Jalan Raya Bukan Tempat Belajar Mengemudi
Tulisan dari Faisal Hamzah Barlian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jarum jam telah melewati tengah malam. Jalan tampak lengang. Saya mengemudikan mobil dengan kecepatan yang wajar ketika, dalam hitungan detik, sebuah sepeda motor kecil yang dikendarai seorang anak bergerak ke arah jalur saya. Refleks menginjak rem dan membanting stir kekiri menjadi satu-satunya pilihan. Peristiwa itu berlalu, tetapi meninggalkan satu pertanyaan yang terus memenuhi benak saya, mengapa seorang anak yang seharusnya sedang terlelap di rumah justru berada di jalan raya, mengendarai kendaraan bermotor?
Tulisan ini bukan untuk menghakimi siapa yang benar atau salah atas sebuah peristiwa. Proses hukum memiliki ruangnya sendiri untuk menilai fakta. Yang ingin saya ajak renungkan adalah persoalan yang jauh lebih besar, mengapa kita masih menganggap lumrah ketika anak-anak mengendarai kendaraan bermotor di jalan umum?
Biarkan Anak Tetap Menjadi Anak
Anak-anak memiliki hak untuk menikmati masa kecilnya. Mereka seharusnya pulang membawa cerita tentang sekolah, bermain bersama teman, belajar mengejar cita-cita, atau sekadar menikmati malam dengan tidur nyenyak di rumah. Masa kanak-kanak adalah waktu untuk bertumbuh, bukan untuk memikul tanggung jawab yang belum semestinya mereka emban.
Namun, realitas yang kita lihat justru berbeda. Di banyak daerah, anak-anak yang mengendarai sepeda motor telah menjadi pemandangan biasa. Ada yang berangkat ke sekolah sendiri, membantu orang tua berbelanja, bahkan berkendara hingga larut malam. Apa yang semula merupakan pelanggaran perlahan berubah menjadi kebiasaan, lalu diterima sebagai sesuatu yang dianggap wajar.
Padahal, tidak ada satu pun anak yang tiba-tiba berada di balik kemudi kendaraan bermotor tanpa keputusan orang dewasa. Selalu ada tangan yang menyerahkan kunci, selalu ada orang yang berkata, "Tidak apa-apa, toh jaraknya dekat, dan sayang mengawal dari belakang" atau "tenang, Anak saya sudah pintar membawa motor." Kalimat-kalimat seperti inilah yang tanpa disadari membangun normalisasi terhadap sesuatu yang sesungguhnya berbahaya.
Kemampuan memutar gas, menginjak rem, dan menjaga keseimbangan bukanlah ukuran seseorang layak mengemudi. Mengemudi menuntut kemampuan membaca situasi, mengendalikan emosi, memahami aturan, dan mengambil keputusan dalam hitungan detik. Semua itu memerlukan kematangan yang tidak bisa dipercepat hanya karena seorang anak terlihat berani.
Orang tua sering kali rela mengantar anak ke sekolah, menunggu mereka pulang les, bahkan begadang ketika anak sakit. Semua itu dilakukan karena cinta. Namun, cinta juga menuntut keberanian untuk berkata, "Belum." Belum waktunya mengendarai sepeda motor. Belum waktunya mengambil risiko yang belum mampu mereka pahami. Sebab tugas orang tua bukan hanya membesarkan anak, tetapi juga memastikan mereka tetap memiliki kesempatan untuk tumbuh.
Jalan Raya Menuntut Kedewasaan
Jalan raya bukan ruang bermain, bukan halaman rumah, dan bukan tempat belajar mengemudi. Jalan raya adalah ruang publik tempat ribuan orang berbagi ruang, waktu, dan risiko setiap hari. Di sana melintas kendaraan dengan kecepatan yang berbeda, pejalan kaki, pesepeda, pengendara sepeda motor, kendaraan besar, serta berbagai situasi yang kerap datang tanpa peringatan. Dalam ruang yang begitu dinamis, satu keputusan yang keliru dapat mengubah banyak kehidupan hanya dalam hitungan detik. Sebab, ketika berada di jalan raya, satu hal yang benar-benar dapat kita kendalikan hanyalah diri kita sendiri.
Kita tidak pernah bisa mengendalikan cara orang lain berkendara, kapan mereka lengah, atau keputusan apa yang akan mereka ambil. Karena itulah, kedewasaan, kehati-hatian, dan kepatuhan terhadap aturan bukan sekadar kewajiban pribadi, melainkan bentuk tanggung jawab untuk melindungi diri sendiri sekaligus menjaga keselamatan sesama pengguna jalan.
Mengemudi bukan sekadar bisa menjalankan kendaraan. Mengemudi adalah kemampuan memahami aturan, menghormati pengguna jalan lain, memperkirakan risiko, bersikap tenang saat menghadapi situasi darurat, serta mengambil keputusan yang tepat dalam sepersekian detik. Semua itu membutuhkan kedewasaan yang tidak diukur dari tinggi badan atau keberanian, melainkan dari kesiapan mental dan rasa tanggung jawab.
Tidak ada orang tua yang pernah berdoa agar anaknya mengalami kecelakaan. Setiap doa yang dipanjatkan selalu sama, semoga anak tumbuh sehat, bahagia, dan pulang ke rumah dengan selamat. Karena itu, jangan biarkan rasa sayang berubah menjadi kelalaian. Menyerahkan kunci kendaraan kepada anak yang belum siap bukanlah bentuk kepercayaan, melainkan risiko yang suatu hari dapat berubah menjadi penyesalan yang tak bisa diulang.
Biarkan anak tumbuh sesuai usianya. Akan datang masanya mereka cukup dewasa untuk menggenggam setang kendaraan dan menentukan arah hidupnya sendiri. Namun sebelum hari itu tiba, biarkan mereka lebih lama menggenggam tangan orang tuanya. Sebab tangan orang tua seharusnya menjadi tempat paling aman bagi seorang anak, bukan kunci kendaraan yang membawa mereka terlalu cepat menghadapi risiko yang belum mampu mereka pahami.
Jalan raya akan selalu ada. Sepeda motor bisa dibeli kapan saja. Namun masa kecil seorang anak tidak akan pernah terulang. Jangan biarkan satu keputusan yang tampak sederhana hari ini merampas kesempatan mereka untuk tumbuh, bermimpi, dan pulang ke rumah dengan senyum yang masih utuh.

