• 9

USER STORY

Tanzania dan Pernak-perniknya

Tanzania dan Pernak-perniknya


Tanzania Map Flag

Ilustrasi Tanzania Map Flag (Foto: Wikimedia Commons)
Mungkin tidak pernah terbayang dalam hidup saya bahwa suatu saat akan tinggal di benua Afrika, benua yang bagi sebagian orang, terkenal miskin, kotor, dan semrawut. Namun, ternyata jalan hidup berkata lain. Pertengahan tahun 2013, pimpinan memanggil saya dan menyampaikan kabar bahwa saya akan ditugaskan ke Dar es Salaam, Ibu kota negara Tanzania yang terletak di Afrika Timur.
Memang Afrika bukanlah negara yang sangat asing bagi saya karena pada tahun 2008 saya juga pernah bertugas di Nairobi, Kenya selama 3 bulan, namun kali ini berbeda, saya akan ditugaskan selama 3 tahun di Afrika. Sempat terpikir untuk menolak penugasan tersebut, namun hati kecil berkata lain dan mengingat kami sudah berjanji untuk bersedia bertugas di manapun.
Akhirnya pada bulan November 2013 saya berangkat seorang diri ke Dar es Salaam, dengan diantar oleh orang tua, kakak, adik, dan mantan pacar (mantan, karena sekarang sudah menjadi istri, hehehe). Setelah sekitar 15 jam penerbangan dengan transit, tibalah saya dan rekan-rekan diplomat di Dar es Salaam, kami dijemput oleh staf kantor dan segera diantar ke hotel tempat kami tinggal sementara, sebelum rumah dinas selesai dipersiapkan.
Pengalaman seminggu saya bekerja di Dar es Salaam cukup menarik, waktu itu saya menyempatkan diri untuk lari pagi bersama dua orang rekan saya, satu orang rekan merupakan orang yang sudah tinggal selama 25 tahun Dar es Salaam, untuk itu dia ingin mengajak saya berkeliling melewati Istana Presiden.

Dar es Salaam, Ibu kota Tanzania

Dar es Salaam, Ibu kota Tanzania (Foto: Wikimedia Commons)
Sesampainya di sekitar Istana Presiden, kami melihat ada seekor Wildebeest di dalam pekarangan Istana Presiden, sebagai 'anak baru' saya spontan mengambil ponsel dan segera mengabadikan keberadaan binatang tersebut. Namun, tidak selang beberapa lama ada orang lokal yang seolah berteriak ke arah saya dan ingin memberitahukan sesuatu, karena tidak mengerti bahasa setempat saya acuhkan saja dan segera melanjutkan perjalanan.
Sesaat ketika saya melangkahkan kaki, tiba-tiba datang seorang polisi berseragam, lengkap dengan tongkat komandonya menghampiri dan langsung meminta saya untuk menunjukkan ponsel saya. Polisi itu kemudian menyampaikan bahwa di sekitar Istana Presiden dilarang untuk mengambil foto dan seketika itu juga polisi meminta saya untuk ikut dengannya ke pos polisi terdekat.
Tadinya polisi tersebut berniat untuk menyita ponsel saya, namun setelah berdebat panjang, polisi itu kemudian setuju untuk mengembalikan ponsel saya dengan syarat agar foto yang tadi diambil harus dihapus, dan selain itu tidak lupa ia meminta sedikit 'uang rokok', iya, uang rokok.
Di sana Polisi masih terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Agar tidak menjadi semakin lama, akhirnya saya setuju dengan persyaratannya. Dengan menyelipkan beberapa lembar uang setempat akhirnya ponsel saya dikembalikan tanpa saya harus menghapus foto tersebut.
Sebagai bayangan pembaca, yang mungkin belum berkesempatan untuk mengunjungi Tanzania, kota Dar es Salaam, tempat saya bertugas di tahun 2013 mungkin dapat dikatakan kondisinya seperti kota Jakarta tahun 80-an. Memang sudah ada bangunan modern di beberapa tempat, namun masih sangat sedikit dan letaknya berjauhan.
Banyak orang mungkin mengira bahwa kota seperti Dar es Salaam dan kota lainnya di Afrika adalah kumuh, menyeramkan, dan tidak layak dikunjungi. Namun jangan salah, Dar es Salaam merupakan salah satu kota teraman di Afrika Timur, dan hal itu saya alami sendiri.
Kota teraman di sini bukan berarti tidak ada kejahatan sama sekali, namun sebagai negara yang termasuk negara miskin dan gap antara yang kaya dan miskin cukup jauh, kriminalitas di Dar es Salaam bisa dibilang tidak terlalu mengkhawatirkan.

Salah satu sisi Kota Dar es Salaam, Sumber: Koleksi foto Pribadi
Unik memang tinggal di negara orang yang sangat berbeda budaya dan kebiasaan, kalau di sini kita harus bersabar di segala hal, karena salah satu motto mereka adalah 'no hurry in Africa' dan motto ini sepertinya dijalankan dengan baik oleh penduduknya.
Sebagai contoh apabila kita memesan makanan di restoran kita harus sabar menunggu makanan datang, karena kita bisa menunggu 30 menit atau lebih untuk menunggu makanan datang, dan belum lagi kalau mereka salah dalam menyiapkan makanan kita walaupun sudah dicatat.
Di Dar es Salaam juga sepertinya tidak mengenal istilah 'pembeli adalah raja', karena tidak sedikit dari para pedagang sangat cuek terhadap konsumen, seakan mereka tidak membutuhkannya.
Namun terlepas dari itu, penduduk lokal di sana ramah dan sangat gemar menyapa, terutama kepada orang asing. Hal ini merupakan salah satu daya tarik dari Tanzania.
Tanzania juga memiliki tempat wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi terutama oleh para petualang, di antaranya adalah Gunung Kilimanjaro (gunung tertinggi di Afrika 5.895 mdpl), Taman Nasional Serengeti, Taman Nasional Ngoro-ngoro, Pulau Zanzibar, dan masih banyak lagi.

Gunung Kilimanjaro, Sumber: Koleksi Foto Pribadi

Salah satu resort di Pulau Zanzibar, Sumber Koleksi Foto Pribadi

Sunset di Pulau Zanzibar, Sumber: Koleksi Foto Pribadi
Saya berkesempatan mengunjungi objek-objek wisata tersebut, kecuali Taman Nasional Serengeti. Menurut saya, tempat-tempat tersebut sangat layak dikunjungi, walaupun Pemerintah Tanzania harus banyak berbenah dalam hal melakukan pemeliharaan terhadap objek-objek wisata tersebut.
Dari pengalaman ini, bagi saya ada satu hal penting dalam hidup yang dapat diambil, yaitu janganlah terus menerus membandingkan Indonesia dengan negara-negara maju di Eropa atau Amerika, namun sesekali bandingkanlah Indonesia dengan negara seperti Tanzania dan negara lainnya yang masih tergolong dalam negara “least developed country”. Niscaya kau akan bersyukur dan berbahagia menjadi orang Indonesia.


Diklat KemluAfrikaTravel

presentation
500

Baca Lainnya