Konten dari Pengguna

Ngopi Terus, Kapan Nabungnya? Tantangan Finansial Gen Z

Ibrahim

Ibrahim

Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ibrahim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Gen Z menikmati kopi di coffee shop. Sumber: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gen Z menikmati kopi di coffee shop. Sumber: Unsplash

Ngopi seharga Rp25 ribu atau Rp30 ribu mungkin terlihat seperti pengeluaran kecil. Tidak terlalu mahal, apalagi jika hanya dilakukan sesekali.

Namun, coba hitung jika kebiasaan itu dilakukan beberapa kali dalam seminggu. Ditambah makan setelah ngopi, ongkos perjalanan, pesan makanan lewat aplikasi, atau sekadar membeli sesuatu karena sedang ada promo.

Tanpa terasa, pengeluaran kecil tersebut bisa mengambil bagian cukup besar dari uang yang seharusnya masuk ke tabungan.

Bagi sebagian Gen Z, ngopi dan nongkrong memang sudah menjadi bagian dari keseharian. Coffee shop bukan hanya tempat membeli minuman, tetapi juga tempat mengerjakan tugas, bertemu teman, berdiskusi, bekerja, atau sekadar mencari suasana baru.

Masalahnya bukan pada kopi.

Persoalannya adalah ketika berbagai pengeluaran kecil menjadi kebiasaan yang dilakukan terus-menerus tanpa pernah dihitung.

Bukan Kopinya, tetapi Kebiasaan di Baliknya

Menganggap Gen Z sulit menabung hanya karena suka membeli kopi tentu terlalu sederhana.

Seseorang bisa saja membeli kopi setiap minggu tetapi tetap memiliki kondisi keuangan yang sehat. Sebaliknya, orang yang jarang ngopi juga bisa kesulitan menabung jika memiliki banyak pengeluaran lain.

Yang sering luput adalah akumulasi.

Rp30 ribu untuk kopi mungkin terasa ringan. Begitu juga Rp20 ribu untuk ongkos tambahan, Rp25 ribu untuk makanan ringan, atau Rp50 ribu karena tergoda promo.

Masing-masing terlihat kecil ketika dilakukan secara terpisah. Namun, jika semuanya terjadi berulang kali dalam satu bulan, jumlahnya tentu berbeda.

Di sinilah tantangan sebenarnya. Bukan tentang apakah Gen Z boleh menikmati kopi atau tidak, tetapi apakah setiap pengeluaran sudah disadari dan direncanakan.

Ketika Nongkrong Menjadi Bagian dari Gaya Hidup

Perkembangan coffee shop dan budaya nongkrong membuat aktivitas minum kopi tidak lagi sekadar soal kebutuhan.

Ada pengalaman yang ikut dibeli.

Tempat yang nyaman, suasana, musik, pertemuan dengan teman, hingga kesempatan untuk membuat konten di media sosial menjadi bagian dari pengalaman tersebut.

Hal ini tidak selalu buruk. Manusia tentu membutuhkan hiburan dan ruang untuk bersosialisasi.

Namun, media sosial juga dapat membuat gaya hidup terlihat seperti sesuatu yang harus diikuti.

Melihat teman nongkrong di tempat tertentu, mencoba menu yang sedang viral, atau mengikuti tren baru dapat menciptakan dorongan untuk melakukan hal yang sama.

Akhirnya, keputusan mengeluarkan uang tidak selalu didasarkan pada kebutuhan. Kadang, kita hanya tidak ingin merasa tertinggal.

Uang Digital Membuat Pengeluaran Terasa Lebih Ringan

Ada perubahan lain yang membuat kebiasaan konsumsi semakin mudah dilakukan: cara kita membayar.

Saat ini, membayar kopi, makanan, transportasi, hingga belanja bisa dilakukan hanya dengan beberapa sentuhan di layar.

Kita tidak perlu mengeluarkan uang tunai dari dompet.

Akibatnya, sebagian pengeluaran mungkin terasa lebih ringan secara psikologis. Transaksi Rp30 ribu terlihat seperti angka kecil di layar, kemudian dilupakan beberapa menit setelah pembayaran.

Padahal, saldo tetap berkurang.

Kemudahan pembayaran digital memang memberikan banyak manfaat. Tetapi kemudahan tersebut juga membuat kita perlu lebih sadar terhadap pola pengeluaran sendiri.

Jadi, Haruskah Gen Z Berhenti Ngopi?

Tidak.

Menabung bukan berarti harus berhenti menikmati hidup.

Justru pengelolaan keuangan yang sehat seharusnya memberikan ruang untuk kebutuhan, tabungan, sekaligus hiburan.

Masalahnya adalah ketika hiburan mengambil porsi yang terlalu besar hingga tujuan finansial selalu berada di urutan terakhir.

Daripada bertanya, “Berapa kali saya boleh ngopi dalam sebulan?”, mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah, “Setelah semua pengeluaran ini, apakah saya masih menyisihkan uang untuk diri saya di masa depan?”

OJK sendiri terus mendorong penguatan budaya menabung dan literasi keuangan bagi generasi muda. Dalam SNLIK 2026, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia tercatat 69,57 persen. Angka tersebut menunjukkan pentingnya kemampuan mengelola keuangan agar pengetahuan finansial tidak berhenti sebagai teori, tetapi diterapkan dalam kebiasaan sehari-hari.

Menabung Dimulai dari Menyadari Pengeluaran

Pada akhirnya, secangkir kopi bukan penyebab seseorang gagal menabung. Yang lebih penting adalah kebiasaan di baliknya.

Pengeluaran kecil yang dilakukan tanpa perhitungan dapat menjadi besar ketika berlangsung terus-menerus. Sebaliknya, kebiasaan sederhana seperti menyisihkan uang terlebih dahulu setelah menerima penghasilan dapat membuat tujuan finansial terasa lebih realistis.

Jadi, Gen Z tidak harus berhenti ngopi.

Tetap boleh menikmati kopi, nongkrong, atau membeli sesuatu yang disukai. Tetapi jangan sampai setiap bulan kita lebih hafal menu coffee shop daripada jumlah uang yang berhasil masuk ke tabungan.

Karena menikmati hari ini memang penting. Namun, mempersiapkan kehidupan di masa depan juga tidak kalah penting.