Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Saat Air Jadi Barang Mewah: Kisah Nyata dari Indonesia yang Haus
1 April 2025 8:56 WIB
·
waktu baca 4 menitTulisan dari I Gusti Ngurah Krisna Dana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Indonesia dikenal sebagai negeri yang subur, tempat hujan turun nyaris sepanjang tahun dan sungai mengalir dari pegunungan ke lautan. Di atas kertas, kita seharusnya tak kekurangan air. Namun kenyataan di lapangan justru menunjukkan paradoks yang menyakitkan: ada banyak tempat di negeri ini di mana air bersih lebih sulit didapatkan ketimbang pulsa telepon. Sebuah ironi di tengah kekayaan alam yang melimpah.
ADVERTISEMENT
Sebut saja Gunung Kidul, sebuah kabupaten di selatan Yogyakarta yang setiap musim kemarau berubah seperti wilayah tandus. Di sana, cerita tentang orang-orang yang berjalan berkilo-kilometer hanya untuk mendapatkan sejerigen air bukanlah mitos. Itu adalah kenyataan yang dihadapi masyarakat saban tahun. Saya masih ingat betul sebuah liputan televisi yang menampilkan ibu-ibu desa rela antre sejak dini hari menunggu truk tangki datang membawa air bersih. Kadang-kadang mereka pulang dengan tangan kosong, karena air habis sebelum giliran tiba.
Penelitian dari Universitas Gadjah Mada menyebutkan bahwa kontur tanah karst di wilayah itu tidak mampu menampung air dalam waktu lama, sehingga air hujan yang turun cepat meresap ke dalam bumi tanpa sempat digunakan warga (Wardhana, 2016). Teknologi seperti embung atau sumur resapan memang sudah mulai dibangun, tetapi dampaknya masih jauh dari merata. Di Gunung Kidul, air bukan sekadar kebutuhan—ia adalah perjuangan.
ADVERTISEMENT
Namun kekeringan bukan cuma cerita dari pelosok. Bahkan ibu kota negara pun pernah—dan masih—berjuang dengan krisis airnya sendiri. Jakarta, kota megapolitan dengan gedung pencakar langit dan pusat bisnis internasional, ternyata memiliki paradoks air yang lebih kompleks. Sebagian besar warganya, terutama di pinggiran kota, masih bergantung pada air tanah. Masalahnya, pengambilan air tanah secara masif ini membuat permukaan tanah terus menurun. Akibatnya, Jakarta perlahan tenggelam, bukan hanya karena kenaikan air laut, tapi juga karena kerakusannya sendiri terhadap sumber air bawah tanah.
Data dari Kementerian PUPR menunjukkan bahwa lebih dari separuh penduduk Jakarta belum terlayani oleh air perpipaan, yang artinya mereka harus mencari alternatif sendiri, entah melalui sumur bor, air isi ulang, atau membeli dari pedagang keliling (PUPR, 2020). Sementara itu, sungai-sungai yang melintasi kota sudah lama tak bisa diandalkan karena tercemar limbah rumah tangga dan industri.
ADVERTISEMENT
Krisis air pun merambah ke pulau yang selama ini dianggap surga dunia: Bali. Pulau yang dipuja karena keindahan alamnya itu, dalam beberapa tahun terakhir, justru sedang sekarat dari dalam. Mata air yang dulu menjadi sumber kehidupan di kaki gunung dan hutan kini banyak yang mengering. Laporan dari IDEP Foundation pada 2022 mencatat bahwa lebih dari 60% mata air di Bali telah mati dalam dua dekade terakhir. Di balik hotel-hotel megah dan kolam renang mewah, ada warga desa yang harus berbagi air dengan hewan ternak dan tanaman mereka.
Masalahnya bukan semata karena cuaca kering. Pembangunan tak terkendali, perambahan hutan, dan ledakan pariwisata telah membuat permintaan air meningkat tajam, tanpa diiringi dengan upaya konservasi yang memadai. Ironisnya, air lebih mudah ditemukan di kawasan resort ketimbang di rumah-rumah warga lokal.
ADVERTISEMENT
Krisis air yang terjadi di berbagai tempat di Indonesia ini bukan hanya soal alam yang tak bersahabat. Ia adalah cerminan dari kelalaian manusia dalam mengelola anugerah. Kita terlalu lama merasa bahwa air akan selalu ada, bahwa hujan akan selalu datang, dan bahwa sungai akan terus mengalir. Kita membangun tanpa memikirkan lingkungan, mengambil tanpa mengembalikan, dan memakai tanpa memelihara.
Padahal, air bukan sekadar sumber kehidupan; ia adalah ukuran keadilan. Ketika segelintir orang bisa mandi dengan air hangat di bathtub hotel, sementara ribuan orang lain antre membawa jerigen di bawah terik matahari, maka ada yang salah dalam sistem kita. Bukan hanya infrastruktur yang bolong, tapi juga kesadaran kolektif kita sebagai bangsa.
Air seharusnya bukan barang dagangan, bukan pula hak istimewa. Ia adalah hak dasar, bagian dari hak hidup manusia. Jika kita tidak belajar dari kisah-kisah krisis yang pernah terjadi di Gunung Kidul, Jakarta, Bali, dan banyak tempat lain, maka kita sedang menggali lubang menuju bencana ekologis yang lebih besar.
ADVERTISEMENT
Sudah saatnya kita berhenti memandang air sebagai sesuatu yang remeh. Kisah-kisah krisis ini harus menjadi peringatan, bukan sekadar berita singkat yang lalu hilang dari ingatan. Karena jika tidak, bukan tidak mungkin suatu hari nanti, kita akan menyaksikan generasi kita sendiri yang hidup dalam kekeringan—di negeri yang konon kaya akan air.