Urgensi Transformasi Digital Menuju Indonesia Emas 2045

Doktor Pengembangan SDM, Smart City Researcher, Research Team Center for Dynamic Capability (CDC) Universitas Airlangga, Co-Founder Firstian Consulting Education.
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Ian Firstian Aldhi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Transformasi digital adalah proses perubahan komprehensif yang terjadi di organisasi, di mana teknologi digital diadopsi untuk mengubah cara mereka bekerja, meningkatkan kinerja, dan menciptakan nilai baru di semua bidang bisnis. Proses ini bukan hanya tentang penggunaan teknologi, melainkan tentang reformasi strategis dari model bisnis, proses operasional, pengalaman pelanggan, dan cara berkomunikasi.
Menurut Bonnet, D., & Westerman, G. (2020), tujuan dari transformasi ini adalah untuk menggunakan teknologi dalam meningkatkan kinerja atau jangkauan perusahaan secara signifikan, menciptakan cara baru dalam melakukan bisnis dan bukan hanya meningkatkan proses yang sudah ada. Rêgo, B. S., Jayantilal, S., Ferreira, J. J., & Carayannis, E. G. (2021) menambahkan bahwa transformasi digital melibatkan penggunaan teknologi terkini, seperti media sosial, mobile, analitik, atau perangkat tertanam, untuk memperbaiki berbagai aspek bisnis mulai dari pengalaman pelanggan hingga operasi internal, termasuk menciptakan model bisnis baru.
Mulyana, R., Rusu, L., & Perjons, E. (2021) menguraikan bahwa transformasi digital mencakup digitalisasi saluran penjualan dan komunikasi serta penawaran perusahaan, termasuk produk dan layanan, yang melibatkan penggantian atau penambahannya dengan penawaran fisik. Ini juga meliputi langkah-langkah bisnis taktis dan strategis yang didorong oleh wawasan berbasis data dan peluncuran model bisnis digital. Demirkan, H., & Spohrer, J. C. (2018) menambahkan bahwa transformasi digital merupakan perubahan yang mendalam dan mempercepat dalam aktivitas bisnis, memanfaatkan perubahan dan peluang yang ditawarkan oleh teknologi digital. Transformasi ini memiliki dampak yang luas di seluruh masyarakat dan memerlukan pendekatan yang strategis dan terprioritasi.
Dengan demikian, transformasi digital merupakan perubahan mendasar dalam kegiatan bisnis yang berfokus pada penggunaan teknologi digital untuk mencapai peningkatan yang signifikan dalam berbagai aspek, dari operasional hingga penciptaan model bisnis baru, serta mengubah cara perusahaan berinteraksi dengan pelanggan dan pasar.
Faktor Pendorong Eksternal
Kebutuhan akan transformasi digital saat ini didorong oleh tiga faktor utama yang telah menyebabkan perubahan besar dalam dunia bisnis.
Pertama, Teknologi Digital. Sejak munculnya World Wide Web dan teknologi terkait seperti broadband, smartphone, dan cloud computing, telah terjadi pertumbuhan besar dalam e-commerce. Statistik menunjukkan peningkatan signifikan dalam penjualan e-commerce, mencapai $2.3 triliun pada 2017 dengan perkiraan pertumbuhan menjadi $4.88 triliun pada 2021 (Statista, 2019). Kemajuan dalam big data, AI, blockchain, IoT, dan robotika juga diharapkan akan sangat mempengaruhi bisnis (Chen, Chiang, & Storey, 2012; Iansiti & Lakhani, 2014; Ng & Wakenshaw, 2017).
Kedua, persaingan dalam bisnis telah berubah secara dramatis akibat teknologi digital. Di ritel, misalnya, ada pergeseran ke perusahaan digital baru, dengan perubahan nilai perusahaan mencerminkan tren ini. Sebagai contoh, lonjakan nilai pasar bagi saham FAANG (Facebook, Apple, Amazon, Netflix, dan Google) menonjol dibandingkan dengan perusahaan lainnya.
Ketiga, perilaku konsumen telah berubah secara signifikan akibat revolusi digital. Konsumen semakin menggunakan toko online, dan teknologi digital memainkan peran penting dalam pengalaman belanja mereka (Li, H., Jain, S., & Kannan, P. K. (2019). Dengan perangkat seluler, aplikasi, dan teknologi AI baru seperti Amazon Echo dan Google Home, konsumen menjadi lebih terhubung dan berdaya, dan ini mengubah perilaku konsumen secara struktural (Hoffman & Novak, 2017; Verhoef, P. C. (2020). Jika perusahaan tidak beradaptasi dengan perubahan ini, mereka berisiko kehilangan daya tarik bagi pelanggan dan kalah bersaing dengan perusahaan yang menggunakan teknologi tersebut.
Fase Transformasi Digital
Transformasi digital melibatkan tiga fase kunci: digitalisasi, digitalisasi, dan transformasi digital itu sendiri
Fase pertama, digitasi, berkaitan dengan konversi informasi analog menjadi format digital, memungkinkan komputer untuk menyimpan, memproses, dan mentransmisikan data tersebut. Ini juga bisa berarti perubahan tugas dari analog ke digital atau integrasi TI dengan tugas yang ada untuk mengembangkan sumber daya yang efektif dari sisi sumber daya. Fase ini umumnya fokus pada digitalisasi proses dokumentasi internal dan eksternal tanpa mengubah aktivitas penciptaan nilai.
Fase kedua, digitalisasi, adalah tentang bagaimana TI digunakan untuk mengubah proses bisnis yang ada. Ini mencakup pembuatan saluran komunikasi online atau mobile baru yang mengubah interaksi organisasi dengan pelanggan serta memanfaatkan TI sebagai pemberdaya kunci untuk mengeksplorasi peluang bisnis baru dengan mengubah proses bisnis yang ada Leviäkangas (2016). Digitalisasi berfokus tidak hanya pada penghematan biaya tetapi juga pada peningkatan proses yang meningkatkan pengalaman pelanggan.
Fase ketiga, transformasi digital, adalah fase yang paling menyeluruh, menggambarkan perubahan menyeluruh di perusahaan yang mengarah pada pengembangan model bisnis baru. Fase ini sering kali melibatkan pendekatan baru dalam menciptakan dan menangkap nilai, yang dapat mencakup perubahan fokus atau strategi industri perusahaan. Model bisnis baru ini dirancang untuk menciptakan dan memberikan nilai kepada pelanggan serta mengubah pembayaran yang diterima menjadi keuntungan (Teece, 2010).
3 Strategi Utama Transformasi Digital
Dalam mencapai transformasi digital, terdapat tiga strategi utama yang menjadi kunci keberhasilan organisasi.
Pertama, Strategi Sumber Daya Digital, yang melibatkan pengembangan dan pemanfaatan aset digital, seperti aplikasi dan platform. Strategi ini juga mencakup Kegesitan Digital, yaitu kemampuan organisasi untuk cepat beradaptasi dengan perubahan pasar atau teknologi; Kemampuan Jaringan Digital, yang berkaitan dengan pembangunan dan pemeliharaan hubungan melalui jaringan digital; dan Kemampuan Analitik Data, yang fokus pada penggunaan data untuk wawasan strategis dan operasional.
Kedua, Strategi Strukturisasi Organisasi, yang memfokuskan pada penataan ulang struktur organisasi untuk efisiensi. Ini termasuk Klasifikasi Unit Bisnis, penerapan struktur Organisasi yang Agile, dan pembentukan Divisi Fungsional Digital.
Ketiga, Strategi Pertumbuhan Digital, yang menyoroti ekspansi bisnis dalam lingkungan digital melalui berbagai pendekatan seperti Penetrasi Pasar, Pengembangan Pasar Berbasis Produk, Penetrasi Pasar Berbasis Platform, Pengembangan Produk, Pengembangan Platform Ko-Kreasi, dan Diversifikasi Platform.
Strategi ini secara keseluruhan tidak hanya mendukung transformasi teknologi, tetapi juga meredefinisi model bisnis, struktur organisasi, dan pendekatan pasar untuk memastikan pertumbuhan dan keberlanjutan jangka panjang organisasi dalam landscape digital yang dinamis.
Faktor Kunci Sukses Transformasi Digital
Untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045 melalui transformasi digital, ada beberapa faktor kunci yang harus dipertimbangkan secara komprehensif dan rinci:
Strategi dan Model Bisnis: Transformasi ini harus menyelaraskan teknologi dengan tujuan dan visi nasional. Ini termasuk mengubah pendekatan nilai bisnis, menyesuaikan cara pengiriman nilai kepada masyarakat, mengadopsi model bisnis baru, dan mengembangkan kemampuan baru yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Strategi ini menekankan pada pencarian peluang baru dan mengatasi tantangan yang muncul dalam lingkup nasional.
Manajemen Perubahan: Penting untuk secara efektif mengelola dampak negatif dari gangguan digital. Ini berarti menunjuk individu atau entitas yang dapat mendorong penerimaan dan adaptasi teknologi digital di berbagai tingkatan pemerintahan dan masyarakat. Komunikasi efektif, termasuk menyampaikan visi yang jelas dan terfokus pada digitalisasi, menjadi kunci dalam proses ini.
Budaya Organisasi dan Partisipasi: Sukses transformasi digital di tingkat negara memerlukan keterlibatan aktif dari semua sektor masyarakat dan pemerintahan. Dukungan dari pemerintah dan pemimpin nasional dalam menyampaikan visi yang jelas sangat penting, serta menciptakan budaya yang mendorong mobilitas, kolaborasi, dan pembelajaran berkelanjutan dalam pemanfaatan teknologi.
Manajemen Sumber Daya Manusia: Diperlukan peran baru dalam pemerintahan dan sektor publik yang mengkhususkan diri dalam bidang digital. Pentingnya mempertahankan dan meningkatkan kemampuan digital dalam tenaga kerja nasional sangat penting untuk menjawab kebutuhan masa depan. Karyawan dengan keterampilan digital dan pola pikir proaktif menjadi aset berharga dalam proses transformasi ini.
Prasarana Data dan Teknologi Informasi: Infrastruktur data dan TI merupakan fondasi dari transformasi digital sebuah negara. Ini meliputi pengembangan sistem manajemen data yang efisien dan platform yang dapat diakses oleh pemerintah dan warga negara. Data harus dianggap sebagai aset strategis nasional, yang perlu dikelola dan diakses dengan cara yang memberikan wawasan untuk pembuatan kebijakan.
Ekosistem Digital: Pengembangan strategi digital nasional seringkali merespons dinamika pasar, perubahan industri, dan lanskap kompetitif serta regulasi. Masyarakat harus didorong untuk terlibat dalam implementasi transformasi digital. Negara dapat memanfaatkan atau membentuk jaringan strategis dan kemitraan dengan sektor swasta, lembaga internasional, dan komunitas akademis untuk transfer pengetahuan dan inovasi.
Transformasi Digital Indonesia menuju Visi Indonesia Emas 2045
Transformasi digital mendukung pencapaian Indonesia yang berdaulat, di mana negara memiliki kemandirian dan kewenangan penuh dalam mengatur segala aspek kehidupan. Dalam konteks digital, ini berarti membangun infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi yang kuat dan mandiri, memastikan keamanan siber untuk melindungi data dan informasi negara, dan mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam bidang teknologi. Penguasaan teknologi digital lokal juga penting untuk memperkuat kedaulatan negara dalam menghadapi perubahan global dan mempertahankan integritas nasional.
Untuk mencapai status negara maju dengan perekonomian besar yang berbasis pengetahuan dan inovasi, Indonesia harus memanfaatkan teknologi digital dalam semua sektor ekonomi. Ini termasuk mendorong inovasi digital di sektor industri, meningkatkan efisiensi melalui digitalisasi, dan mengembangkan ekosistem startup dan teknologi yang kuat.
Penggunaan teknologi digital untuk memperkuat aspek kebudayaan Nusantara juga penting untuk menjaga identitas nasional sambil berkembang menjadi negara yang modern dan inovatif. Dalam konteks global, Indonesia harus menggunakan teknologi digital untuk meningkatkan daya saingnya dan memperkuat peranannya di forum internasional.
Transformasi digital juga harus diintegrasikan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Hal ini mencakup penggunaan teknologi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya alam, memelihara kualitas lingkungan hidup, serta mempromosikan tata kelola yang baik.
Digitalisasi dapat membantu dalam memantau dan mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan, memperbaiki kualitas hidup masyarakat melalui layanan kesehatan dan pendidikan yang lebih baik, dan mengembangkan kota-kota cerdas yang minim polusi. Dengan cara ini, transformasi digital dapat membantu Indonesia mencapai tujuan pembangunan ekonomi yang tinggi tanpa mengorbankan aspek sosial dan lingkungan.
