Menggugat Raffles: Membaca “Raffles dan Invasi Inggris di Jawa” oleh Hannigan

Mahasiswa biasa
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ibnu Aisy Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagaimana jika saya mengatakan bahwa Raffles adalah “anjing gila” yang kebetulan tenar di Asia Tenggara? Tim Hannigan dalam bukunya yang berjudul Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa mengatakan Raffles adalah seorang agresif dengan ambisi yang tak pernah terpenuhi. Sebelum memegang posisi penting di Jawa, Raffles hanyalah orang biasa yang berasal dari antah berantah dan hanya seorang juru tulis.
Tim Hannigan menggunakan aspek historis perubahan dalam buku ini, yaitu aspek dalam sejarah yang menekankan pada perbandingan yang kontras/berbeda antara kedua masa. Kedatangan Raffles dan Inggris merubah tatanan Jawa yang sebelumnya dikuasai Belanda, Raffles menggunakan cara-cara yang lebih komfrotatif untuk menghadapi raja-raja di Jawa. Sedangkan untuk teori yang digunakan, Tim Hannigan tidak mengatakan secara eksplisit. Namun, dari hasil analisis saya, teori yang digunakan adalah historiografi kritis untuk menyusun kembali narasi sejarah yang sering kali dipenuhi glorifikasi tokoh kolonial. Beberapa bukti yang menunjukan penggunaan teori ini ialah, Tim Hannigan berusaha membantah narasi-narasi terdahulu yang mengatakan Raffles adalah sosok pahlawan yang patut dihormati.
Tim Hannigan menggambarkan Raffles sebagai sosok yang aneh, rumit, pencuri, pahlawan, jenius, dan penipu yang sangat kompleks. Di satu sisi Raffles dikenal sebagai pahlawan yang dianggap membawa kemajuan pada Singapura. Namun di sisi lain, Raffles juga digambarkan sebagai seorang iblis oleh beberapa sejarawan Belanda.
Jika kita mencari sumber lain, tidak sedikit studi yang menampilkan Raffles sebagai pahlawan atau agen pencerahan kolonial. Misalnya pada buku Memoir of the Life and Public Services of Sir Thomas Stamford Raffles (1830), disitu Raffles digambarkan sebagai sosok yang hebat dan sangat baik, buku ini sendiri berisikan surat-surat yang ditulis Raffles serta balasan-balasannya. Meski begitu, terdapat beberapa hal yang patut diragukan atau dengan kata buku ini sangat mencurigakan, mengapa? Buku Memoir of the Life and Public Services of Sir Thomas Stamford Raffles (1830) sendiri disusun oleh Sophia Raffles yang merupakan istri kedua Raffles setelah Olivia Mariamne. Hal ini menimbulkan kecurigaan, bahwa Sophia Raffles melakukan penghapusan atau seleksi terhadap bagian yang tidak mendukung Raffles sebagai sosok pahlawan. Karya lain seperti artikel berjudul THOMAS STAMFORD RAFFLES: Seorang Universalis atau Imperialis? Oleh Hariyono & Daya Negri Wijaya juga menekankan bahwa Raffles adalah seorang humanis yang barhasil membebaskan budak.
Sekali lagi Tim Hannigan menolak dua pandangan diatas, pada hal. 381, Hannigan (2024) “Raffles memiliki keyakinan bahwa dia dan hanya dia lah yang tahu apa yang terbaik, Belanda jahat, dan siapa yang protes harus segera disingkirkan”. Jelas, ia sangat menolak apa yang dilakukan Raffles di Indonesia, keadaan Indonesia jelas berbeda dengan apa yang ada di Singapura, Indonesia luas dengan 17.000 pulau dan ratusan bahasa, sedangkan singapura, hanya seukuran Pulau Wight. Terdapat seseorang yang memiliki pendapat yang sama dengan Tim Hannigan, bahkan ia hidup sezaman dengan Raffles, yaitu Gillespie. Konflik antara Raffles dengan Gillespie merupakan persaingan dalam memperebutkan kedudukan di Jawa.
Akhir kisah Raffles di Jawa terbilang sangat tragis, ia harus pensiun dengan berbagai tuduhan yang menjeratnya dan kesehatannya pun kian memburuk, pada akhirnya Raffles meninggal pada 5 Juli 1826 di Mill Hill, Britania Raya. Penyebab kematiannya diduga karena tumor otak. Namun, namanya seringkali dibicarakan bahkan hampir seabad setelah kematiannya, simpel, alasannya karena ia menulis.
Salah satu yang menjadikan buku ini menarik dari sudut pandang saya adalah buku ini lahir dari pernyataan siswa SMA yang mengatakan bahwa Indonesia akan lebih baik jika dahulu dijajah Inggris ketimbang Belanda. Bukannya merenung karena negaranya dijajah, melainkan karena dijajah oleh negara yang salah. Pernyataan ini seolah memantik Tim Hannigan untuk membuktikan apakah pernyataan itu benar adanya, lalu lahirlah buku Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa. Pola yang sama pun saya temui ketika membaca buku Guns, Germ & steel buku ini juga lahir dari pertanyaan “mengapa orang kulit putih membuat banyak barang berharga, sedangkan kami orang kulit hitam hanya memiliki sedikit barang berharga?” Jared Diamond lantas melakukan penelitian yang panjang untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dari sini bisa kita lihat bahwa pertanyaan yang dianggap sederhana justru yang melahirkan suatu karya yang hebat.
Buku karya Tim Hannigan ini disajikan dengan gaya bahasa naratif yang hidup, ini juga menjadi salah satu kelebihan dari buku Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa. Sedangkan yang menjadi kekurangan dari buku ini adalah terlalu fokus pada pribadi Raffles, sehingga mengabaikan beberapa point-point penting lainnya seperti pendudukan Jawa oleh Inggris.
