Waspadai Distorsi Pembelajaran Mendalam

Widyaiswara Ahli Muda di Balai GTK Provinsi Bali Kemendikdasmen
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari I Putu Gede Sutharyana Tubuh Wibawa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Sebenarnya ini sudah kita terapkan di sekolah sejak dahulu”, begitu ucap seorang guru.
Pendidik yang lain berujar, “kita perlu memperbanyak ice breaking agar pembelajaran mendalam memenuhi prinsip menggembirakan”.
Ada pula yang tersenyum optimis berkata dengan yakin bahwa pembelajaran mendalam adalah nama lain “pembelajaran berbasis projek”. Artinya apakah pendekatan baru yang ditawarkan ini hanya “jurus malih rupo” dari Kemendikdasmen?
Apabila berkaca dari sisi empiris sesaat, anggapan ini bisa jadi diterima akal logis, menjadi ruang diskusi yang mereset kolaborasi ke titik nol, hingga menimbulkan tendensi negatif. Padahal jika memperhatikan naskah akademik dan petunjuk teknis pelatihan pembelajaran mendalam, ada hal mendasar yang perlu ditumbuhkan bersama sebelum berkiprah di pembelajaran mendalam, yaitu growth mindset.
Growth mindset (pola pikir bertumbuh) merupakan suatu pola pikir optimistis yang mengajak para insan pendidik lebih memandang suatu hal baru sebagai sebuah peluang, bukan suatu hambatan. Memandang bahwa perubahan sebagai tantangan, bukan ketakutan. Mengajak bahwa hasil ditentukan oleh kerja keras, bukan IQ semata.
Sebagaimana gagasan Carol S. Dweck dalam Kemendikdasmen (2025), bahwa growth mindset adalah keyakinan bahwa kecerdasan dan kemampuan bisa dikembangkan secara tidak terbatas lewat proses belajar dan berusaha.
Growth mindset tentu berlawanan dengan fixed mindset (pola pikir kaku) yang menganggap bahwa perubahan adalah suatu ancaman. Sudut pandang ini menjadi jendela baru agar pendidikan mendapat jalan optimis untuk menuju kemajuan secara serentak.
Kembali ke pembelajaran mendalam, keyakinan awal bahwa beberapa guru sudah menerapkan ini sebelumnya patut diapresiasi. Hanya masih ada tanda tanya, apakah pembelajaran sudah berlangsung secara bermakna, berkesadaran dan menggembirakan? Sudahkah berlangsung secara holistik dan berkelanjutan? Sudahkah murid menjadi pembelajar aktif dan mampu meregulasi diri (berkesadaran)?
Pembelajar aktif membutuhkan aktivitas lebih banyak daripada mendengar dan melihat. Sementara itu, meregulasi diri artinya murid mampu berkomitmen terhadap sesuatu hal, misalnya mengubah kebiasaan atau kesepakatan agar hidup menjadi lebih baik.
Begitu juga dengan prinsip bermakna. Di mana para murid belajar sesuatu yang bermanfaat bagi hidupnya, atau dengan kata lain, mereka mempelajari hal yang memang berguna untuk kehidupan secara langsung. Menyajikan ini di kelas tidaklah mudah. Diperlukan kreativitas dan kolaborasi yang dinamis untuk mewujudkan ini.
Sementara itu, menggembirakan artinya pembelajaran berlangsung secara menyenangkan, menantang, dan memotivasi. Sudahkah pembelajaran di kelas menggembirakan? Ice breaking penting untuk memfokuskan pikiran, namun apakah pembelajaran sudah menyediakan akses murid pada suasana yang menantang, menyenangkan dan memotivasi?
Menurut teori kognitif, pembelajaran yang berlangsung pada zona menantang (growth zone) akan lebih efektif daripada pembelajaran yang berlangsung di zona nyaman (comfort zone). Adanya tantangan membuka jalan murid “meliarkan” pemikiran untuk menemukan analisis kreatif dan sudut pandang baru.
Penting juga bagi guru memberikan motivasi penguatan tidak hanya pujian pribadi, namun lebih banyak pujian proses. Jika pujian pribadi mengapresiasi murid berdasarkan hasil yang dicapai, misalnya “Selamat, Nak, prestaimu luar biasa”.
Namun, pujian proses mengapresiasi usaha keras yang telah dilakukan, seperti “Usaha kerasmu luar biasa sehingga kamu bisa mencapai ini!”, atau “Kamu sudah berusaha maksimal dalam event ini!”. Pujian proses memberikan penguatan bahwa usaha keras sangat penting untuk mencapai hasil yang maksimal.
Selain prinsip pembelajaran mendalam, pengalaman belajar pun mengharuskan adanya tahap memahami, mengaplikasi dan merefleksi yang dilalui oleh murid. Pengalaman belajar memahami boleh saja sudah terjadi dalam belajar di sekolah. Namun, apakah mengaplikasi dan merefleksi telah dilakukan dengan konsisten? Apakah siswa yang berani presentasi merupakan proses mengaplikasi? Padahal mengaplikasi merupakan penerapan pengetahuan atau simulasi yang berkaitan langsung dengan dunia nyata.
Jadi, prinsip bermakna tidak sama dengan pengalaman mengaplikasi, karena bermakna bisa berupa pengetahuan dan pengalaman, namun mengaplikasi adalah pengalaman langsung/simulasi dalam menerapkan ilmu tersebut di dunia nyata. Sementara refleksi adalah memberikan pembenaran atau mengoreksi sesuatu dengan alasan yang logis.
Refleksi belum tentu penyamaan persepsi, karena dalam refleksi bisa lahir hal-hal baru yang dinanti namun prosesnya tidak pasti. Bisa penuh debat, bantahan murid terhadap guru, hingga pertanyaan kritis yang ditanyakan dan mungkin tak terjawab oleh guru sendiri.
Begitulah jika pembelajaran sudah mendalam, maka siswa bisa tenggelam dalam pembelajaran. Ruang guru untuk berekspresi dan mengapresiasi diri atas hal yang sudah dilakukan sebelumnya itu baik sekali, namun budaya refleksi yang berkesadaran, bermakna dan menggembirakan juga perlu ditumbuhkan pendidik di setiap sanubari agar pembelajaran mendalam bisa berlangsung tanpa batas ruang dan henti.
Jangan lupa pembelajaran mendalam tidak melepastugaskan guru untuk menerapkan ini seorang diri. Kepemimpinan kolaboratif dari kepala sekolah dan pendampigan dari pengawas sekolah memegang kunci mendalam atau tidaknya pembelajaran yang ada di sekolah. Pembelajaran mendalam membutuhkan 4 kerangka pembelajaran mendalam yang supe rkuat yaitu praktik pedagogis (metode, strategi dan model pembelajaran yang efektif), kemitraan pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan pemanfaatan digital.
Kerangka yang rapuh akan membuat pembelajaran mendalam berjalan terseok-seok. Bagaimanapun kerangka adalah pilar utama proses pembelajaran. Guru tidak bisa mewujudkan empat kerangka di atas sendiri. Maka dari itu, tahap pelatihan pembelajaran mendalam yang dilakukan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melibatkan kepala sekolah, guru dan pengawas sekolah secara kolaboratif, walaupun memang perlu dikonstruksi lagi pelatihan untuk pengawas sekolah momennya bisa dilakukan bersamaan/tidak terpaut jauh dengan guru dan kepala sekolah.
Sekarang kembali lagi ke growth mindset. Guru harus temukan lebih banyak ilmu daripada siswa, kepala sekolah harus temukan lebih banyak ilmu daripada guru, dan pengawas sekolah temukan lebih banyak ilmu daripada kepala sekolah.
--------------------
Penulis adalah Pengawas Sekolah pada Disdikpora Kabupaten Badung & Fasilitator Pembelajaran Mendalam Kemendikdasmen
