Konten dari Pengguna

"Kecantikan": Standar Tiktok Tidak Realistis

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Richie Valerie Santosa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Standar kecantikan zaman ini. foto: generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Standar kecantikan zaman ini. foto: generated by AI

Seorang wanita asal Polandia bernama Karolina Krzyżak yang sedang berlibur di Bali ditemukan telah meninggal akibat malnutrisi parah pada Oktober 2025. Wanita berusia 27 tahun tersebut dikatakan sedang menjalankan diet fruitarian, yaitu pola makan yang hanya mengonsumsi buah-buahan. Hal tersebut telah ia lakukan selama bertahun-tahun. Berat badannya saat itu hanya 22 kilogram dan ia ditemukan dalam kondisi sangat kurus, dengan kuku menguning dan gigi membusuk. Setelah dilakukan pemeriksaan, wanita tersebut dinyatakan mengalami kekurangan gizi parah, osteoporosis, dan kekurangan albumin.

Diet ekstrem yang telah ia lakukan memicu banyak masalah, termasuk masalah kesehatan. Obsesi terhadap diet ekstrem tersebut dapat terjadi karena beberapa faktor, dan salah satunya adalah standar kecantikan masa kini. Dengan banyaknya “standar” yang tidak realistis di media sosial, semakin banyak orang, termasuk anak muda dan orang tua, mendambakan kecantikan yang ada di depan layar HP tanpa melihat apa yang ada di balik layar. Banyak orang tidak menyadari betapa besar dan berbahayanya pengaruh media sosial terhadap cara berpikir manusia.

Salah satu media sosial yang paling sering digunakan saat ini adalah TikTok, terutama oleh generasi muda. TikTok sendiri menyediakan banyak sekali konten singkat yang dapat dengan mudah diakses oleh siapa pun. Dengan adanya video-video singkat yang muncul terus-menerus di For You Page (FYP), anak muda dapat mengakses banyak sekali informasi dan pandangan baru dari seseorang. Terkadang, pandangan yang diberikan kurang mendidik dan sering kali tidak pantas untuk dibagikan. Penggunaan TikTok yang intensif membuat berbagai konten tersebut secara tidak langsung dapat memengaruhi cara anak muda memandang diri sendiri maupun lingkungan di sekitarnya, termasuk dalam menentukan standar mengenai penampilan dan kecantikan.

Saat ini, ada banyak sekali standar kecantikan yang beredar di media sosial, terutama TikTok, seperti harus kurus seperti idol, memiliki badan berbentuk hourglass, tinggi badan di atas 165 cm, harus cocok dengan douyin makeup dan no-makeup makeup, mata besar dan imut dengan lipatan mata, hidung mancung dan tinggi, bibir berwarna pink, serta dagu dan rahang yang lancip. Hampir semua standar yang ditetapkan tersebut sangat tidak realistis dan tidak mendukung wanita. Karena adanya tuntutan kecantikan, banyak wanita, terutama anak muda, menjadi tidak suka dengan penampilan dirinya sendiri hingga mengalami krisis identitas.

bentuk harsh motivation. Foto: generated by AI

Bukan hanya standarnya, banyak orang yang terobsesi dengan kecantikan tersebut mulai menyebarluaskan cara-cara diet mereka yang sangat ekstrem dan mengancam nyawa. Sering kali, motivasi yang diberikan oleh orang-orang tersebut berubah menjadi harsh motivation, yaitu kata-kata yang menyakitkan dan sangat kasar. Harsh motivation tersebut, menurut orang-orang yang menggunakannya, lebih efektif dan memotivasi karena mereka akan menonjolkan hal-hal yang dianggap “tidak cantik” dalam diri seseorang. Tindakan tersebut tentu saja tidak baik karena konten-konten seperti itu dapat memicu kebencian terhadap diri sendiri atas hal-hal yang sebenarnya sangat normal untuk dimiliki seseorang.

Perlu kita ketahui bahwa salah satu cara untuk melihat hubungan antara berat badan dan tinggi badan adalah melalui pengukuran Body Mass Index (BMI). Body Mass Index (BMI) merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk menilai berat badan seseorang berdasarkan tinggi badannya. BMI dikembangkan dari konsep yang diperkenalkan oleh Adolphe Quetelet, seorang astronom dan matematikawan, dengan rumus berat badan dibagi tinggi badan kuadrat. Pada orang dewasa, BMI 18,5 hingga kurang dari 25 umumnya termasuk dalam kategori berat badan normal. Namun, pada praktiknya, banyak anak muda, terutama wanita, lebih menginginkan BMI yang rendah karena dianggap lebih “cantik” dan “menarik”.

Bukti dapat terlihat dari persentase wanita yang mengalami underweight. Berdasarkan data dari World Health Organization, BMI di bawah 18,5 pada orang dewasa termasuk dalam kategori underweight. Berdasarkan survei yang telah dilakukan, terdapat 7,1% wanita dengan estimasi 4,9%–9,7% yang mengalami underweight. Data tersebut dapat menggambarkan adanya wanita dewasa yang memiliki berat badan di bawah rentang normal di Indonesia, meskipun data tersebut hanya diambil dari wanita dewasa berusia 18 tahun ke atas. Dengan data yang lebih lengkap, terutama pada kelompok usia lainnya, persentase tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih luas mengenai kondisi berat badan masyarakat.

Bukan hanya berat badan, bentuk badan dan wajah juga menjadi hal yang ingin diubah. Untuk mendapatkan apa yang dianggap “sempurna”, sering kali terjadi prosedur operasi plastik pada kalangan anak muda. Hal-hal yang sebenarnya tidak mengganggu keseharian, tetapi dianggap “kurang sempurna”, pada akhirnya dapat membuat seseorang mempertimbangkan prosedur estetika. Keinginan untuk melakukan operasi plastik ini bukan hanya datang dari harsh motivation, tetapi juga dari contoh sosok publik di TikTok. Sangat sering ditemukan influencer anak muda zaman sekarang melakukan prosedur estetika untuk mendapatkan bentuk yang dianggap lebih “baik”, tanpa menyadari bahwa orang lain juga dapat mengikuti jejak yang sama.

Berdasarkan International Society of Aesthetic Plastic Surgery (ISAPS) Global Survey 2024, terdapat sekitar 37,9 juta prosedur estetika yang dilakukan oleh dokter bedah plastik di seluruh dunia, terdiri atas 17,4 juta operasi plastik dan 20,5 juta prosedur non-bedah. Pada prosedur wajah dan kepala saja, tercatat sekitar 7,5 juta tindakan pada 2024, meningkat 4,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Data ini menunjukkan bahwa perubahan terhadap penampilan fisik telah menjadi fenomena yang cukup besar secara global.

Hampir sebagian besar orang yang menjalani prosedur operasi plastik maupun prosedur estetika non-bedah melakukannya berdasarkan keinginan, bukan kebutuhan. Keinginan untuk menjadi lebih cantik dan sempurna dapat membuat seseorang menjalani prosedur estetika tanpa mempertimbangkan apakah dirinya benar-benar membutuhkannya. Namun, sudah tentu ada orang-orang yang memang membutuhkan prosedur tersebut untuk alasan medis. Yang dimaksud dengan orang yang membutuhkan adalah mereka yang mengalami suatu kondisi medis yang mengganggu fungsi atau keseharian orang tersebut.

Melakukan banyak prosedur estetika hanya agar terlihat “cantik” dapat menjadi tindakan yang mudah disesali. Mengapa demikian? Standar kecantikan di setiap negara, bahkan kota, dapat sangat berbeda. Contohnya, gigi gingsul di Jepang pernah dianggap sebagai sesuatu yang lucu, sedangkan leher panjang memiliki nilai estetika dan budaya tertentu di beberapa kelompok masyarakat di Thailand. Intinya, mengejar standar kecantikan tidak akan ada ujungnya karena cantik merupakan hal yang relatif dan bergantung pada pandangan serta budaya masyarakat setempat.

Anoreksia Nervosa.

Dari semua tontonan yang ada, dapat tumbuh rasa tidak percaya diri yang sangat besar dan rasa tidak mencintai diri sendiri. Mulailah muncul banyak insecurities atau hal-hal yang membuat seseorang merasa minder. Mulai dari bentuk hidung, bentuk mata, bentuk rahang, bentuk kaki, bahkan bentuk bagian tubuh yang sebelumnya tidak pernah menjadi masalah. Harsh motivation juga dapat menjadi salah satu faktor yang membuat anak muda tidak percaya diri karena konsep harsh motivation adalah mengejek dan berkata kasar untuk memotivasi orang lain.

Yang lebih parah adalah bahwa kebiasaan mengikuti standar kecantikan ini dapat berujung pada gangguan kesehatan, seperti anoreksia nervosa, yaitu suatu bentuk gangguan makan yang dapat mengancam jiwa. Gangguan anoreksia nervosa dapat membuat kondisi fisik seseorang menjadi sangat lemah dan berat badan menjadi sangat rendah. Bukan hanya fisik, tetapi juga dapat terjadi perubahan perilaku. Seiring waktu, seseorang dapat mulai membatasi makanan secara berlebihan karena memiliki ketakutan terhadap kenaikan berat badan atau pandangan yang terganggu terhadap bentuk tubuhnya.

Anoreksia nervosa ini sangat berbahaya, bukan sekadar membuat seseorang menjadi lebih kurus. Penderita anoreksia nervosa dapat mengalami malnutrisi parah, kekurangan mineral dan elektrolit, gangguan irama jantung, serta osteoporosis atau tulang yang menjadi rapuh. Dengan begitu, semakin besar risiko orang tersebut mengalami berbagai komplikasi kesehatan, termasuk patah tulang dan gangguan fungsi organ. Komplikasi yang berat dapat mengancam kehidupan apabila tidak ditangani dengan tepat.

Jadi, kecantikan tidak hanya diukur dari apa yang dilihat, tetapi juga dari apa yang diperbuat. Cobalah untuk mencintai diri sendiri apa adanya, jangan membandingkan diri dengan orang lain, dan jangan menjadikan standar TikTok sebagai ukuran nilai diri. Jaga kesehatan dan stay safe!