Dilema Pemanfaatan AI dalam Dunia Akademisi

Ichsan Syaidiqi
Konsultan Hukum dan Pengajar di Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Politik Universitas Terbuka
Konten dari Pengguna
15 Mei 2024 10:54 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Ichsan Syaidiqi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
sumber : Steve Johnson (unsplash.com)
zoom-in-whitePerbesar
sumber : Steve Johnson (unsplash.com)
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Tidak pernah terbayangkan oleh saya bahwa teknologi bernama Aritificial Inteligence (AI) begitu masif pemanfaatannya saat ini. Hampir semua lini pekerjaan individu saat ini dapat disokong oleh teknologi ini, dari pembuatan naskah, membuat music, hingga menjawab pertanyaan-pertanyaan konyol. Bahkan berita teranyar yang saya dengar, sebuah AI bernama Sora dapat membuat video hanya dengan bermodalkan sebuah prompt.
ADVERTISEMENT
Hal ini juga berdampak pada dunia akademisi. Tidak dapat dipungkiri bahwa AI memang membantu peserta didik ataupun praktisi pendidik dalam mendukung kegiatan belajar mengajar. Namun berdasarkan pengalaman saya selaku pendidik. Hal ini justru sangat mengkhawatirkan, karena penggunaan AI menurut saya saat ini sangat serampangan. Atas dasar keresahan tersebut saya ingin menyampaikan apabila pemanfaatan AI ini dibiarkan tanpa sebuah safeguard policy dari penyelenggara pendidikan, maka ini akan menjadi sebuah masalah besar di masa depan.

Manfaat AI dalam Dunia Akademis

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, pemanfaatan AI yang baik dapat memaksimalkan potensi peserta didik dalam mencari sumber-sumber belajar, bahkan membantu siswa dalam memahami sumber belajar dengan cepat (melakukan analisis dan membuat kesimpulan terhadap bahan belajar). Bagi saya seorang praktisi, pemanfaatan AI dapat memudahkan saya dalam membuat layout pembelajaran, memberikan pencerahan ketika sedang mengalami writer block dalam menulis bahan ajar, hingga memeriksa tulisan / tugas-tugas yang telah diberikan.
ADVERTISEMENT
Sehingga perlu disadari bahwa kehadiran AI sangat membantu hampir semua aspek dalam dunia akademisi baik dari sisi selaku peserta didik , praktisi, bahkan penyelenggara pendidikan itu sendiri.

Risiko dan Dilema Penggunaan AI

Bak pisau bermata dua, penggunaan AI dalam dunia akademis juga memiliki risiko yang cukup masif. Menurut Rebecca Neeson (Harvard University) kekhawatiran yang paling banyak dibahas tentang penggunaan AI pada dunia pendidikan dan potensi bagi siswa untuk menggunakan teknologi ini adalah kebiasaan menyontek dalam ujian dan tugas esai. Selaras dengan pendapat tersebut, sebagai praktisi saya melihat sendiri terdapat beberapa mahasiswa yang dalam pengerjaan tugas-tugas menggunakan AI serta menggunakan prompt yang sama. Sehingga dalam tulisan terdapat kesamaan konsep dan bahasa yang sangat identik. Belum lagi ketika dikonfirmasi untuk menyebutkan sumber, mereka tidak bisa menjawab dengan baik.
ADVERTISEMENT
Potensi plagiarisme ini juga diungkapkan oleh Dina W Kariodimedjo, PhD (Dosen FH UGM) yakni data yang diambil dari AI besar kemungkinan akan terdeteksi plagiat karena berasal dari berbagai sumber tanpa menyebutkan sumber datanya.
Selain itu tentu penggunaan AI yang serampangan seperti ini akan menimbulkan rasa malas bagi peserta didik, karena dalam setiap tugas yang diberikan, mereka akan memiliki rasa ketergantungan pada AI. Sehingga peserta didik berpotensi mengurangi usaha belajar mandiri dan kemampuan kritisnya.
Hal ini juga dihadapi dengan masalah etis terhadap penggunaan AI. Harus diakui juga di beberapa institusi pendidikan saat ini belum memiliki kesiapan dan tidak terdapatnya regulasi serta pedoman etik dalam penggunaan AI di lingkungan akademis.

Regulasi dan Pedoman untuk mencegah penyalahgunaan AI

Meskipun terdengar klise, namun menurut saya langkah awal yang dapat dilakukan untuk meminimalisir penyalahgunaan AI dalam dunia akademis ialah dengan Mengembangkan regulasi dan pedoman yang jelas untuk penggunaan AI di lingkungan akademis. Ketiadaan regulasi dan pedoman penggunaan AI seolah membiarkan saja fenomena ini terjadi pada dunia akademisi khususnya di Indonesia. Menurut Quynh Hoa Nguyen (Vietnam National University) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa terdapat manfaat dan kerugian dalam pemanfaatan AI pada praktik pendidikan, sehingga Institusi pendidikan harus melakukan lebih banyak penelitian untuk membuat pedoman dan kebijakan yang jelas dan tepat untuk penggunaan aplikasi AI. Maka dari itu pembuat kebijakan perlu berhati-hati dalam memutuskan hubungan antara penggunaan teknologi AI dan tindakan plagiarisme. Sebagaimana pendapat Rebecca "Kemampuan untuk menggunakan alat-alat ini (AI) secara kreatif adalah tantangan mendasar bagi kita semua. Jika kita tidak mengubah pendidikan dengan cara yang membantu siswa kita, maka kita tidak berhasil sebagai pendidik."
ADVERTISEMENT