Konten dari Pengguna

Kenapa Gen Z Semakin Sulit Membayangkan Hidup Tanpa Internet?

Ibrahim

Ibrahim

Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ibrahim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Gen Z Menggunakan Internet. Sumber: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gen Z Menggunakan Internet. Sumber: Unsplash.

Bayangkan satu hari tanpa internet. Tidak ada WhatsApp untuk mengirim pesan, Google untuk mencari informasi, media sosial untuk melihat kabar teman, atau aplikasi untuk memesan makanan dan transportasi. Bagi banyak orang, terutama Gen Z, kondisi tersebut mungkin terdengar seperti sesuatu yang sulit dibayangkan.

Bukan karena Gen Z tidak pernah mengenal kehidupan tanpa internet. Sebagian dari mereka masih sempat merasakan masa ketika internet belum secepat sekarang. Namun, ketika teknologi digital berkembang begitu cepat, internet perlahan berubah dari sekadar alat menjadi bagian dari rutinitas.

Survei APJII 2026 menunjukkan penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 81,7 persen. Pada kelompok Gen Z, angkanya mencapai 89,02 persen. Data tersebut menunjukkan betapa eratnya hubungan generasi muda dengan kehidupan digital.

Dari Bangun Tidur hingga Kembali Tidur

Banyak orang memulai pagi dengan melihat layar smartphone. Sebelum benar-benar bangun dari tempat tidur, notifikasi sudah diperiksa. Setelah itu, internet digunakan untuk membaca berita, melihat media sosial, mencari informasi, mengikuti kelas, bekerja, atau sekadar menonton video.

Malam hari pun tidak jauh berbeda. Sebelum tidur, smartphone kembali menjadi teman terakhir yang dilihat.

Tanpa disadari, internet hadir di hampir setiap bagian kehidupan. Kita tidak selalu menggunakannya karena memiliki kebutuhan tertentu. Kadang kita membukanya hanya karena sudah terbiasa.

Di sinilah hubungan Gen Z dengan internet menjadi menarik. Internet bukan lagi sesuatu yang sengaja kita datangi. Internet justru selalu ikut bersama kita.

Internet Bukan Lagi Sekadar Tempat Mencari Informasi

Dulu, internet mungkin lebih sering dipandang sebagai sumber informasi. Bahkan sekarang fungsinya jauh lebih luas.

Internet menjadi tempat belajar, bekerja, berbelanja, mencari hiburan, membangun pertemanan, bahkan membentuk identitas. Media sosial membuat kehidupan digital semakin personal karena seseorang dapat menunjukkan apa yang disukai, dipikirkan, atau sedang dilakukan.

Bagi Gen Z, kehidupan offline dan online juga semakin sulit dipisahkan.

Teman yang ditemui di kampus bisa tetap berkomunikasi melalui grup chat. Peristiwa yang terjadi di sekitar kita bisa langsung muncul di media sosial. Tren dari negara lain dapat menjadi pembicaraan di Indonesia hanya dalam hitungan jam.

Internet membuat dunia terasa jauh lebih dekat. Namun, kedekatan itu juga membuat kita semakin bergantung kepadanya.

Ketika Tidak Terhubung Terasa Seperti Tertinggal

Ada perasaan aneh ketika smartphone tertinggal di rumah atau koneksi internet tiba-tiba terputus.

Kita mulai bertanya-tanya apakah ada pesan yang belum dibaca, informasi yang terlewat, atau sesuatu yang sedang ramai dibicarakan.

Perasaan tersebut menunjukkan bahwa internet tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga menciptakan kebutuhan untuk selalu terhubung.

Survei Jakpat yang dilakukan pada akhir 2025 menunjukkan 63 persen Gen Z Indonesia menggunakan waktu luang untuk scroll media sosial. Angka tersebut menggambarkan betapa kuatnya ruang digital dalam aktivitas sehari-hari generasi muda.

Masalahnya bukan sekadar berapa lama kita menggunakan internet. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang terjadi ketika kita merasa tidak nyaman saat tidak menggunakannya?

Apakah Gen Z Benar-Benar Tidak Bisa Hidup Tanpa Internet?

Sebenarnya, mungkin bukan tidak bisa. Gen Z tetap bisa hidup tanpa internet. Yang sulit adalah membayangkan bagaimana kehidupan akan berjalan tanpa berbagai kemudahan yang sudah diberikan internet.

Tanpa internet, mencari informasi membutuhkan lebih banyak waktu. Berkomunikasi dengan orang yang jauh menjadi lebih sulit. Pembelajaran digital terhenti. Transaksi menjadi kurang praktis. Banyak pekerjaan bahkan harus dilakukan dengan cara yang berbeda.

Artinya, persoalannya bukan semata-mata tentang ketergantungan Gen Z terhadap internet.

Internet telah berubah menjadi infrastruktur kehidupan modern. Sama seperti listrik atau transportasi, kita baru benar-benar menyadari pentingnya ketika sesuatu itu tidak tersedia.

Yang Perlu Dipelajari Bukan Cara Lepas dari Internet

Mungkin kita tidak perlu mengajarkan Gen Z untuk meninggalkan internet. Yang lebih penting adalah belajar menggunakannya dengan sadar.

Internet bisa menjadi tempat belajar yang luar biasa, tetapi juga bisa menjadi sumber distraksi. Media sosial dapat memperluas pertemanan, tetapi juga dapat membuat seseorang terus membandingkan dirinya dengan orang lain.

Teknologi digital bukan sesuatu yang harus dimusuhi. Yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana kita menempatkan teknologi dalam kehidupan.

Apakah kita yang menggunakan internet, atau justru internet yang menentukan apa yang kita lihat, pikirkan, dan lakukan?

Pada akhirnya, Gen Z mungkin memang akan menjadi salah satu generasi yang paling sulit membayangkan kehidupan tanpa internet.

Namun, tantangannya bukan bagaimana kembali ke kehidupan sebelum internet, melainkan memastikan bahwa ketika internet menjadi bagian dari kehidupan, kita tetap menjadi pihak yang memegang kendali atas kehidupan kita sendiri.