Bahasa sebagai Kode Status Sosial

Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ichwan Rafliansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bahasa bukan hanya alat untuk menyampaikan pesan, melainkan juga kode sosial yang memperlihatkan posisi seseorang di dalam masyarakat. Cara berbicara, pilihan kata, intonasi, dan bentuk kalimat sering kali menjadi petunjuk halus tentang latar belakang pendidikan, lingkungan pergaulan, hingga kelas sosial penuturnya.
Dalam banyak situasi, orang tidak dinilai semata-mata dari isi ucapannya, tetapi juga dari bagaimana ia mengucapkannya. Karena itu, bahasa kerap berfungsi sebagai penanda status yang bekerja secara diam-diam, namun sangat kuat dalam kehidupan sosial.
Dari sudut pandang ini, bahasa dapat dipahami sebagai instrumen yang menghubungkan sekaligus membedakan kelompok-kelompok sosial. Seseorang yang menggunakan bahasa standar dalam ruang formal sering dianggap lebih terdidik, lebih rapi, dan lebih layak memperoleh pengakuan.
Sebaliknya, penutur dialek atau ragam non-standar kadang ditempatkan pada posisi yang kurang menguntungkan, meskipun kemampuan berpikir atau kompetensinya tidak lebih rendah. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat sering memberi nilai sosial tertentu pada bentuk bahasa, bukan hanya pada makna yang disampaikan.
Penelitian Bourdieu (1991) menegaskan bahwa bahasa dapat berfungsi sebagai bentuk modal sosial yang memengaruhi akses individu terhadap sumber daya dan peluang. Dalam konteks kelas sosial, hal ini berarti bahwa penguasaan terhadap ragam bahasa tertentu dapat membuka pintu menuju pendidikan, pekerjaan, dan jaringan sosial yang lebih luas.
Bahasa standar, misalnya, sering menjadi syarat tidak tertulis untuk masuk ke ruang-ruang prestisius. Sebaliknya, penggunaan bahasa non-standar dapat memunculkan jarak sosial karena dianggap kurang sesuai dengan norma dominan. Di sinilah bahasa bekerja sebagai alat seleksi sosial yang sangat efektif.
Fenomena tersebut terlihat jelas dalam dunia pendidikan, media, dan pekerjaan. Di sekolah atau kampus, siswa dan mahasiswa yang mampu berbicara dengan bahasa yang dianggap formal sering dinilai lebih percaya diri dan lebih cerdas. Di dunia kerja, kemampuan memakai bahasa yang “tepat” sering dipandang sebagai tanda profesionalitas.
Akibatnya, individu dari latar sosial tertentu cenderung memiliki keuntungan lebih besar karena sejak awal telah terbiasa dengan ragam bahasa yang dihargai oleh masyarakat. Bahasa, dalam hal ini, tidak berdiri netral, tetapi ikut menegaskan perbedaan status sosial yang sudah ada.
Namun, penting juga dipahami bahwa bahasa non-standar bukanlah bahasa yang lebih rendah. Setiap ragam bahasa lahir dari sejarah, komunitas, dan pengalaman hidup yang berbeda. Dialek, aksen, maupun ungkapan lokal tetap memiliki nilai sosial dan budaya yang penting bagi penuturnya.
Masalah muncul ketika masyarakat hanya menilai bahasa dari prestisenya, lalu menganggap satu ragam lebih layak daripada yang lain. Cara pandang seperti ini justru memperkuat ketimpangan sosial dan membuat sebagian orang merasa tidak percaya diri dengan identitas bahasanya sendiri.
Dengan demikian, bahasa sebagai penanda status sosial menunjukkan bahwa komunikasi selalu melibatkan lebih dari sekadar pertukaran informasi. Di balik kata-kata, ada penilaian, pengakuan, dan pembagian posisi dalam masyarakat.
Bahasa dapat menjadi jalan menuju legitimasi sosial, tetapi juga dapat menjadi batas yang memisahkan satu kelompok dari kelompok lain. Oleh sebab itu, memahami bahasa sebagai kode status sosial membantu kita melihat bahwa yang dipertaruhkan bukan hanya cara berbicara, melainkan juga cara masyarakat mengatur penghargaan dan kekuasaan.
