Konten dari Pengguna

Hoaks di FYP: Mengapa Mahasiswa Harus Lebih Kritis dalam Menanggapi Informasi?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ifkatul Magfiroh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi cara mengahadapi hoaks secara kritis bagi mahasiswa Sumber: Dibuat menggunakan AI (cloude ai), 2026.
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi cara mengahadapi hoaks secara kritis bagi mahasiswa Sumber: Dibuat menggunakan AI (cloude ai), 2026.

Membuka media sosial merupakan sebuah kebiasaan yang tidak bisa dipisahkan oleh kehidupan mahasiswa,dalam beberapa detik pengguna media sosial dapat mendapatkan informasi melalui for you page (fyp) yang disajikan baik informasi pendidikan politik dan berita yang sedang hangat di bicarakan.

Hal tersebut dapat mempermudah mahasiswa untuk mendapatkan informasi dengan cepat sebelum di sampaikan melalui media konvensional.Namun kecepatan mendapatkan informasi melalui Fyp masih banyak dipertanyakan tentang kebenarannya mengenai sumber informasi.

Masalahnya, semua berita yang sering muncul di fyp seringkali dianggap benar hanya karena banyak yang membicarakan, jumlah tayangan,komentar,dan jumlah suka memicu anggapan mahasiswa berita tersebut meyakinkan kebenarannya,padahal kebenaran suatu konten tidak bisa dilihat dari popularitasnya.

Kementerian komunikasi dan digital pada Juni 2026 mengingatkan generasi muda mengenai "ilusi algoritma",yaitu ketika kondisi lini media sosial dapat membentuk persepsi seseorang terhadap realitas.informasi yang terus muncul di layar dapat membuat seseorang merasa bahwa apa yang dilihatnya merupakan gambaran keseluruhan keadaan,padahal algoritma menyajikan konten berdasarkan pola pengguna dan interaksi pengguna.

Karena itu,mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna media sosial yang hanya menerima berita begitu saja,melainkan mahasiswa harus mampu untuk memilih dan memilah,memeriksa,dan memahami sebelum menyampaikan atau menyebarkannya.

Hoaks Tidak Selalu Terlihat sebagai Kebohongan

Hoaks atau informasi yang palsu tidak selalu berbentuk berita yang mudah dikenal,dalam praktiknya,informasi yang palsu dapat dikemas menggunakan judul yang menarik,video, gambar,kutipan bahkan data yang terlihat meyakinkan.

Di era media sosial video lama dapat beredar dengan keterangan yang berbeda,foto dari suatu kejadian dapat digunakan untuk menjelaskan suatu peristiwa lain. Akibatnya,orang yang hanya melihat judul atau potongan informasi dapat menyimpulkan secara keliru.

Kementerian Komunikasi dan Digital pada agustus 2026,misalnya,mengingatkan masyarakat mengenai video demonstrasi yang sudah lama yang disebarkan kembali seolah-olah menggambarkan peristiwa yang sedang terjadi.

Hal tersebut menunjukkan bahwa persoalan informasi digital bukan hanya benar dan salah,melainkan konteks,waktu,sumber,dan cara sebuah informasi disampaikan juga perlu diperiksa.

Mengapa Mahasiswa Perlu Bersikap Kritis?

Mahasiswa berada di lingkungan yang sangat dekat informasi digital. Informasi dari media sosial sering digunakan untuk bahan diskusi,mengerjakan tugas,mengikuti isu terkini,bahkan membentuk pendapat mengenai berbagai persoalan.

Namun,informasi yang ditemukan di media sosial tidak dapat langsung dijadikan sebagai sumber akademik.

Hasil Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025 menunjukkan bahwa 30,3% responden belum mampu memastikan kredibilitas sumber informasi di media digital,sedangkan 28,8% belum mampu memverifikasi informasi yang diperoleh secara daring. Data tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan teknologi tidak selalu sama dengan kemampuan menilai kualitas informasi.

Dalam konteks mahasiswa, kemampuan berpikir kritis menjadi penting karena informasi yang salah dapat memengaruhi diskusi, tugas, penelitian, maupun pemahaman terhadap suatu persoalan.

Mahasiswa tidak harus langsung percaya karena sebuah informasi berasal dari akun yang banyak pengikut. Sebaliknya, informasi dari akun yang sedikit penontonnya juga tidak otomatis salah.Yang lebih penting adalah melihat bukti dan sumber yang mendasarinya.

Lima Langkah Sederhana Memeriksa Informasi di FYP

Sebelum mempercayai atau membagikan informasi yang ditemukan dari media sosial, mahasiswa dapat melakukan beberapa langkah sederhana.

Pertama, periksa sumbernya.

Cari tahu siapa yang membuat atau menyebar informasi tersebut. Apakah berasal dari lembaga resmi, media yang kredibel, ahli, atau hanya akun anonim?

Kedua, jangan hanya membaca judul.

Judul yang provokatif sering dibuat untuk menarik perhatian. Baca isi informasi secara utuh agar tidak mengambil kesimpulan dari beberapa kalimat.

Ketiga, periksa tanggal dan konteks.

Informasi lama dapat kembali viral dan dianggap sebagai kejadian baru. Periksa kapan foto, video, atau berita tersebut pertama kali dibuat.

Keempat, bandingkan dengan sumber yang lain.

Jika sebuah informasi penting, cari pemberitaan atau penjelasan yang dapat dipercaya. Jika informasi tersebut hanya di satu akun tanpa bukti pendukung, sebaiknya jangan langsung menyebarkannya.

Kelima, gunakan situs pemeriksa fakta atau sumber resmi.

Untuk informasi yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah, kesehatan, pendidikan, atau isu publik lainnya, mahasiswa dapat mencari informasi dari lembaga yang berwenang.

Langkah-langkah mungkin terlihat sederhana. Namun, kebiasaan berhenti sejenak sebelum membagikan informasi dapat membantu mengurangi penyebaran informasi yang tidak benar.

FYP Bukan Selalu Gambaran Realitas

Salah satu tantangan terbesar di media sosial adalah munculnya anggapan bahwa apa yang sering dilihat di FYP adalah sesuatu yang terjadi secara luas. Padahal algoritma media sosial bekerja berdasarkan interaksi pengguna. Ketika seseorang sering melihat konten tertentu maka sistem akan memunculkan konten dengan tema serupa.

Akibatnya, dua orang yang menggunakan platform yang sama akan memiliki FYP yang sangat berbeda. Seseorang mungkin melihat konten pendidikan, sementara orang lain melihat konten yang menghibur atau isu-isu yang sedang di bicarakan.

Karena itu, mahasiswa perlu memahami bahwa FYP berasal dari penyaringan algoritma, bukan representasi lengkap dari kenyataan. Kementerian Komunikasi dan Digital juga menekankan bahwa ruang digital dapat menimbulkan persepsi yang tidak selalu mencerminkan kondisi sebenarnya. Kesadaran tersebut penting agar pengguna tidak menganggap apa yang sering muncul sebagai satu-satunya kebenaran.

Menjadi Mahasiswa yang Tidak Mudah Terpengaruh

Menjadi kritis bukan berarti menolak semua informasi yang ditemukan di media sosial, sikap kritis berarti bersedia menerima informasi, namun tidak langsung mempercayainya sebelum memeriksa dasar informasi.

Mahasiswa dapat membiasakan dirinya dengan mengajukan beberapa pertanyaan sederhana:

Siapa yang mengatakan? Dari mana sumbernya? Kapan informasi di buat? Apa buktinya? Apakah ada sumber lain yang mengonfirmasi?

Pertanyaan tersebut dapat menjadi kebiasaan sebelum seseorang menekan tombol share. Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, tantangan tersebut menjadi lebih kompleks. Konten digital dapat dibuat dan dimanipulasi dengan semakin mudah. Karena itu, kemampuan literasi digital bukan hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan aplikasi, tetapi juga memahami, mengevaluasi, dan memverifikasi informasi.

Kesimpulan

Media sosial dan FYP memberikan kemudahan bagi mahasiswa untuk memperoleh informasi secara cepat. Namun, kemudahan tersebut juga dapat menimbulkan risiko apabila informasi yang diterima tidak diperiksa kebenarannya.

Mahasiswa sebagai generasi yang aktif menggunakan media sosial perlu memiliki kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi arus informasi. Tidak semua informasi yang viral merupakan fakta dan tidak semua informasi yang sering muncul di FYP menggambarkan keadaan secara keseluruhan.

Memeriksa sumber, membaca informasi secara utuh, melihat tanggal dan konteks, membandingkan beberapa sumber, serta melakukan pengecekan fakta merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan sebelum mempercayai dan menyebarkan sebuah informasi.

Pada akhirnya, menjadi pengguna media sosial yang cerdas bukan tentang siapa yang paling cepat membagikan informasi, melainkan siapa yang mampu berhenti sejenak untuk memastikan bahwa informasi tersebut layak dipercaya.