Konten dari Pengguna

Harmoni dari Sebilah Bambu

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ichwan Rafliansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam tradisi sunda masa lalu, instrumen yang terbuat dari bambu ini tidak hanya sekadar alat musik, melainkan juga memiliki makna yang dalam sebagai medium komunikasi dengan alam dan roh-roh yang dianggap sakral. Digunakan dalam upacara-upacara keagamaan dan ritual adat, angklung menjadi simbol koneksi antara manusia dengan alam serta upaya untuk memohon berkah dan kesuburan bagi tanaman padi yang menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat sunda. Dengan setiap bunyi yang dihasilkannya angklung mengirimkan pesan harapan dan permohonan kepada Dewi Sri, lambang kemakmuran dan kesuburan dalam kepercayaan tradisional sunda.

Dilansir dari KOMPAS.com, Angklung merupakan salah satu alat musik tradisional Indonesia, tepatnya berasal dari Jawa Barat. yang terbuat dari potongan bambu. Alat musik ini terdiri dari 2 sampai 4 tabung bambu yang dirangkai menjadi satu dengan tali rotan. Tabung bambu diukir detail dan dipotong sedemikian rupa untuk menghasilkan nada tertentu ketika bingkai bambu digoyang. Kata angklung sendiri berasal dari bahasa sunda angkleung-angkleungan yaitu gerakan pemain angklung, serta dari suara klung yang dihasilkan instrumen bambu ini. Dikutip dari buku Panduan Bermain Angklung (2010) karya Obby A.R Wiramihardha, sejarah angklung awalnya merupakan salah satu alat bunyi-bunyian yang digunakan untuk upacara-upacara yang berhubungan dengan padi. Angklung tidak digunakan sebagai kesenian murni, melainkan sebagai kesenian yang berfungsi dalam kegiatan kepercayaan. Pada masa Kerajaan Pajajaran (Hindu), angklung pernah dijadikan sebagai alat musik korp tentara kerajaan, dan pada saat terjadinya perang Bubat. Angklung dibunyikan oleh tentara kerajaan sebagai pembangkit semangat juang atau tempur.

Sejak diakui sebagai warisan budaya dunia kategori tak benda oleh Unesco pada 16 November 2010, pelestarian angklung di Indonesia bukan tanpa hambatan. Perkara klasik seperti tidak adanya regenerasi baik dari sisi seniman maupun pengrajin angklung masih menjadi masalah utama. Dilansir dari Detik.com, Eri Yayat atau karib disapa Abah Yayat selaku pengrajin angklung di Saung Angklung Udjo beliau mengatakan regenerasi pembuat atau pengrajin angklung cukup sulit, beda dengan yang memainkannya. Handiman Diratmasasmita, tokoh angklung Jawa Barat, juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap kurangnya keseriusan dalam melestarikan angklung di Indonesia. Kekhawatirannya muncul karena banyak produsen angklung yang fokus pada kuantitas daripada kualitas. Handiman, murid langsung dari Daeng Soetigna, memandang pentingnya pendidikan angklung, namun menyayangkan minimnya minat generasi muda Indonesia. Berdasarkan hal tersebut minimnya pengrajin angklung bisa disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya adalah pergeseran minat generasi muda dari tradisi-tradisi budaya ke hal-hal modern. Banyak yang lebih tertarik dengan teknologi dan hal-hal contemporari daripada mempelajari seni tradisional seperti membuat angklung.

Angklung bukan hanya Sekedar alat musik yang memiliki suara tetapi juga merupakan ekspresi dari kebudayaan Indonesia yang kaya oleh karena itu mari kita bersama-sama terus melestarikan angklung sebagal warisan berharga dari nenek moyang, kita wujudkan kebanggaan akan warisan nenek moyang dengan merawat, memainkan dan mengajarkan langsung kepada generasi Selanjutnya.

sumber: Shutterstock oleh Christina Desiani