Quo Vadis Belajar Berkelanjutan Pemuda Indonesia

Giri Suhardi
Head of Indonesia Market dari Udemy
Konten dari Pengguna
9 Maret 2024 7:21 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Giri Suhardi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi gen z. Foto: THICHA SATAPITANON/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gen z. Foto: THICHA SATAPITANON/Shutterstock
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Berdasarkan data BPS, pada tahun 2022 terdapat lebih dari 65 juta jiwa berada di kelompok usia antara 16-30 tahun. Komposisi jumlah pemuda yang besar ini menjadi salah satu fondasi bonus demografi yang dapat dinikmati bangsa Indonesia dengan puncaknya pada tahun 2030.
ADVERTISEMENT
Mendidik dan membina para pemuda menjadi angkatan kerja yang produktif dan pemimpin masa depan erat kaitannya dengan kemampuan sebuah bangsa bersaing di masa yang akan datang. Menurut laporan World Economic Forum (2022), pendidikan merupakan elemen vital dalam membangun daya saing berkelanjutan sebuah bangsa. Menghasilkan pemuda-pemuda terdidik jelas merupakan sebuah keharusan!
Namun, jumlah pemuda yang besar juga berpeluang menjadi problematis jika tidak diatasi dengan cermat sejak dini. Tantangan pengangguran, kemiskinan, dan kesenjangan penalaran dapat menjadi penghalang Indonesia memaksimalkan bonus demografi. Meski telah dibekali wajib belajar 9 tahun, masih ada sekitar 13.5% pemuda Indonesia yang hanya mampu menamatkan pendidikan hingga SD (atau sederajat), tidak tamat SD, dan tidak pernah sekolah.
Kendati begitu, pembelajaran sendiri tidak harus selalu dikembangkan dari bangku pendidikan formal. Lulus dari sistem akademik formal bukan berarti menihilkan intensi masyarakat untuk terus belajar setelahnya. Menurut laporan UNESCO (2020), pembelajaran berkelanjutan merupakan syarat bagi bangsa yang ingin beralih ke ekonomi dan masyarakat berbasis pengetahuan.
ADVERTISEMENT

Growth mindset dan motivasi belajar

Laporan OECD (2018) ‘Sky’s the Limit: Growth mindset, students, and schools in PISA’ menunjukkan Indonesia berada pada urutan 76 dari 78 negara terkait dengan growth mindset. Hanya 28.5% responden Indonesia yang yakin kecerdasannya dapat bertumbuh atau memiliki growth mindset.
Growth mindset merupakan sebuah teori yang dikembangkan oleh Carol Dweck (Dweck, 2006) yang menggambarkan keyakinan bahwa kemampuan dan intelegensi seseorang dapat berkembang seiring dengan berjalannya waktu.
Orang yang memiliki growth mindset akan berusaha berkembang dengan membuat tujuan pembelajaran yang menantang. Mereka mengasimilasi kerja keras sebagai bagian utama dari proses belajar dan kegagalan sebagai bagian dari pengalaman berharga.
Melihat fakta bahwa Indonesia berada di urutan ketiga terbawah terkait growth mindset menjadi sebuah pekerjaan rumah yang besar. Rendahnya growth mindset ini berdampak pada proses dan hasil pembelajaran masyarakat Indonesia. Ini bisa dilihat dari hasil studi PISA (Program for International Student Assessment) di 2018 yang menempatkan Indonesia di papan bawah untuk urusan membaca, matematika, dan sains.
ADVERTISEMENT
Laporan OECD (2018) mengatakan pengembangan growth mindset ini tidak hanya menjadi tanggung jawab individu semata. Orang tua, lembaga pendidikan, dan lingkungan memiliki pengaruh besar dalam mengembangkan growth mindset. Dengan bekal growth mindset, motivasi pemuda Indonesia untuk terus belajar akan lebih tinggi yang akhirnya menghasilkan daya juang (resiliensi) yang lebih kokoh.
Beberapa segmentasi masyarakat Indonesia sudah berada di titik optimal untuk belajar berkelanjutan. Berdasarkan data Udemy terkait konsumsi kursus dengan tema AI, pemuda Indonesia sebenarnya tidak kalah memiliki semangat juang yang besar dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya.
Sampai dengan Agustus 2023, ada 28.000 lebih pembelajar di Indonesia yang mengambil kursus-kursus di marketplace Udemy pada tema AI yang meliputi topik-topik seperti ChatGPT, Midjourney, DALL-E, Google Bard, dan sebagainya.
ADVERTISEMENT
Angka tersebut jauh lebih besar dari dibandingkan negara-negara maju lainnya seperti Korea Selatan (7.000+), Australia (13.000++). Ini menunjukkan bahwa semangat pemuda Indonesia untuk menguasai sebuah keterampilan atau teknologi baru sangat tinggi, di tengah-tengah rendahnya growth mindset di Indonesia.
Namun jika kita bandingkan dengan total jumlah penduduk, jelas rasio di Indonesia akan berada di bawah negara-negara lainnya. Pengguna Udemy di Indonesia, yang sebagian besar berada di kelompok usia pemuda, tersentralisasi di kota-kota besar seperti Jabodetabek, Surabaya, Bandung, dan Medan.
Data ini menunjukkan sangat tersentralisasi nya pemuda terdidik di Indonesia. Perlu dilakukan pemerataan untuk meningkatkan growth mindset secara nasional agar semangat belajar ini terdistribusi optimal di pelosok Indonesia Raya.
Mendorong budaya growth mindset tidak hanya bisa dilakukan dari satu kacamata. Pendekatan multidisiplin atau penglibatan multi-aktor terkait perbaikan keadaan ekonomi, kesehatan, dan kesejahteraan harus dilakukan guna mendorong akselerasi adaptasi pola pikir yang tepat.
ADVERTISEMENT
Kehadiran teknologi yang semakin canggih dan native juga harus mampu dimanfaatkan untuk membangun budaya ini. Penetrasi internet di Indonesia yang telah mencapai 78,19% (APJII, 2023) menjadi bekal pemanfaatan teknologi untuk menyebarkan benih ini.
Jika para pemuda Indonesia memiliki bekal growth mindset dan semangat belajar berkelanjutan,yang tinggi, niscaya kalimat legendaris dari Bung Karno “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” ini akan bergaung nyata di tahun emas Indonesia, 2045!(*)