute City for Tourists: A Spatial Accessibility Analysis of Urban Tourism Amenities in Bandung, Indonesia.", kami mencoba membuktikan semerawutnya aksesibilitas pejalan kaki di Kota Bandung melalui pendekatan yang mungkin lebih mudah dipahami oleh banyak pihak.
Jalur pedestrian yang seharusnya mulus tanpa hambatan menjadi sebuah labirin yang berliku-liku. Hal ini menyebabkan jarak 5 menit pada peta menjadi jarak "tidak diketahui secara pasti waktunya" di dunia nyata. Jika ingin berkaca pada bagaimana negara maju memperlakukan para pejalan kaki, kota-kota besar ramah wisatawan akan merancang rute pejalan kaki yang bebas hambatan, pedestrian di pusat kota akan dibuat terbebas dari konflik "perebutan ruang", indah secara visual, dan nyaman secara struktur. Bahkan dibeberapa tempat, jalan kendaraan menyesuaikan tingginya dengan pedestrian agar pejalan kaki yang menggunakan jalur pedestrian tidak seperti ninja hatori yang mendaki gunung dan melewati lembah.

Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Pendidikan Indonesia ini membuka wawasan baru yang sangat masuk akal jika dijadikan landasan perubahan pada kebijakan tata kota terutama dalam hal memperbaiki aksesibilitas bagi pejalan kaki.
Berangkat dari konsep "15-Minute City" yang banyak diterapkan sebagai landasan awal penataan kota. Konsep ini mengedepankan akses sarana dan prasarana publik dapat diakses oleh setiap orang yang membutuhkan dalam waktu 15 menit saja. Biasanya konsep ini memilih masyarakat setempat sebagai ujung tombak analisis. Akan tetapi, tidak ada salahnya kami mencoba merubah sudut pandang ke wisatawan yang secara perilaku keseharian cukup berbeda dengan masyarakat lokal.
Pembeda paling utama dari masyarakat lokal dan wisatawan adalah aktivitasnya. Masyarakat lokal melakukan rutinitas atau kegiatan yang relatif berulang dalam kehidupan sehari-harinya, bisa jadi untuk bekerja, sekolah, berdagang, dan sebagainya. Hal ini memungkinkan masyarakat memiliki preferensi rute perjalanan yang sama setiap harinya. Berbeda dari wisatawan yang biasanya terikat oleh keterbatasan waktu dalam melakukan aktivitas di sebuah tempat, mereka lebih cenderung memilih rute yang acak dan eksploratif mengikuti minat dan keinginan masing-masing.
Studi ini memilih Alun-Alun Kota Bandung sebagai pusat atau titik awal analisis kemudian dilakukan modeling (simulasi) berjalan kaki selama 5 hingga 15 menit. Simulasi ini menghasilkan radius atau cakupan tertentu yang dijadikan lokus analisis. Pada radius tersebut ditempatkan lapisan data pendukung untuk melihat Fasilitas Turis (Amenities) yang diambil dari perpustakaan data OSMNx dan NetworkX.
Singkat cerita, dari seluruh data amenitas yang telah diambil, 204 unit diantaranya adalah Primary Amenities yang berupa Heritage and Commercial Stores, disusul oleh Secondary Amenities yang berupa Hotel dan Tempat Makan sebanyak 28 unit, dan Layanan Kesehatan berupa Klinik dan Rumah Sakit sebanyak 5 unit. Apakah sudah bagus? dari temuan data ini ternyata tidak terdeteksi adanya Supportive Amenities yang berupa Toilet dan Pusat Informasi pada radius tersebut. Data ini menunjukan bahwa daya tarik wisata yang ada pada radius tersebut tidak berimbang, sangat minim sarana dan prasarana pendukung dasar bagi wisatawan.
Hyper-Commercialization mungkin menjadi sebuah kata yang tepat menggambarkan kondisi ini. Secara agresif terjadi perubahan fungsi ruang untuk perputaran ekonomi jangka pendek. Lalu apa hubungannya dengan pejalan kaki? Kondisi ini memicu "perebutan ruang" pejalan kaki dengan aktivitas pendukung komersial baik secara legal maupun ilegal termasuk ruang yang seharusnya digunakan untuk jalur pedestrian. Di jalur pedestrian, pejalan kaki akan berhadapan dengan banyak hal seperti pedagang kaki lima (PKL), parkir ilegal, degradasi permukaan, dan konektivitas yang terfragmentasi. Bahkan tidak jarang pejalan kaki menghadapi rambu-rambu kota yang penempatannya mungkin tidak sesuai.
Jadi penataan jalur pedestrian mungkin bisa menjadi tahap awal dalam meningkatkan daya kompetisi Kota Bandung sebagai destinasi wisata berkelas dunia. Karena sebuah kota tidak dapat menjadi destinasi kelas dunia jika kebutuhan orang yang berjalan diatasnya tidak diperhatikan dengan baik.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Ketua Tim Peneliti yaitu Armandha Redo Pratama sebagai Dosen Manajemen Resort dan Leisure, anggota peneliti Purna Hindayani sebagai Dosen Manajemen Industri Katering, dan Agam Julian Permana, Juan Desebennet Citrawang, Nasya Lutfianis, Raffa Fahrezy Suryanay, Shania Siti Nur Zharifa sebagai Mahasiswa yang membantu penelitian.
Semoga cerita ini bisa menjadi refleksi bersama demi membangun Indonesia yang lebih baik, salam. Hyldan Natawiguna

