Konten dari Pengguna

Kecurangan OSN Cermin Pendidikan Bangsa

Iffat Taufiqulhakim

Iffat Taufiqulhakim

Pelajar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga yang berkomitmen terhadap akademik dan kemajuan serta kesejahteraan kesehatan masyarakat Indonesia.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Iffat Taufiqulhakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

dokumentasi pribadi OSN 2024
zoom-in-whitePerbesar
dokumentasi pribadi OSN 2024

OSN (Olimpiade Siswa Nasional) adalah sebuah ajang perlombaan sains dan teknologi yang diikuti oleh seluruh siswa SD, SMP, dan SMA di seluruh Indonesia. Adanya OSN menjadi sebuah ujung tombak pendidikan di Indonesia di mana talenta-talenta kelas dunia yang ada di Indonesia dipertemukan untuk bertanding mendapatkan sebuah kesempatan untuk membawa nama Indonesia di ajang olimpiade internasional. OSN terdiri dari 4 tahap seleksi, yaitu tingkat sekolah, tingkat kota, tingkat provinsi, dan tingkat nasional. Pada ajang ini, siswa-siswi Indonesia saling menunjukkan kegigihannya dalam bidang sains dan teknologi. Persaingan yang sehat menyebabkan bibit-bibit bangsa di masa depan ini untuk melihat dunia luar, memotivasi mereka, dan membekali mereka dengan bekal-bekal yang berharga.

OSN memiliki ribuan manfaat yang seharusnya dapat dimanfaatkan Indonesia untuk mengembangkan sumber daya manusianya yang begitu melimpah. Di kompetisi ini, putra dan putri terbaik bangsa saling bertemu satu sama lain, saling mengenal, dan saling berkompetisi. Lingkungan yang seperti inilah tempat di mana mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi yang nantinya akan memimpin Indonesia khususnya pada bidang sains dan teknologi. Serangkaian kompetisi yang panjang akan menghasilkan 30 putra dan putri terbaik yang akan mengikuti kembali serangkaian pelatihan dan seleksi untuk akhirnya membawa nama Indonesia di kancah olimpiade tingkat internasional. Serangkaian proses yang panjang inilah media terbaik pertumbuhan para intelektual-intelektual Indonesia.

Namun, apa jadinya apabila tempat tumbuhnya para intelektual ini dicemari oleh kecurangan dan kecacatan integritas. Terlansir dari salah satu Instagram sekolah yang menjadi peserta OSN Tingkat Kota Tahun 2025, terdapat postingan yang menunjukkan siswanya yang sedang melaksanakan seleksi tingkat kota, tapi setelah dilihat dengan detail terpampang jelas terdapat perangkat elektronik selain kalkulator di meja mereka. Bahkan, beberapa dari mereka tidak menggunakan kertas buram dan kalkulator mereka, yang terlihat dari bagaimana meja hanya terdapat sebuah perangkat elektronik berupa handphone. Tidak hanya itu saja, melainkan juga terdapat banyak laporan-laporan di mana guru yang seharusnya menjadi pengawas dalam ajang perlombaan meninggalkan ruangan bahkan tidur saat perlombaan berlangsung. Hal-hal ini menyebabkan banyak dari para medalis perunggu dan perak yang tidak lolos seleksi kota. Hal ini merupakan hal yang aneh, bagaimana mereka para medalis yang telah mengalahkan ribuan orang pada kompetisi tahun sebelumnya mengalami penurunan seperti itu.

PPSN (Perhimpunan Pelajar Sains Nasional) Indonesia telah membuka laman pengaduan. PPSN berperan sebagai penghubung antara pihak peserta dengan Kemendikbud. Bukan hanya pihak-pihak resmi saja yang melakukan pelaporan, melainkan juga jurnalis independen banyak mengabadikan kecurangan yang terjadi di laman media sosial dan di laman-laman media lainnya.

Kemendikbud Indonesia telah mendapat laporan-laporan ini dan telah memberikan statement tidak resmi kepada salah satu informan. Mereka mengatakan bahwa mereka telah mengetahui kecurangan yang terjadi. Tetapi, hasil telah ditetapkan sehingga sudah tidak dapat mengalami perubahan lagi karena alasan efisiensi. Efisiensi seharusnya tidak dapat menjadi sebuah alasan atas kecurangan yang terjadi apabila negeri ini benar-benar menjunjung moralitas dan integritas. Apa jadinya sebuah kompetisi apabila penyelenggaranya sendiri tidak menegakkan aturan yang telah mereka tetapkan. Beda halnya apabila bukti yang diberikan masih belum jelas, tapi bukti yang beredar di media sosial telah banyak sekali beredar. Korban dirugikan juga sangat banyak jumlahnya.

Kecurangan dan kecacatan ini sudah bukan masalah individu maupun kelompok oknum lagi. Tetapi, sudah menjadi sebuah kecacatan integritas, struktural, dan fundamental pendidikan Indonesia. Aturan sudah terpampang jelas di buku panduan yang dipublikasikan secara resmi, tapi apakah itu semua hanya omong kosong belaka? Jika sebuah kompetisi yang ditujukan untuk mengembangkan intelektual-intelektual Indonesia dicemari oleh kecurangan dan kecacatan, mau jadi apa negeri ini? Masalah kecurangan sudah bukan lagi masalah kecil yang hanya terjadi di beberapa rumpun kecil. Hal ini sudah mengakar di diri bangsa. Tentunya kecacatan moral dan integritas ini tidak dapat dibiarkan.

Perlunya penindakan kepada sekolah-sekolah yang terindikasi melakukan kecurangan. Oknum-oknum yang melakukan tindakan kecurangan harus didiskualifikasi dan mendapatkan tuntunan. Saya yakin mereka bukan tidak pandai, tapi salah dalam menggunakan kepandaian mereka. Demi mewujudkan Indonesia Emas, bibit-bibit yang Indonesia miliki haruslah berkualitas untuk tumbuh menjadi manusia-manusia yang bermanfaat bagi bangsa. Sebagai seorang pelajar finalis OSN di tahun 2024, ini menjadi sebuah keprihatinan kami. Sebuah laga tempat kami mencurahkan usaha dan mendedikasikan diri kami terhadap sains dan teknologi telah tercemar. Kami harap ini semua dapat segera berubah dan korban yang dirugikan dapat mendapatkan kesempatan kedua untuk membuktikan diri mereka.