Konten dari Pengguna

Indah di Luar, Rapuh di Dalam: Dampak Tersembunyi Pariwisata Massal

Adi Putera Tan

Adi Putera Tan

SMA Citra Berkat Tangerang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adi Putera Tan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dihasilkan oleh AI melalui ChatGPT - Open AI, atas permintaan penulis.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dihasilkan oleh AI melalui ChatGPT - Open AI, atas permintaan penulis.

Pariwisata sering dianggap sebagai cara untuk memajukan ekonomi dan berbagi budaya dengan orang-orang dari seluruh dunia. Banyak negara sangat bergantung pada pariwisata untuk mendatangkan pengunjung, menciptakan lapangan kerja, dan mendukung usaha lokal. Namun, di balik manfaatnya, industri pariwisata juga membawa dampak negatif serius yang perlu diperhatikan.

Salah satu masalah utama adalah kerusakan pada situs sejarah. Ketika terlalu banyak wisatawan mengunjungi kuil kuno, monumen, atau landmark lainnya, tempat-tempat tersebut mulai mengalami perubahan. Lalu lintas manusia yang padat, polusi, dan bahkan vandalisme bisa mempercepat kerusakan.

Kasus nyata dapat dilihat di Machu Picchu, Peru, di mana beberapa bagian situs harus ditutup karena erosi struktur batu akibat jutaan wisatawan setiap tahun. Fenomena serupa juga terjadi di Colosseum, Roma, yang mengalami degradasi karena terlalu sering disentuh dan diinjak.

Masalah lain adalah pencemaran lingkungan. Pariwisata sering menghasilkan banyak sampah plastik, kemasan makanan, hingga polusi udara dari transportasi. Pantai, gunung, dan taman nasional menjadi kotor ketika pengunjung tidak menjaga kebersihan. Beberapa pulau di Thailand bahkan pernah ditutup karena terumbu karang rusak parah akibat limbah dan lalu lintas kapal wisata.

Selain itu, pariwisata massal juga memunculkan ketergantungan ekonomi pada musim tertentu. Banyak destinasi wisata hanya meraih pendapatan besar saat musim liburan. Di luar periode itu, masyarakat lokal sering menghadapi kesulitan karena usaha mereka tidak memperoleh penghasilan yang cukup untuk bertahan.

Bali salah satu contohnya. Meskipun sektor pariwisata menjadi penopang utama ekonomi provinsi ini, tingkat penghunian hotel berbintang di Bali fluktuatif, pada Mei 2025 tercatat sekitar 58,10 persen, turun 8 poin dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (BPS Bali). Data ini menunjukkan betapa rentannya ekonomi lokal terhadap perubahan jumlah wisatawan. Bank Indonesia Bali bahkan mencatat perekonomian daerah sangat dipicu oleh musim liburan, sehingga menandakan adanya ketidakstabilan.

Kesimpulannya, meskipun pariwisata membawa manfaat ekonomi dan pertukaran budaya, risikonya pun besar: kerusakan situs sejarah, pencemaran lingkungan, hingga ketidakstabilan ekonomi lokal. Karena itu, keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan harus menjadi prioritas. Pengelolaan pariwisata yang bijak sangat penting agar warisan budaya dan alam tetap terjaga, sementara komunitas lokal bisa hidup sejahtera sepanjang tahun.