Kebutuhan Positive Circle dalam Pertemanan

Narasumber CREATE-Talks - Penulis Buku Seka Asa - Fasilitator Gen C - Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Brawijaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari I Wayan Ivan Zenatmaja tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Maraknya circle-circle di masa perkuliahan menunjukkan tingkat keberagaman serta, kondisi selektif mahasiswa-mahasiswi dalam memilih teman. Tapi, kita harus ingat bahwa, idak semua teman mempunyai circle.
Circle di dalam bahasa inggris artinya lingkaran. Suatu circle tercipta karena adanya kesamaan atau kecocokan di antara individu yang mengarah kepada hubungan yang lebih akrab.
Sering kali, circle dipandang negatif sebagai toxic circle dikarenakan teman-teman ataupun diri sendiri merasa ditindas dan dirugikan (simbiosis parasitisme).
Tanda-tanda Toxic Circle yang akan dirasakan adalah kita merasa tidak nyaman, kita merasa dimanfaatkan, ada manipulator dan membawa petaka bagi kehidupan kita.
Perlu diingat, setiap manusia membawa topengnya masing-masing, pada akhirnya kelihatan juga yang tidak cocok, tidak akan bisa akrab. Sudah sepantasnya kita get out dari toxic circle tersebut dengan cara:
Menyaring Teman, kita perlu mengetahui sifat teman, memilih teman sesuai dengan kriteria kita yang bisa memberikan dampak hubungan pertemanan yang sehat.
Jaga jarak, kita juga dapat membatasi obrolan, memblokir kontak, dan jangan merasa bersalah melakukannya karena ini baik buat kesehatan mental kita.
Meminta bantuan, terkadang, masalah tidak dapat ditangani sendiri. Itu sebabnya kita membutuhkan teman dan keluarga sebagai support system. Melangkahlah dengan tegap dan jalankan rencananya.
Bila kita ingin me time, menyendiri, dan terlepas dari segala circle, cobalah untuk:
Independen, berdikari, kuat dan berani mengambil keputusan di saat teman-teman meremehkan kita.
Netral, menjadi penengah di antara teman-teman.
Bebas aktif, menunjukkan kekuatan kita yang sebenarnya kepada teman-teman kita. Sehingga yang awalnya meremehkan menjadi tidak meremehkan kita lagi.
Apa solusinya?
Sebenarnya ada solusi yang lebih tepat yaitu, membangun sebuah positive circle dengan memperhatikan Hierarki Kebutuhan Maslow yang terdiri atas:
Kebutuhan Raga, pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, papan, dalam kehidupan sehari-hari sebagai kebutuhan utama kita yang tidak akan pernah tergantikan oleh apapun.
Rasa Aman, untuk menghindari kegelisahan, kita membutuhkan lingkungan yang aman, tentunya situasi jauh dari konflik serta, kita dianjurkan membeli asuransi untuk meringankan biaya yang diakibatkan oleh bencana-bencana yang telah terjadi.
Cinta Kasih, kita merasakan atmosfer cinta dan dicintai terhadap lingkungan yang mampu memelihara kesehatan jiwa.
Penghargaan, kita merasa percaya diri, nyaman dengan diri sendiri, dan melibatkan interaksi layaknya, aksi-aksi diri dihargai oleh orang-orang terdekat yang kemudian cakupannya lebih luas kepada orang lain.
Swaaktualisasi, kita dapat mengembangkan potensi dan memiliki added value dalam diri di saat keluar dari zona nyaman.
Positive circle terjadi bila teman-teman dapat diajak maju dan sukses bersama. Hal ini selaras dengan suistanable development goals (SDGs) pada poin ke tujuh belas yaitu, kemitraan untuk mencapai tujuan.
Tanda-tanda positive circle telah ada di sekitar kita adalah terdapat teman-teman yang dapat menerima diri kita apa adanya, ditunjukkan juga dengan teman-teman yang memahami dan menghargai ruang pribadi diantara kita.
Dan, ada kala teman-teman terbuka dengan mencurahkan berbagai problematika yang kemudian timbul rasa saling pengertian, saling mengingatkan ketika ada yang berbuat salah.
Terakhir, adanya rasa saling mendukung ketika menghadapi masa sulit yang terjadi di antara kita ataupun terhadap teman-teman sekalian.
Apa manfaatnya?
Positive circle dalam pertemanan bermanfaat bagi kita seperti:
Success way, dengan memiliki positive circle merupakan jalan menuju kesuksesan yang diraih dan diperjuangkan bersama teman-teman.
Motivate to never give up, kita mendapatkan motivasi dari teman-teman yang selalu memberikan semangat hidup ketika kita ingin menyerah dan putus asa dengan kehidupan yang tidak sesuai dengan harapan.
Positivite thinking, di lingkungan yang positif akan timbul pikiran positif (khawatir boleh tapi jangan berlebihan) yang menjadi asupan kita sehari-hari. Selalu berbahagia apapun yang telah terjadi dan tidak lupa untuk intropeksi diri.
Time is money, waktu menjadi lebih produktif dan lebih berharga terdapat kegiatan positif seperti, olahraga, kegiatan diskusi, dan lomba bergrup. Memanajemen waktu seperti ini bakal membuat kita lebih baik daripada sebelumnya.
Beyond solution, segala rintangan yang kita hadapi menjadi lebih mudah dilalui karena memiliki teman-teman di lingkungan yang positif, saling memberi saran ketika ada masalah (hilangnya egosentrisme).
Setelah kita mengenal positive circle, jangan sampai terjebak di dalam circle yang dianggap baik, namun ternyata kenyataannya bertolak belakang.
