Konten dari Pengguna

Batik Sampoang: Menenun Cerita dari Pesisir Bontang ke Pasar Lebih Luas

Ica Clodia Br Tarigan

Ica Clodia Br Tarigan

Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Mulawarman

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ica Clodia Br Tarigan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selasa, 12 Agustus 2025, 16:32 PM. Foto oleh penulis (hasil potret sendiri)
zoom-in-whitePerbesar
Selasa, 12 Agustus 2025, 16:32 PM. Foto oleh penulis (hasil potret sendiri)

Di sebuah rumah kecil sederhana di Jalan Kenanga, RT 30, Kelurahan Tanjung Laut, Bontang Selatan, suara langkah goresan canting, dan aroma malam berpadu menjadi simfoni khas pengrajin batik. Rumah produksi Batik Sampoang, satu-satunya batik tulis asli Kota Bontang yang memadukan keindahan biota laut dengan sentuhan khas motif khas Kalimantan.

Didirikan pada 2021 oleh Taufan Arifuddin di bawah binaan PT KNI sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responibility/CSR), Batik Sampoang lahir dari niat ssederhana namun bermakna besar, memberdayakan ibu rumah tangga dan melestarikan budaya lokal. Sebanyak 16 perempuan aktif memproduksi kain batik yag menjadi simbol pesisir laut Bontang-sesuai dengan arti kata Sampoang dalam bahasa Mamuju: pesisir.

Motif Batik Sampoang mengangkat ekosistem pesisir Bontang-mangrove, kerang, ikan, hingga corak alam Kalimantan. Setiap helai kain bukan hanya hiasan visual, melainkan narasi budaya.

Kamis, 12 Agustus 2025, 16:32 PM. Foto oleh penulis (hasil potret sendiri)

Teknik produksi menjadi keunikan tersendiri. Batik Sampoang mengandalkan teknik tulis sebagai ciri utama, dipadukan dengan metode ciprat dan cap. Dalam 3-4 hari, selembar kain katun berkualitas diubah menjadi karya seni bercorak warna cerah yang tidak mudah luntur-dibuat dengan ketelitian tinggi.

Batik Sampoang bukan sekedar karya seni, tetapi juga instrumen pemberdayaan ekonomi mikro. Mayoritas pengrajin adalah ibu rumah tangga yang mencari penghasilan tambahan sambil merawat keluarga. Pemberdayaan perempuan melalui ekonomi kreatif.

Namun, seperti banyak UMKM lainnya, Batik Sampoang menghadapi hambatan: promosi yang masih mengandalkan mulut ke mulut, minimnya aktivitas di media sosial, tempat produksi yang kecil, keterlambatan bahan baku, hingga inkonsistensi produksi karena keterbatasan waktu pengrajin. Dalam kerangka ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal, kendala ini menunjukkan perlunya integrasi antara kreativitas budaya dan infrastruktur pendukung yang memadai.

Menembus Pasar: Dari Bontang ke INACRAFT

Meski tantangan besar membayangi, Batik Sampoang telah membuktikan kemampuannya menembus panggung nasional. Pada 2023, mereka tampil di The 23rd Jakarta International Handicraft Trade Fair (INACRAFT)—pameran kerajinan terbesar di Asia Tenggara dengan tema “From Smart Village to Global Market”. Partisipasi ini bukan hanya promosi, tetapi bentuk nyata cultural diplomacy dari Bontang: memperkenalkan identitas lokal di forum yang dihadiri pelaku industri kreatif internasional.

Pada Mei 2025, Batik Sampoang meraih Penghargaan Nasional TJSL UMKM Pariwisata dan Kebudayaan 2025 untuk kategori pengembangan UMKM Kelompok Wanita. Prestasi ini membuktikan bahwa dengan dukungan strategis, produk lokal dapat bersaing dalam arena yang lebih besar.

Cultural diplomacy adalah strategi membangun citra negara melalui kebudayaan, memperkuat nation branding, dan menciptakan pemahaman lintas budaya. Batik Sampoang adalah contoh konkret bagaimana diplomasi budaya dapat dimulai dari level lokal.

Melalui narasi visual motif pesisir, batik ini menyampaikan pesan tentang kekayaan ekosistem laut Bontang, kreativitas perempuan lokal, dan kualitas kerajinan tangan Indonesia. Jika terintegrasi dengan strategi promosi global—misalnya melalui pameran internasional, kolaborasi desainer global, atau platform e-commerce lintas negara—Batik Sampoang dapat menjadi simbol Indonesia’s creative diplomacy.

Dalam era perdagangan bebas dan digitalisasi, produk berbasis local identity memiliki peluang besar. Konsumen global cenderung mencari produk dengan cerita, keaslian, dan nilai budaya. Batik Sampoang memiliki ketiga unsur tersebut. Tantangannya terletak pada penguatan strategi branding, jejaring pasar, dan adaptasi pada tren sustainable fashion yang kini menjadi tren global.

Harapan dari Pesisir Laut

Bagi para pengrajinnya, harapan itu sederhana namun kuat: Batik Sampoang dikenal luas, mampu memproduksi lebih banyak kain, memiliki ruang produksi yang layak, dan diakui sebagai warisan budaya yang patut dibanggakan.

Jika pemerintah daerah, perusahaan, akademisi, dan komunitas kreatif bersinergi, Batik Sampoang berpotensi menjadi bukan sekadar batik pesisir Bontang, tetapi ikon diplomasi budaya Indonesia—membawa pesan dari tepian laut ke hati publik.