Konten dari Pengguna

Dinamika Luas Hutan Bambu di Dunia

Dr I Putu Gede P Damayanto

Dr I Putu Gede P Damayanto

Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dr I Putu Gede P Damayanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

I Putu Gede P. Damayanto

Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, Badan Riset dan Inovasi Nasional

Bambu adalah tumbuhan anggota suku Poaceae (rumput-rumputan) yang termasuk dalam anak suku Bambusoideae. Meskipun sering dianggap seperti pohon karena memiliki buluh (batang) yang keras dan tumbuh menjulang, secara ilmiah bambu lebih dekat kekerabatannya dengan rumput-rumputan. Terdapat dua kelompok utama bambu, yaitu bambu berkayu (woody bamboos) yang umumnya berukuran besar dan memiliki buluh berkayu, serta bambu herba (herbaceous bamboos) yang lebih kecil dan lunak. Bambu memiliki beragam manfaat, antara lain sebagai bahan bangunan, pangan, bahan tekstil, kerajinan tangan, serta solusi ekologis dalam rehabilitasi lahan dan mitigasi perubahan iklim. Selain itu, bambu juga memiliki nilai budaya yang tinggi dalam berbagai tradisi masyarakat di seluruh dunia.

Bambu tumbuh di berbagai belahan dunia, terutama di wilayah tropis dan subtropis seperti Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Selain dibudidayakan, bambu juga dapat tumbuh secara liar di alam, baik di hutan campuran maupun di hutan yang didominasi oleh bambu. Hutan bambu umumnya terdiri dari satu atau beberapa spesies yang mendominasi, seperti hutan bambu di wilayah Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, didominasi oleh bambu duri (Bambusa spinosa) atau hutan bambu di Desa Wisata Penglipuran, Bangli, Bali.

Tegakan bambu duri (Bambusa spinosa) di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Indonesia (Foto: I Putu Gede P. Damayanto).

Hutan bambu memiliki peran yang sangat penting karena bambu merupakan sumber daya alam yang serbaguna dan berkelanjutan di berbagai sektor kehidupan. Selain dimanfaatkan dalam sektor ekonomi, seperti konstruksi, tekstil, pangan, hingga bioenergi, hutan bambu juga berkontribusi besar dalam mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon yang tinggi, serta mendukung pelestarian keanekaragaman hayati sebagai habitat bagi berbagai spesies hewan. Namun, untuk mengoptimalkan potensi ini, para pemangku kepentingan perlu memahami dan memiliki data yang akurat mengenai luasan hutan bambu di wilayah kerja mereka. Informasi mengenai luas hutan bambu sangat penting sebagai dasar pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, perencanaan tata ruang, dan pengambilan kebijakan pembangunan yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Dengan memantau tren perubahan luas hutan bambu, kita dapat mengidentifikasi wilayah yang membutuhkan perlindungan atau pengembangan, mencegah degradasi lahan, mendukung ketahanan pangan, serta mendorong kolaborasi internasional dan penelitian ilmiah guna memastikan pengelolaan yang efektif terhadap sumber daya hutan bambu ini.

Hutan bambu di Desa Penglipuran, Bangli, Bali, Indonesia (Foto: I Putu Gede P. Damayanto).

Data mengenai luas hutan bambu dari berbagai negara dan benua menunjukkan dinamika yang signifikan selama lebih dari tiga dekade terakhir. Informasi dari berbagai sumber (lihat Tabel 1) memberikan gambaran komprehensif tentang tren perubahan luasan hutan bambu secara global.

Tabel 1. Luas hutan bambu di dunia (dalam 1000 ha).

Asia tercatat sebagai wilayah dengan luas hutan bambu terbesar di dunia, dengan kontribusi utama dari negara-negara seperti Tiongkok, India, dan Vietnam. Secara keseluruhan, luas hutan bambu global mengalami peningkatan dari 29,522 juta ha pada tahun 1990 hingga mencapai puncaknya sebesar 36,777 juta ha pada tahun 2005 menurut Lobovikov et al. (2007). Namun, setelah itu terjadi fluktuasi dan penurunan. Pada tahun 2020, luasnya tercatat sebesar 35,040 juta ha, sedikit menurun menjadi 35,000 juta ha pada tahun 2022, dan turun drastis menjadi 22,000 juta ha pada tahun 2023 menurut Yu et al. (2023), yang kemungkinan besar disebabkan oleh perbedaan metode estimasi atau keterbatasan cakupan data.

Tiongkok mengalami peningkatan luas hutan bambu yang signifikan, dari 3,856 juta ha pada tahun 1990 menjadi 6,4116 juta ha pada tahun 2023, menjadikannya negara dengan hutan bambu terluas di dunia. Sementara itu, India menunjukkan lonjakan tajam dari 5,232 juta ha pada tahun 2000 menjadi 11,361 juta ha pada tahun 2005, meskipun angkanya kemudian cenderung stabil. Negara-negara Asia lainnya, seperti Malaysia dan Myanmar, menunjukkan tren perluasan hutan bambu yang relatif positif. Malaysia, misalnya, mengalami peningkatan luas hutan bambu dari 0,422 juta ha pada tahun 1990 menjadi 0,8042 juta ha pada tahun 2018. Myanmar juga menunjukkan pertumbuhan serupa, dari 0,859 juta ha menjadi lebih dari 1 juta ha pada tahun 2018. Sebaliknya, Vietnam mengalami penurunan signifikan, dari 1,547 juta ha pada tahun 1990 menjadi hanya 0,813 juta ha pada tahun 2005.

Data mengenai luas hutan bambu di Indonesia menunjukkan variasi yang cukup mencolok dan tampaknya belum konsisten. Berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO) atau dalam bahasa Indonesia, Organisasi Pangan dan Pertanian (1990–2010), luas hutan bambu di Indonesia hanya tercatat sebesar 1000 ha. Namun, menurut laporan Lobovikov et al. (2007), angka tersebut jauh lebih besar, yaitu mencapai 2,081 juta ha. Sementara itu, pada tahun 2018, data dari Du et al. (2018) menunjukkan angka 0 ha. Perbedaan yang cukup ekstrem ini kemungkinan disebabkan oleh adanya kesenjangan dalam survei, serta perbedaan sumber data atau metode estimasi yang digunakan.

Perlu dicatat bahwa studi oleh Du et al. (2018) merupakan pemetaan persebaran hutan bambu global berbasis data penginderaan jauh multisumber (multisource remote sensing), yang tentu memiliki keterbatasan dalam pemodelannya. Namun demikian, penelitian oleh Du et al. (2018) menggunakan data FAO sebagai pembanding untuk menguji akurasi model yang digunakan, dan hasilnya menunjukkan tingkat kecocokan yang cukup baik dengan data FAO (2010). Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana suatu data dihasilkan atau diestimasi sebelum digunakan sebagai dasar kebijakan atau kajian ilmiah.

Data dari FAO sendiri dilaporkan diperoleh melalui korespondensi resmi dengan negara-negara anggota, yang menyusun laporan nasional. Proses ini didukung oleh peninjau eksternal dan para pakar FAO untuk memastikan kualitas dan konsistensi data yang optimal. Sementara itu, data dari Lobovikov et al. (2007) dikumpulkan berdasarkan laporan nasional dari tiap negara. Meski kualitas dan kelengkapan data sangat bervariasi, laporan tersebut menegaskan bahwa sebagian besar negara telah memiliki data dasar mengenai sumber daya bambu. Lobovikov et al. (2007) menyatakan bahwa negara-negara Asia memiliki data statistik hutan bambu, sedangkan negara-negara di Amerika Latin dan Afrika lebih mengandalkan citra penginderaan jauh dan estimasi pakar.

Dengan demikian, tingkat kepercayaan terhadap data dari FAO maupun Lobovikov et al. (2007) dapat dikatakan cukup tinggi. Sayangnya, laporan FAO (2020) terbaru tidak lagi menyajikan rincian luas hutan bambu per negara secara eksplisit, melainkan hanya disajikan berdasarkan wilayah regional dan subregional, seperti Asia dan Asia Tenggara. Oleh karena itu, data yang menunjukkan angka nol, penurunan drastis, atau bahkan tidak adanya informasi pada suatu negara kemungkinan besar mencerminkan tidak tersedianya data terkini atau adanya perubahan dalam metode pelaporan. Hal ini tidak serta-merta berarti bahwa hutan bambu benar-benar hilang dari wilayah tersebut.

Perbedaan signifikan antara berbagai sumber data menunjukkan adanya tantangan besar dalam harmonisasi informasi mengenai hutan bambu. Sebagian perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh beragamnya definisi tentang apa yang dimaksud dengan “hutan bambu,” seperti perbedaan antara bambu yang tumbuh alami, dibudidayakan, atau yang berada di luar kawasan hutan. Selain itu, keterbatasan data serta minimnya kegiatan survei di sejumlah negara turut melemahkan validitas data agregat pada tingkat global. Untuk mendukung pengelolaan dan pemanfaatan bambu secara optimal, diperlukan pemutakhiran dan harmonisasi data secara global, termasuk integrasi teknologi penginderaan jauh serta penguatan kapasitas statistik di tingkat nasional.

Daftar Rujukan

  1. Ben-zhi, Z., Mao-yi, F., Jin-zhong, X., Xiao-sheng, Y., & Zheng-cai, L. 2005. Ecological functions of bamboo forest: Research and Application. Journal of Forestry Research 16: 143–147. https://doi.org/10.1007/BF02857909

  2. Bystriakova, N., Kapos, V., Lysenko, I., & Stapleton, C.M.A. 2003. Distribution and conservation status of forest bamboo biodiversity in the Asia-Pacific Region. Biodiversity and Conservation 12: 1833–1841. https://doi.org/10.1023/A:1024139813651

  3. Du, H., Mao, F., Li, X., Zhou, G., Xu, X., Han, N., Sun, S., Gao, G., Cui, L., Li, Y., Zhu, D., Liu, Y., Chen, L., Fan, W., Li, P., Shi, Y., & Zhou, Y. 2018. Mapping global bamboo forest distribution using multisource remote sensing data. IEEE Journal of Selected Topics in Applied Earth Observations and Remote Sensing 11(5): 1458–1471. https://doi.org/10.1109/JSTARS.2018.2800127

  4. FAO. 2010. Globalforest resources assessment 2010: Main report. Rome: Food And Agriculture Organization of the United Nations. https://www.fao.org/4/i1757e/i1757e.pdf

  5. FAO. 2020. Global forest resources assessment 2020: Main report. Rome: Food And Agriculture Organization of the United Nations. https://doi.org/10.4324/9781315184487-1

  6. Lobovikov, M., Paudel, S., Piazza, M., Ren, H., & Wu, J. 2007. World bamboo resources, a thematic study prepared in the framework of the Global Forest Resources Assessment 2005. Nonwood forest products 18. Rome: FAO. https://www.fao.org/3/a-a1243e.pdf

  7. Paudyal, K., Yanxia, L., Long, T.T., Adhikari, S., Lama, S., & Bhatta, K.P. 2022. INBAR Working Paper, Technical Paper: Ecosystem services from bamboo forests: Key findings, lessons learnt and call for actions from global synthesis. China: The International Bamboo and Rattan Organisation. https://doi.org/10.13140/RG.2.2.26017.07526

  8. Terefe, R., Jian, L., & Kunyong, Y. 2019. Role of bamboo forest for mitigation and adaptation to climate change challenges in China. Journal of Scientific Research & Reports 24(1): 1–7. https://doi.org/10.9734/jsrr/2019/v24i130145

  9. Yu, L., Wei, J., Li, D., Zhong, Y., & Zhang, Z. 2023. Explaining landscape levels and drivers of Chinese moso bamboo forests based on the plus model. Forests 14(2): 397. https://doi.org/10.3390/f14020397

  10. Zhou, G., Meng, C., Jiang, P., & Xu, Q. 2011. Review of carbon fixation in bamboo forests in China. The Botanical Review 77: 262–270. https://doi.org/10.1007/s12229-011-9082-z