Konten dari Pengguna

Percepatan Pemanfaatan Hasil Litbang Budidaya Bambu: Permasalahan & Solusi

Dr I Putu Gede P Damayanto

Dr I Putu Gede P Damayanto

Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dr I Putu Gede P Damayanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

I Putu Gede P. Damayanto

Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indonesia

Keanekaragaman bambu di Indonesia tercatat sekitar 175 jenis dari 24 marga (Damayanto & Fefirenta, 2021). Secara global, keanekaragaman bambu di dunia mencapai 1670 jenis dari 125 marga (Soreng dkk., 2017). Dengan demikian, sekitar 10,5% dari total jenis bambu di dunia tercatat terdapat di Indonesia. Jumlah jenis bambu di Indonesia akan terus meningkat seiring temuan jenis bambu baru belakangan ini (lihat Widjaja, 2023; Ritonga dkk., 2025; Widjaja dkk., 2025). Sebaran jenis bambu di Indonesia menunjukkan bahwa Sumatra memiliki jumlah jenis terbanyak (76 jenis), diikuti oleh wilayah Jawa (73 jenis), dan Maluku dengan jumlah jenis paling sedikit (16 jenis) (Damayanto, 2024). Di tengah berbagai keterbatasan, penelitian mengenai keanekaragaman bambu di Indonesia terus dilakukan guna memperoleh gambaran yang menyeluruh tentang kondisi keanekaragaman bambu di tanah air.

Jumlah jenis dan marga bambu di Indonesia. Data: modifikasi Damayanto (2024).

Potensi pemanfaatan bambu di Indonesia sangat beragam. Secara tradisional, bambu digunakan dalam upacara adat seperti Ngaben di Bali, sebagai wadah (gelas, asbak, dan lemang), alat musik (seruling, jegog, dan angklung), bahan bangunan (atap dan tiang), transportasi (rakit), hingga perkakas (perangkap ikan dan pancing). Dalam sektor pangan dan obat-obatan, rebung bambu dikonsumsi sebagai sayuran, sementara beberapa jenis bambu menghasilkan biga yang dimanfaatkan sebagai bahan obat afrodisiak. Untuk produk komersial, bambu menjadi bahan baku industri kertas, sumpit, tusuk gigi, kerajinan tangan (dekorasi dan anyaman), dan papan laminasi. Potensi bambu juga meluas ke sektor energi, di mana bambu dapat diolah menjadi biofuel dan sumber biomassa untuk pembangkit listrik, atau diolah menjadi arang. Selain itu, bambu juga memberikan jasa ekosistem yang vital, menyediakan habitat bagi satwa liar seperti ular, kuskus, dan kelelawar, serta berperan penting dalam fiksasi karbon, reboisasi, dan konservasi air tanah.

Penelitian terkini keanekaragaman jenis bambu di Indonesia.

Tingginya keanekaragaman dan besarnya potensi pemanfaatan bambu di Indonesia sayangnya belum diimbangi dengan kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) yang memadai, khususnya di bidang budidaya. Meskipun potensi budidaya bambu secara finansial sangat menjanjikan, dengan potensi pengembalian investasi dalam sembilan tahun, percepatan pemanfaatan hasil litbang budidaya bambu di Indonesia masih dihadapkan pada sejumlah kendala.

Permasalahan utama dalam pengembangan bambu di Indonesia mencakup berbagai aspek. Pertama, masih terbatasnya kegiatan litbang, khususnya dalam bidang budidaya bambu, menyebabkan kurangnya informasi teknis yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Kedua, keterbatasan dalam diseminasi informasi, seperti minimnya seminar, lokakarya, dan pelatihan, turut menghambat penyebaran pengetahuan dan teknologi budidaya bambu. Ketiga, sumber daya manusia yang terbatas dan rendahnya keterlibatan masyarakat juga menjadi tantangan, ditandai oleh kurangnya tenaga penyuluh, minimnya pelatihan berkelanjutan bagi petani dan pelaku usaha, serta pendekatan litbang yang masih bersifat top-down, yang berdampak pada rendahnya motivasi masyarakat akibat hasil yang tidak segera terlihat. Keempat, lemahnya sinergi lintas sektor dan kurangnya kebijakan pendukung, seperti tidak optimalnya kerja sama antara badan litbang dan pemangku kepentingan lainnya (pemerintah daerah, swasta, LSM), serta belum kuatnya penerapan model triple helix (akademisi-bisnis-pemerintah), juga menjadi hambatan serius. Terakhir, akses terhadap bibit unggul, teknologi baru, infrastruktur pelatihan, dan sumber pembiayaan masih sangat terbatas, menghambat upaya hilirisasi dan industrialisasi bambu secara luas.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan serangkaian solusi komprehensif. Dalam hal litbang, diperlukan pendirian laboratorium atau kebun percobaan, pengamanan dana riset dari berbagai sumber seperti LPDP, BRIN, dan kementerian, pemberian insentif kepada peneliti budidaya bambu, serta dorongan kolaborasi riset lintas sektor. Diseminasi informasi perlu diperkuat melalui pembuatan panduan teknis dalam bentuk video, penyelenggaraan seminar dan lokakarya daring maupun hibrida, pelaksanaan Training of Trainers (ToT) bersertifikasi bagi penyuluh, dan integrasi program dengan para pemangku kepentingan.

Di sisi sumber daya manusia, perekrutan tenaga penyuluh, pemberian pelatihan reguler bagi petani, serta kemitraan dengan perguruan tinggi sangat diperlukan, disertai dengan strategi peningkatan partisipasi masyarakat melalui pembentukan kelompok tani, uji coba lapangan, dan kunjungan studi. Peningkatan sinergi lintas sektor dapat dilakukan melalui pembentukan forum multi-pihak, implementasi proyek percontohan, pelibatan aktif pemerintah daerah sebagai fasilitator, dan integrasi program litbang ke dalam rencana pembangunan daerah, seperti yang dicontohkan oleh Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam upayanya menjadi pusat industri bambu nasional.

Di sisi lain, perbaikan aksesibilitas dan pembiayaan mencakup pengadaan pusat pembibitan, penyediaan literasi digital dan akses internet di wilayah pedesaan, layanan penyuluhan keliling, pendirian pusat pelatihan terpadu dan desa percontohan, serta pemberian hibah, skema kredit khusus, dan subsidi bagi petani maupun pelaku usaha bambu.

Pada akhirnya, slogan "ilmu tanpa diseminasi hanyalah tumpukan data" dan "inovasi baru hanya bermakna jika hadir di tangan masyarakat", menjadi pengingat akan pentingnya sinergi dan kolaborasi antarpihak dalam mewujudkan pemanfaatan potensi bambu Indonesia secara optimal dan berkelanjutan.

Catatan:

Tulisan ini adalah bagian dari paparan dalam webinar yang diselenggarakan oleh Yayasan Sarana Wana Jaya bertajuk "Strategi Pengembangan Bambu sebagai Komoditas Komersial yang Terabaikan". Webinar dilakukan pada hari Rabu tanggal 18 Juni 2025 secara daring. Dalam kegiatan ini, saya diundang sebagai narasumber mewakili Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dengan materi berjudul "Percepatan Pemanfaatan Hasil Penelitian dan Pengembangan Budidaya Bambu kepada Masyarakat: Permasalahan dan Solusi".