Mendobrak Batasan: Sekolah yang Mendorong Kebebasan Berpikir Kreatif Anak

Mahasiswa Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Iffah Hanif Huzaifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"My life was narrated for me by others. Their voices were forceful, emphatic, absolute. It had never occurred to me that my voice might be as strong as theirs"
Kutipan di atas adalah memoar yang sangat menginspirasi dari Tara Westover dalam bukunya berjudul Educated. Tara adalah seorang penulis yang berasal dari keluarga yang sangat terisolir di pegunungan Idaho.
Ia tidak memiliki akses ke pendidikan formal sampai usianya menginjak 17 tahun. Semua itu tidak lain karena faktor keluarga dan keadaan sosial yang sangat membatasinya untuk bisa mengenyam pendidikan.
Namun dengan tekad dan semangatnya yang kuat, ia berhasil mengatasi segala rintangan untuk meraih mimpinya. Puncaknya, pada tahun 2019 ia berhasil mengukir namanya dalam list 100 orang paling berpengaruh versi New York Times.
Kisah Tara mengajarkan kita tentang seberapa berpengaruhnya pendidikan dapat mengubah hidup seseorang. Tara yang awalnya merasa sangat terpinggirkan dan tidak diakui akhirnya bisa mengubah jalan hidupnya ketika ia berani dalam mengekspresikan dan percaya pada dirinya sendiri.
Berbicara tentang pendidikan, Bapak Pendidikan kita Ki Hajar Dewantara pernah mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah memerdekakan manusia sehingga ia bisa selamat dan bahagia.
Pernahkah terbayang dalam pikiran Anda sebenarnya pendidikan yang memerdekakan itu seperti apa? Atau pernahkah Anda merasa sangat antusias ketika melihat film-film Hollywood yang menampilkan adegan sekolah di mana para anak-anak di sana diberikan kebebasan berpikir sedemikian luasnya, kegiatan pembelajaran yang bervariasi bahkan ekstrakurikuler yang beragam?
Hebatnya hal ini diterapkan hampir di seluruh tingkatan sekolah mereka. Merefleksikan dengan Indonesia, sistem pendidikan kita kerap dikatakan tertinggal selama ratusan tahun. Mengapa bisa demikian? Mari kita bersama memikirkan celah apa yang sebenarnya hilang di sistem pendidikan kita dengan memulainya dari pentingnya menekankan kebebasan berpikir pada siswa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah seharusnya memberikan kebebasan berpikir kepada siswa karena setiap siswa pada dasarnya memiliki keunggulan dan kapasitasnya masing-masing (Lesilolo, et al, 2015).
Bayangkan Anda bersekolah di lingkungan pendidikan berbasis kebebasan berpikir. Dalam lingkungan bebas berpikir itu, setiap siswa diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka dengan cara paling alami bagi mereka.
Mata pelajaran konvensional seperti matematika dan bahasa Inggris tetap diajarkan, tetapi dengan pendekatan yang berbeda. Guru bukan hanya penyampai pengetahuan, tetapi juga fasilitator yang menginspirasi dan mendorong diskusi serta eksperimen.
Salah satu metode yang dapat digunakan di sistem pendidikan yang mengajarkan kebebasan berpikir adalah pembelajaran berbasis proyek. Setiap siswa memiliki proyek unik yang mereka rancang sendiri.
Mereka juga diberikan kebebasan dalam memilih topik yang menarik bagi mereka. Dalam proyek tersebut, siswa didorong untuk menggabungkan berbagai disiplin ilmu dan menemukan solusi kreatif.
Misalnya, seorang siswa dapat menggabungkan matematika dan seni untuk membuat instalasi seni interaktif yang menggambarkan konsep matematika yang kompleks.
Selain itu, di kebebasan berpikir penilaian bukan hanya berfokus pada tes dan nilai. Guru menggunakan pendekatan holistik untuk menilai kemajuan siswa, termasuk melalui presentasi, proyek kolaboratif, dan portofolio kreatif.
Dengan cara ini, mereka menghargai keunikan setiap siswa dan memperkuat rasa percaya diri mereka. Sekolah juga mendorong keterlibatan aktif orang tua dalam proses pendidikan anak-anak mereka.
Mereka diundang untuk berpartisipasi dalam kegiatan sekolah dan mendukung perkembangan kreatif anak-anak. Hal ini tentu dapat menciptakan ikatan yang kuat antara keluarga dan sekolah.
Dengan adanya sistem pendidikan seperti ini membuat siswa bisa lebih mandiri, kritis, dan berani mengemukakan ide-ide mereka. Kemampuan beradaptasi juga akan meningkat sehingga dapat mempersiapkan mereka untuk menghadapi dunia yang terus berubah.
Hal ini adalah salah satu celah kurangnya pendidikan di negeri ini. Sekolah seharusnya paham bahwa siswa tidak akan selalu memperoleh pekerjaan atau karier sebatas lingkup mata pelajaran yang diajarkan.
Seperti yang Ki Hajar Dewantara sampaikan, tujuan pendidikan kita adalah merdeka, survive dengan selamat dan bahagia. Poin pentingnya ada pada 'survive', sekolah sebagai sarana pendidikan seharusnya juga membiasakan dan mengajarkan siswa soft skills yang berguna bagi kehidupan yang terus bergerak. Jika kebebasan berpikir tidak diterapkan maka kita akan semakin jauh dari tujuan pendidikan yang seharusnya.
Metode pembelajaran dengan kebebasan berpikir seperti ini seharusnya dapat diadopsi oleh lebih banyak sekolah di seluruh negeri.
Dengan memberikan kebebasan berpikir kepada anak-anak sejak dini, kita dapat melahirkan generasi yang inovatif, berpikiran terbuka, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Kebebasan berpikir kreatif adalah kunci untuk menginspirasi generasi penerus yang hebat. Sekolah harusnya menjadi contoh inspiratif tentang bagaimana pendidikan dapat memberikan ruang untuk tumbuh dan berkembang tanpa batasan dan membuka jalan bagi masa depan yang lebih cerah.
Kebebasan berpikir pada siswa dapat diberikan dengan memberikan pilihan materi pembelajaran yang luas, tidak memaksakan suatu kehendak, dan memberikan kebebasan dalam memahami pengetahuan dan memecahkan masalah. Selain itu, keterampilan berpikir kritis juga dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran (Cahyadi, N, 2019).
