Konten dari Pengguna

Memahami Moneter Islam: Konsep Dasar hingga Perbandingannya dengan Sistem Modern

M Ibnu Hanafi

M Ibnu Hanafi

Mahasiswa Ekonomi Syariah Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Ibnu Hanafi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Uang merupakan alat tukar sah yang digunakan untuk transaksi. Sumber : Milik Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Uang merupakan alat tukar sah yang digunakan untuk transaksi. Sumber : Milik Pribadi

Uang merupakan urat nadi dalam roda perekonomian global. Lewat uang, transaksi akan berjalan, investasi bisa mengalir, hingga kesejahteraan masyarakat dapat diukur. Namun, dinamika perekonomian dunia yang sering diwarnai krisis, ada inflasi yang tak terkendali, hingga gejolak nilai tukar menimbulkan pertanyaan mendasar : Apakah sistem moneter yang kita gunakan ini sudah adil dan cukup solid?

Dalam sistem moneter modern atau biasa dikenal konvensional, suku bunga merupakan instrumen utama yang digunakan untuk mengendalikan jumlah uang yang beredar dan menekan inflasi. Dalam sistem ini, uang tidak hanya berfungsi sebagai alat tukar, tetapi uang diperlakukan sebagai komoditas yang bisa diperjualbelikan dan menghasilkan keuntungan dengan sendirinya.

Di sisi lain, Ekonomi Moneter Islam menawarkan paradigma yang berakar pada prinsip keadilan, keberlanjutan, dan keterikatan langsung dengan perekonomian riil. Moneter Islam sendiri hadir bukan sekedar alternatif berlabel syariah, melainkan sebagai tatanan yang dapat merombak konsep dasar uang dan instrumen pengelolanya.

Artikel ini akan mengajak Anda semua untuk memahami sistem moneter islam secara bertahap yang dimulai dari konsep dasar uang, prinsip kebijakan moneter syariah, hingga perbandingannya dengan sistem moneter konvensional.

Konsep Dasar Uang dalam Perspektif Islam

Untuk memahami sistem moneter islam, langkah pertama nya adalah memahami fungsi dan kedudukan uang terlebih dahulu. Dalam syariat islam, uang memiliki aturan main yang sangat tegas, yakni :

- Uang adalah Alat Tukar, Bukan Komoditas

Dalam Islam, uang diciptakan hanya untuk memfasilitasi transaksi barang dan jasa. Uang juga tidak boleh ditimbun ataupun dijadikan sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan untuk mencari keuntungan semata.

- Tidak Mengenal Time Value of Money, Melainkan Economic Value of Time

Pada sistem konvensional menganggap bahwa uang akan bertambah nilainya seiring dengan waktu. Sedangkan, Islam memandang bahwa waktu memiliki nilai ekonomi hanya jika digabungkan dengan usaha, risiko, dan modal riil.

- Larangan Riba, Gharar, dan Maysir

Moneter islam sangat melarang segala bentuk transaksi yang didalamnya mengandung unsur bunga (Riba), ketidakpastian (Gharar), serta judi/spekulasi (maysir).

Tujuan dan Instrumen Kebijakan Moneter Islam

Kebijakan moneter dalam islam memiliki tujuan untuk mencapai stabilitas nilai uang, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta menciptakan keadilan distribusi pendapatan lewat ZISWAF.

Namun, karena sistem moneter islam melarang penggunaan suku bunga sebagai alat kontrol, moneter islam ini menggunakan beberapa instrumen alternatif, diantaranya :

1. Prinsip Bagi Hasil (Profit-Loss Sharing)

Digunakan sebagai pengganti suku bunga pasar uang, imbal hasil ini ditentukan berdasarkan rasio bagi hasil atau dikenal sebagai nisbah pada sektor riil.

2. Giro Wajib Minimal (Reserve Requirement)

Mewajibkan bank-bank syariah untuk menyisihkan persentase tertentu dari dana pihak ketiga di bank sentral untuk mengendalikan likuiditas.

3. Instrumen Berbasis Aset (Sukuk)

Menerbitkan surat berharga syariah yang dijamin oleh aset riil untuk menyerap / menyuntikkan likuiditas di pasar uang

4. Al-Qardh al-Hasan (Pinjaman Kebajikan)

Fasilitas bantuan finansial tanpa imbalan material (tanpa bunga) untuk menjaga stabilitas keuangan dalam kondisi darurat.

5. Himbauan Moral

Mengarahkan alokasi pembiayaan perbankan ke sektor-sektor prioritas yang produktif dan memberikan dampak sosial yang nyata.

Perbandingan antara Moneter Modern Vs Sistem Moneter Islam

Foto : Ringkasan Perbedaan Sistem Moneter Modern dan Sistem Moneter Islam. Sumber : Milik Pribadi

Mengapa Sistem Moneter Islam Lebih Tahan Krisis?

Salah satu keunggulan utama dari sistem moneter islam terletak pada keterikatan antara sektor keuangan dan sektori riil. Dalam sistem konvensional, transaksi spekulatif di pasar modal sering kali tumbuh jauh melampaui jumlah barang dan jasa yang benar-benar tersedia (dikenal sebagai fenomena bubble economy). Ketika gelembung spekulasi tersebut pecah, maka timbullah krisis keuangan global.

Dalam moneter islam, ekspansi terhadap uang tidak bisa berjalan sendiri tanpa adanya keterikatan langsung dengan barang, jasa, atau proyek investasi riil. Akibatnya, tidak adanya ruang untuk spekulasi berlebihan, risiko bisa ditanggung bersama secara adil melalui mekanisme bagi hasil, dan tekanan inflasi akibat money creation dapat ditekan secara signifikan.

Penutup

Dengan memahami moneter islam, semoga dapat memberikan kita sudut pandang baru bahwa pengelolaan terhadap uang tidak harus selalu bergantung pada suku bunga dan spekulasi. Dengan menempatkan uang kembali pada fungsi sebagai alat tukar dan selalu mengikat pada setiap aktivitas keuangan dengan sektor riil, sistem moneter islam menawarkan pondasi perekonomian yang lebih stabil, transparan, dan adil.

Tentang Penulis :

Muhammad Ibnu Hanafi, Mahasiswa Ekonomi Syariah. Tertarik pada isu sosial, keagamaan, investasi, dan Perekonomian di Indonesia