Algoritma Merebut Selera Asli Kita Tanpa Pernah Disadari

Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Pamulang
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Ibrahim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu menyadari bahwa algoritma kini hadir di hampir setiap keputusan kecil hidup kita? Dari memilih kafe untuk hangout, menentukan film yang ditonton di akhir pekan, sampai membeli skincare yang viral. Fenomena ini erat kaitannya dengan perkembangan media sosial dan teknologi digital yang semakin melekat dalam rutinitas harian masyarakat Indonesia. Kita hidup di era ketika pertanyaan "apa maumu?" tak lagi dijawab oleh hati, melainkan oleh baris kode yang diam-diam merekam setiap langkah kita.
Bagaimana Algoritma Bekerja Membentuk Pilihan Kita
Algoritma bekerja dengan cara belajar dari perilaku kita. Setiap detik kita berhenti menonton sebuah video, setiap jempol yang menekan tombol suka, setiap pencarian yang kita ketik, bahkan lama waktu kita menatap satu gambar, itu semua adalah data. Dari data itulah mesin merekomendasi menyusun "peta selera" kita, lalu menyajikan konten yang paling mungkin kita konsumsi.
Prosesnya terjadi dalam hitungan milidetik dan tanpa henti. Bayangkan: seorang pengguna rata-rata menghabiskan dua hingga empat jam sehari di media sosial. Itu artinya ada jutaan sinyal perilaku yang dikirim ke sistem setiap minggunya. Tidak heran jika lama-kelamaan, rekomendasi yang muncul terasa begitu tepat sasaran bahkan hampir seperti dibaca pikiran.
Masalahnya, semakin akurat rekomendasi tersebut, semakin jarang kita berpikir dua kali. Kenapa perlu repot memilih, jika algoritma sudah tahu apa yang "cocok" untuk kita?
Dari Rekomendasi Menjadi Ketergantungan
Perhatikan pola kalimat yang makin umum kita dengar:
"TikTok bilang tempat ini bagus, jadi saya datang."
"Algoritma merekomendasikan film ini, jadi saya tonton."
"Banyak orang membeli produk ini, berarti bagus."
"Video ini FYP, jadi mungkin empat enak."
"Rating-nya 4,9 di aplikasi, jadi saya pesan."
Ada tiga mekanisme psikologis yang bekerja di baliknya:
Pertama, social proof. Kita adalah makhluk sosial yang secara alami menganggap popularitas sebagai bukti kualitas. Jika satu juta orang menonton, berarti bagus. Padahal popularitas bisa dimanipulasi, dan hal yang ramai belum tentu cocok untuk kita.
Kedua, decision fatigue atau kelelahan memutuskan. Setiap hari kita dihadapkan pada ribuan pilihan: ratusan film, ribuan produk, jutaan konten. Otak yang lelah akhirnya memilih jalan pintas paling mudah—ikuti saja rekomendasi yang diberikan. Algoritma hadir sebagai "pahlawan" yang meringankan beban ini, tapi tanpa kita sadari, kita juga menyerahkan kendali.
Ketiga, personalisasi yang terlalu sempurna. Ketika rekomendasi terasa sangat akurat, rasa percaya tumbuh. "Wah, dia tahu banget selera gue." Padahal yang terjadi hanyalah mesin yang memantulkan kembali pola perilaku kita sendiri, seperti cermin yang dihaluskan lalu disajikan sebagai pilihan.
Cerita dari Kehidupan Sehari-hari
Ambil contoh ilustrasi sederhana. Rina, seorang pekerja kantoran usia 27 tahun, membuka aplikasi videonya saat sarapan. Dalam sepuluh menit, ia menonton review kopi enak, rekomendasi drama Korea, dan diskon produk sepatu. Siang itu, ia memesan kopi dari kafe yang tadi pagi ia lihat videonya. Malamnya, ia menonton drama Korea yang muncul di halaman "Rekomendasi Untukmu". Akhir pekan berikutnya, ia membeli sepatu yang diskonnya ia lihat.
Rina merasa semuanya adalah keputusannya sendiri. Dan secara teknis, memang benar, dialah yang menekan tombol "pesan" dan "beli". Tapi coba telusuri ke belakang, setiap keputusan itu bermula dari konten yang dipilihkan untuknya. Ia tidak mencari, melainkan hanya menerima apa yang disodorkan.
Ini bukan cerita tentang satu orang. Ini cerita tentang jutaan dari kita yang setiap hari menjalani pola serupa, misalnya makan apa yang ditampilkan, menonton apa yang direkomendasikan, membeli apa yang diborong orang lain.
[Gambar 2 — alt image: "dampak algoritma terhadap keputusan sehari-hari"]
Ketika Selera Kita Ternyata Bukan Milik Kita
Bahaya terbesarnya bukan pada satu keputusan, melainkan pada efek kumulatifnya. Jika yang kita tonton, makan, beli, dan sukai semuanya hasil rekomendasi, lama-kelamaan kita berhenti mengeksplorasi. Kotak selera kita menyempit. Ini yang disebut filter bubble, kita hidup dalam gelembung yang isinya hanya pantulan dari diri kita sendiri.
Ada istilah lain yang sering dipakai yaitu echo chamber. Karena algoritma cenderung menyajikan hal yang serupa dengan yang sudah kita sukai, kita makin jarang dihadapkan pada hal baru, ide berbeda, atau selera yang berlawanan. Penikmat lagu pop tidak akan disodori jazz. Pecinta kuliner pedas jarang diberi rekomendasi masakan lain. Dunia kita terasa "nyaman", tapi juga sempit.
Lebih jauh lagi, keputusan yang selalu diserahkan pada mesin bisa menumpulkan kemampuan menilai. Rasanya mirip dengan menggunakan GPS terus-menerus hingga lupa arah. Hanya saja kali ini, yang hilang bukan arah jalan, melainkan arah selera. Ada generasi muda yang ketika ditanya "sebenarnya kamu suka apa?" menjawab bingung, karena selama ini yang mereka tahu hanyalah apa yang ditampilkan layar.
Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?
Kita perlu jujur pada satu hal: algoritma tidak dirancang untuk membuat kita bahagia atau bijak. Ia dirancang untuk satu tujuan, yaitu menahan perhatian kita selama mungkin. Semakin lama kita menonton, semakin banyak iklan yang tayang. Semakin sering kita membeli, semakin besar komisi platform.
Artinya, di balik setiap rekomendasi yang terasa "membantu", ada kepentingan bisnis yang bekerja. Rekomendasi restoran mungkin muncul karena kafe tersebut memasang iklan. Produk yang muncul terus-menerus bisa jadi bukan karena paling bagus, tapi karena pemasarnya paling agresif. Viral bukan selalu berarti berkualitas, namun bisa jadi hanya berarti paling mampu memancing emosi.
Ini bukan berarti semua rekomendasi jahat. Banyak yang benar-benar berguna, contohnya menemukan lagu bagus, tempat wisata tersembunyi, atau ilmu baru. Tapi kita perlu sadar bahwa algoritma adalah pialang komersial, bukan sahabat yang netral.
Mengambil Kembali Kendali
Kabar baiknya, kita tidak perlu menolak teknologi sepenuhnya. Cukup ubah posisi kita, dari pengikut menjadi pengguna yang sadar. Beberapa cara sederhana:
Beri jeda sebelum mengikuti rekomendasi. Tanya diri sendiri: "Ini karena saya memang suka, atau karena disuruh suka?"
Sengaja mencari di luar linimasa. Tanya teman, baca buku, jalan-jalan tanpa tujuan, coba genre yang biasanya tidak kamu sentuh.
Bersihkan jejak digital secara berkala. Hapus riwayat tontonan, reset rekomendasi, atau matikan personalisasi agar kotak selera tidak mengunci diri.
Latih otot memilih. Mulai dari keputusan kecil, misalnya pilih restoran sendiri, pilih film sendiri, rasakan salahnya dan itu bagian dari belajar.
Pisahkan waktu tanpa layar. Satu jam sehari tanpa gawai memberi ruang bagi pikiran untuk bersuara, tanpa disodori saran dari mesin.
Baca ulasannya, tapi tetap verifikasi. Lihat berbagai sumber, bandingkan, jangan berhenti pada satu video review.
Pada akhirnya, algoritma hanyalah alat berupa cermin yang memantulkan data dari diri kita. Ia bisa menjadi asisten yang membantu, atau pengendali yang senyap, tergantung siapa yang memegang kendali. Teknologi terbaik seharusnya memperluas dunia kita, bukan menyempitkannya. Jadi sebelum mengetik "TikTok bilang ini bagus", coba tanyakan sekali lagi: apakah ini benar-benar pilihanmu, atau pilihan yang disiapkan untukmu?
Mungkin sudah saatnya kita kembali percaya pada satu hal yang selama ini terlupakan: bahwa selera sendiri juga layak didengarkan.
