Bukti Nyata Janji Baik Dalam Mendobrak Stigma "Putus Sekolah Tak Bisa Sukses."

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syaiful Bahri Ibnu Abdillah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap akhir pekan datang, ruang belajar Janji Baik selalu membangkitkan harapan. Alih-alih menikmati liburan seperti remaja lainnya, belasan anak-anak tangguh di ruang belajar ini lebih memilih untuk bertemu, berdiskusi dan merangkai kata demi kata untuk menuliskan mimpi besar mereka. Baik saat mereka berinteraksi secara virtual di gawai mereka atau saat momen kelas tatap muka diadakan, ruang belajar ini langsung dipenuhi tawa, kehangatan dan energi yang meluap dari generasi muda yang tidak ingin menyerah pada situasi untuk merebut masa depan yang tertunda.
Melihat antusiasme mereka, seketika terlintas sebuah pertanyaan di kepala, "Mengapa masyarakat kita kaku sekali mengaitkan masa depan dengan lembar-lembar ijazah formal?" Namun, jika kita telaah lebih dalam, jeda pendidikan formal hanyalah efek dari terpuruknya situasi perekonomian. Keadaan keuangan keluarga dan meningkatnya kebutuhan sehari-hari memaksa mereka untuk memilih membantu urusan bertahan hidup dibandingkan dengan melanjutkan pendidikan mereka di sekolah formal. Hal tersebut seharusnya tidak pernah menjadi tolak ukur jatuhnya kecerdasan atau hilangnya hak mereka untuk menjadi orang sukses.
Sayangnya, dinding penghakiman sosial justru sering kali menjadi beban psikologis terberat mereka. Rasa takut ketinggalan dan kepercayaan untuk dapat berkembang secara perlahan muncul dalam diri mereka. Bukan karena mereka bodoh atau malas, melainkan karena mereka tahu bahwa peluang yang ada di luar sana tidaklah setara bagi mereka. Mereka sering ragu untuk bermimpi tinggi. Mereka merasa bahwa kata-kata indah tentang kesuksesan hanya diperuntukkan bagi mereka yang beruntung dapat duduk di bangku sekolah formal.
Misi Sosial Janji Baik di Tangerang Selatan
Di sinilah Janji Baik hadir untuk meruntuhkan tembok-tembok tersebut. Janji Baik lahir dari inisiatif sekelompok anak muda di Kota Tangerang Selatan yang peduli terhadap dunia pendidikan dan hadir sebagai forum untuk menghubungkan kepedulian dengan tindakan nyata dalam membangun pendidikan yang layak untuk semua anak di Indonesia. Kami hadir bukan sebagai pahlawan, tetapi sebagai rumah kedua untuk belajar dan berkembang. Langkah pertama yang kami ambil adalah membangun kembali fondasi berpikir dan keterampilan hidup mereka melalui ruang belajar yang adaptif, menyenangkan, dan membumi.
Tentu saja, tantangan di lapangan tak terpisahkan dari tuntutan berkompetisi di ruang alternatif dengan sistem pembelajaran fleksibel seperti ini. Kita sering kali berlomba dengan waktu, dan anak-anak harus membagi waktu dan perhatian mereka untuk membantu menopang perekonomian orang tua mereka. Namun, keterbatasan ini sepenuhnya terkompensasi oleh pendekatan humanis yang kami berikan. Di Janji Baik, tidak ada batas otoritas yang menakutkan. Relawan adalah sahabat sekaligus kakak yang menjadi teman diskusi untuk mereka. Di ruang aman ini, kami perlahan memulihkan kesehatan mental mereka, menyembuhkan rasa minder mereka, dan membuktikan bahwa isi pikiran mereka sangat berharga untuk didengarkan di dunia.
Setiap sesi belajar di sini sangat bermanfaat, bukan teori semata yang bisa diterapkan. Di sini, mereka dilatih untuk berbicara dengan penuh percaya diri dan ketegasan, sehingga kelak mereka siap memasuki dunia kerja yang membutuhkan pemikiran kritis. Mereka diajarkan cara membuat rencana bisnis terstruktur. Tidak hanya itu, mereka juga diajarkan keterampilan digital yang relevan untuk beberapa tahun ke depan. Segala keterampilan yang mereka pelajari menjadi bekal nyata untuk memperjuangkan hak-hak mereka dalam mendapatkan pendidikan yang layak dan meraih kesuksesan.
Kini, buktinya sudah terlihat jelas di Janji Baik. Entah itu di balik layar atau mereka duduk bersama, mereka menunjukkan diri mereka lewat tulisan, kata-kata yang penuh dengan tekad dan harapan, dan tindakan nyata. Masa lalu mungkin pernah menjadi hambatan mereka, tapi itu tidak menentukan akhir dari cerita mereka. Saat pintu dibuka lebar dan mereka memiliki ruang yang aman tanpa takut dihakimi, mereka bisa berdiri tegak. Mereka bukanlah anak tiri masa depan. Mereka adalah generasi yang siap melangkah maju dan meraih kesuksesan dengan cara dan jalan yang mereka pilih.
