Ekonomi ‘Self-Reward’: Menjaga Kesehatan Mental atau Pembenaran Perilaku Boros?

Mahasiswa Ekonomi Syariah Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari M Ibnu Hanafi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu merasa sangat lelah setelah melewati pekan yang berat? Entah karena tugas yang menumpuk, deadline pekerjaan yang mepet, atau permasalahan yang menguras emosi. Lalu membuka aplikasi belanja dan spontan berkata “Gapapa sudah beli ini, hitung-hitung self-reward!”?
Setelah membuka HP, jempol kita bergerak cepat membuka aplikasi e-commerce, kemudian memesan kopi susu ukuran jumbo atau mungkin langsung check-out keranjang belanjaan yang sudah mengendap berminggu-minggu. Rasa puas dan lega langsung hadir. Namun, apakah itu benar-benar bentuk apresiasi diri untuk kesehatan mental, atau sekedar pembenaran saja atas perilaku boros?
Fenomena self-reward kini telah bertransformasi menjadi bagian dari gaya hidup, khususnya di kalangan generasi muda dan mahasiswa. Apresiasi diri sendiri bukanlah hal yang salah. Psikologi pun memandang sebagai langkah valid untuk menjaga keseimbangan mental agar terhindar dari burnout.
Namun, ketika self-reward dilakukan tanpa batasan maka akan berubah menjadi kebiasaan impulsif, disinilah letak permasalahannya.
Ketika Apresiasi Diri Berubah Menjadi Israf
Dalam kacamata ekonomi syariah, fenomena ini sangat menarik untuk dipelajari. Agama dan logika ekonomi tidak pernah melarang seseorang untuk menikmati hasil kerja kerasnya. Memanjakan diri dengan hal-hal baik dan halal justru merupakan ungkapan rasa syukur.
Namun, batasan antara kebutuhan dan keinginan berlebihan sering kali buyar ketika dibungkus dengan narasi self-reward.
Dalam konteks muamalah, kebiasaan berbelanja tanpa kendali dengan dalih kesehatan mental beresiko jatuh pada perilaku israf (berlebih-lebihan) dan tabdzir (mubazir). Ketika anggaran yang seharusnya dialokasikan untuk kebutuhan mendasar justru habis oleh rentetan self-reward yang dilakukan berulang-ulang, yang sebenarnya kita lakukan itu hanya menukar ketenangan finansial jangka panjang demi kepuasan emosional sesaat.
Secara tidak sadar, industri pasar hari ini telah membaca celah psikologis dengan sangat cerdik. Dibalut narasi “You deserve this!” diproduksi secara masif oleh strategi pemasaran modern. Lalu hasilnya? Self-reward yang tadinya hanya sekedar tindakan healing berubah menjadi mesin konsumerisme yang terus menagih uang kita.
Mengembalikan Self-Reward pada Esensinya
Bagaimana caranya agar kita tetap bisa menyayangi diri sendiri tanpa harus menguras habis isi dompet kita? Jawabannya terletak pada kesadaran finansial yang beretika (mindful spending).
Dalam konsep Maqashid Syariah, salah satu tujuan utama pengelolaan keuangan adalah Hifdz al-Mal (Menjaga Harta). Menjaga harta disini tidak berarti kita menjadi sosok yang pelit pada diri sendiri, melainkan kita menjadi pengelola yang bijak dan cerdas. Harta yang dikelola dengan baik itu akan memberikan rasa aman dan tenang di masa depan yang secara tidak langsung akan berdampak positif pada kesehatan mental kita.
Penutup
Kesehatan mental dan kesehatan finansial sebenarnya adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Mengorbankan salah satunya hanya akan memicu masalah baru di hari esok. Tidak ada gunanya merayakan self-reward hari ini jikalau besok pagi kita harus cemas melihat sisa saldo rekening.
Sudah saatnya kita lebih jujur pada diri sendiri. “apakah belanjaan yang baru kita check-out benar-benar bisa menyembuhkan rasa lelah di kepala, atau Cuma cara kita lari dari kenyataan?
Mari jadikan self-reward ini hanya sebagai bentuk kasih sayang utuh pada diri sendiri atau ungkapan rasa syukur.
