Konten dari Pengguna

Solusi: Budaya Senioritas yang Berdampak Terhadap Kualitas Pendidikan

Adi Putera Tan

Adi Putera Tan

SMA Citra Berkat Tangerang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adi Putera Tan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dihasilkan oleh AI melalui ChatGPT - Open AI, atas permintaan penulis.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dihasilkan oleh AI melalui ChatGPT - Open AI, atas permintaan penulis.

Senioritas telah menjadi budaya yang melekat dan berakar kuat dalam membentuk dinamika hubungan antar siswa di lingkungan sekolah. Dalam sistem pendidikan, sekolah menjadi wadah lembaga sosial yang berperan sebagai tonggak keberhasilan studi pada setiap individu. Dalam pelaksanaannya, sistem pendidikan yang berjenjang justru mendorong terbentuknya perbedaan status sosial antar tingkat kelas. Perbedaan status sosial tersebut membuat senioritas sering dianggap wajar dan diwariskan sebagai norma sosial. Meskipun niat awal hanya sekadar tradisi, namun timbulnya rasa dominasi yang berlebihan membuat ketimpangan dalam interaksi siswa.

Berdasarkan penelitian dari Universitas Negeri Semarang, pengaruh budaya senioritas terhadap rasa percaya diri dengan besarnya pengaruh budaya senioritas terhadap rasa percaya diri sebesar 50,5%. Banyak junior yang merasa ditekan untuk patuh tanpa keberanian untuk menolak perintah dari kakak tingkat yang berkonteks formal maupun bercanda. Hal tersebut menimbulkan rasa ketidaknyamanan selama berada di lingkungan sekolah. Selain itu, siswa juga berpotensi menjauhkan diri dari mengikuti pembelajaran akibat mentalnya yang terganggu. Akibatnya, lingkungan sekolah justru akan menjadi tidak aman, menegangkan dan mempengaruhi kesejahteraan para warga sekolah.

Penyalahgunaan senioritas yang berlebihan dapat berujung pada intimidasi, tekanan mental dan menurunnya motivasi belajar siswa. Junior yang menjadi korban seringkali merasakan stres, cemas dan depresi akibat perlakuan fisik dan verbal dari para senior yang intensif. Kecemasan tersebut dapat membuat rasa aman di sekolah hilang, mengganggu konsentrasi dan pencapaian prestasi akademik siswa. Penurunan motivasi belajar dan kepercayaan diri yang berkepanjangan akan mempersulit siswa untuk meraih mimpi-mimpi kedepannya. Selain itu, meningkatkan risiko tercorengnya nama baik sekolah tertentu di mata masyarakat luas.

Senioritas dapat menjadi bentuk pembinaan dan pendampingan positif jika diarahkan dengan baik dan benar. Siswa senior dibentuk menjadi penuntun adaptasi para junior dalam lingkungan sekolah baru. Sebagaimana seperti role model yang memberikan arah dan contoh yang baik dan hadir sebagai sahabat yang menginspirasi. Rasa solidaritas dapat perlahan terbangun dengan saling menghormati dan kolaborasi antara angkatan dalam berbagai kesempatan acara, salah satunya Hari Guru. Sehingga senioritas dapat menjadikan sebagai kekuatan yang mendekatkan, bukan memisahkan.

Guru, sekolah, dan siswa dapat bersama-sama mengambil tindakan dan berinisiatif untuk menghapus budaya senioritas yang merugikan. Pendekatan positif seperti penekanan keadilan terhadap seluruh siswa, sehingga tidak ada hierarki yang membatasi rasa hormat dan kepercayaan. Selain itu pelaksanaan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) yang ramah dengan menekankan penerimaan dan kesetaraan sejak awal masuknya siswa baru. Siswa baik senior maupun junior dapat membangun interaksi yang berlandaskan keberanian dan proteksi antar teman. Tindakan menolak toleransi terhadap intimidasi juga dibutuhkan untuk mengurangi senioritas yang berlebihan. Aksi tersebut diperlukan dan dapat terealisasikan dengan baik dan efektif dengan partisipasi aktif dari seluruh warga sekolah.

Senioritas juga dapat diubah menjadi budaya kolaboratif yang menguatkan semangat belajar di lingkungan sekolah. Program orientasi atau LDK dapat direstrukturisasi agar fokus pada empati, inklusivitas, dan kepemimpinan positif. Sehingga membentuk sifat kepemimpinan dalam merangkul tim pada setiap program kerja yang akan diberlakukan. Evaluasi dan keikutsertaan orang tua siswa dalam monitoring budaya sekolah dapat mendukung transisi ini. Pada akhirnya dapat membuahkan hasil dengann terciptanya sekolah yang lebih aman, inklusif, dan menderdaskan.