Konten dari Pengguna

Implikatur: Menangkap Pesan di Balik Ucapan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ichwan Rafliansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto Pribadi

Implikatur pragmatik adalah makna tersirat yang muncul dari sebuah tuturan, bukan dari kata-kata yang diucapkan secara langsung. Dalam komunikasi sehari-hari, orang sering menyampaikan maksud secara tidak eksplisit agar pesan terasa lebih halus, sopan, atau efektif.

Karena itu, memahami implikatur berarti membaca pesan di balik ujaran, bukan hanya berhenti pada makna literalnya. Konsep ini penting dalam pragmatik karena menunjukkan bahwa bahasa selalu bergerak bersama konteks, hubungan sosial, dan niat penutur.

Secara sederhana, implikatur muncul ketika penutur mengatakan sesuatu, tetapi lawan tutur menangkap maksud lain yang masih berkaitan dengan tuturan tersebut. Misalnya, ketika seseorang berkata, “Sudah jam sebelas,” dalam situasi tertentu, ucapan itu bisa bermakna ajakan untuk segera pulang atau berhenti berbicara. Makna seperti ini tidak tertulis secara langsung di dalam kalimat, tetapi dipahami melalui konteks percakapan. Di sinilah letak kekuatan implikatur: ia membuat bahasa bekerja lebih efisien, lebih halus, dan lebih kaya makna.

Dalam kajian pragmatik, implikatur dibedakan menjadi beberapa jenis, salah satunya implikatur percakapan. Implikatur ini lahir dari konteks dialog dan dari asumsi bahwa penutur tetap mematuhi prinsip kerja sama dalam berkomunikasi. Ketika seseorang memberi jawaban yang tampak tidak lengkap atau tidak langsung, lawan tutur biasanya akan mencari makna tersembunyi di balik jawaban tersebut. Proses ini menunjukkan bahwa manusia tidak hanya mendengar bunyi bahasa, tetapi juga menafsirkan maksud sosial dan emosional yang menyertainya.

Contoh implikatur sangat mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Saat seorang ibu berkata, “Lantai sudah lama belum disapu,” kepada anaknya, maksud yang tersirat biasanya adalah perintah agar anak segera menyapu lantai.

Contoh lain, ketika seseorang menjawab, “Saya masih ada tugas,” saat diajak pergi, maka makna yang tersirat bisa berupa penolakan halus. Ujaran-ujaran seperti ini memperlihatkan bahwa implikatur membantu penutur menjaga kesopanan tanpa harus berkata secara terang-terangan.

Implikatur juga penting dalam media, iklan, percakapan politik, dan karya sastra. Dalam iklan, makna tersirat dipakai untuk membangun kesan positif tanpa harus menjelaskan semuanya secara langsung. Dalam politik, implikatur sering digunakan untuk menghindari pernyataan yang terlalu keras atau berisiko.

Dalam sastra, implikatur memperkaya kedalaman makna sehingga teks terasa lebih hidup dan terbuka untuk berbagai penafsiran. Karena itu, implikatur bukan sekadar konsep teori, melainkan alat penting untuk memahami bagaimana bahasa bekerja dalam masyarakat.

Pada akhirnya, implikatur pragmatik menunjukkan bahwa manusia sering berbicara lebih banyak melalui yang tidak diucapkan. Pemahaman terhadap makna tersirat membuat kita lebih peka terhadap konteks, lebih bijak dalam menafsirkan ucapan, dan lebih cermat dalam memilih kata. Dengan memahami implikatur, kita belajar bahwa komunikasi bukan hanya tentang apa yang dikatakan, tetapi juga tentang apa yang ingin disampaikan di balik kata-kata.