Konten dari Pengguna

Kaya Plasma Nutfah, Miskin Hilirisasi: Pelajaran dari Industri Anggrek Indonesia

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Iga Permata Hany tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anggrek merupakan salah satu komoditas tanaman hias utama di Indonesia. Indonesia memiliki setidaknya 21% jenis anggrek dari total 6.000 jenis anggrek di dunia. Didukung iklim tropis yang sesuai, negara ini menjadi salah satu pusat keragaman anggrek terbesar di dunia. Potensi ini dapat dimanfaatkan dalam bidang ekonomi. Ironisnya, di tengah kekayaan plasma nutfah yang melimpah, produksi anggrek nasional justru terus menurun. Kondisi ini menunjukkan bahwa kekayaan biodiversitas yang dimiliki Indonesia belum diikuti oleh hilirisasi yang mampu menciptakan nilai tambah ekonomi secara optimal.

Tren produksi anggrek di Indonesia mengalami penurunan setiap tahunnya. Berdasarkan data dari BPS pada tahun 2021 jumlah produksi anggrek mencapai 15 juta anggrek. Namun, jumlah ini terus menurun dari tahun ke tahun. Penurunan produksi dari tahun 2021 hingga 2025 mencapai rata-rata sebesar 21%. Produksi anggrek semakin menurun pada tahun 2025, dengan total produksi 5,5 juta anggrek. Jumlah ini tentunya sangat jauh di bawah beberapa negara di Asia dengan produksi anggrek tertinggi saat ini, yaitu Thailand dan Taiwan.

Berdasarkan berbagai publikasi ilmiah, anggrek merupakan salah satu komoditas utama dalam industri florikultura global dengan pangsa pasar sekitar 8–10%. Nilai perdagangan florikultura dunia sendiri telah mencapai lebih dari 60 miliar dolar AS, menunjukkan besarnya kontribusi ekonomi dari komoditas tanaman hias, termasuk anggrek. Selain itu, prospek industri ini juga terus menunjukkan tren yang positif. Pasar florikultura global diproyeksikan meningkat dari 29,2 miliar dolar AS pada tahun 2020 menjadi 41,1 miliar dolar AS pada tahun 2027 dengan laju pertumbuhan tahunan sebesar 5%. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk florikultura, termasuk anggrek, terus meningkat di pasar internasional. Bagi Indonesia yang memiliki salah satu tingkat keanekaragaman anggrek tertinggi di dunia, kondisi ini seharusnya menjadi peluang besar untuk mengembangkan industri anggrek yang lebih kompetitif dan berorientasi ekspor.

Thailand memiliki lebih dari 1.100 spesies anggrek dan iklim tropis yang mendukung pertumbuhan sepanjang tahun, berhasil menjadi eksportir anggrek tropis terbesar di dunia melalui penerapan teknologi kultur jaringan dan pemuliaan tanaman. Bahkan, anggrek menyumbang lebih dari 60% nilai ekspor tanaman hias negara tersebut. Sementara itu, Taiwan mengembangkan keunggulannya melalui investasi besar pada penelitian dan pengembangan, termasuk pemuliaan varietas unggul, pengelolaan plasma nutfah, dan bioteknologi. Hasilnya, Taiwan menjadi produsen terbesar anggrek di dunia dengan pangsa lebih dari 50% pasar global. Keberhasilan kedua negara tersebut menunjukkan bahwa daya saing industri anggrek tidak hanya ditentukan oleh kekayaan spesies dan kondisi alam yang mendukung, tetapi juga oleh kemampuan mengintegrasikan teknologi, riset, sumber daya manusia, dan dukungan industri ke dalam suatu sistem produksi yang efisien dan berorientasi ekspor. Pelajaran penting dari kedua negara tersebut adalah bahwa keunggulan industri anggrek tidak lahir dari kekayaan sumber daya semata, melainkan dari kemampuan mengubah sumber daya tersebut menjadi produk dan teknologi yang bernilai ekonomi.

Indonesia memiliki sumber daya anggrek yang lebih besar serta kondisi alam yang tidak kalah mendukung. Sayangnya, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Kekayaan alam yang tidak diiringi dengan peningkatan sumber daya manusia, kemajuan teknologi, dan kesadaran akan peluang akan menyebabkan kerugian. Indonesia tidak kekurangan plasma nutfah, tetapi masih kekurangan hilirisasi. Kekayaan biodiversitas yang melimpah belum berhasil diubah menjadi bibit unggul, varietas komersial, maupun produk bernilai ekonomi tinggi yang mampu bersaing di pasar global.

Salah satu hambatan utama adalah belum terbentuknya ekosistem industri anggrek yang terintegrasi. Riset di perguruan tinggi masih berjalan sendiri, sementara pelaku usaha kesulitan mengakses teknologi dan modal untuk memperbesar skala produksi. Banyak spesies anggrek Indonesia masih berhenti sebagai koleksi plasma nutfah atau objek penelitian, belum berkembang menjadi varietas komersial yang diproduksi dan dipasarkan secara luas. Minimnya investasi sektor hortikultura bernilai tinggi serta orientasi budidaya yang masih berskala hobi dibanding industri turut memperlambat perkembangan sektor ini. Akibatnya, hasil penelitian sering berhenti di laboratorium, sementara pelaku usaha kesulitan meningkatkan skala produksi dan daya saing.

Pemenuhan pasar anggrek dari Indonesia masih bergantung pada perbanyakan secara konvensional dan eksploitasi langsung dari alam. Sementara industri anggrek modern bergantung kepada pengembangan teknologi. Indonesia kalah karena teknologi belum menjadi tulang punggung industri. Salah satu teknologi perbanyakan modern adalah kultur jaringan. Kultur jaringan tanaman dapat menghasilkan tanaman dalam jumlah yang banyak dan seragam, serta waktu yang relatif singkat dibandingkan perbanyakan konvensional. Selain itu, dalam perbanyakan anggrek, teknologi ini sangat tepat digunakan. Anggrek memiliki biji berukuran mikroskopis yang sulit berkecambah di alam dengan keberhasilan hanya berkisar 1%. Melalui kultur jaringan keberhasilan perkecambahan bisa meningkat secara signifikan mendekati 100% dalam kondisi yang terkontrol. Perbedaan ini menunjukkan bahwa penguasaan teknologi menjadi faktor penentu dalam membangun industri anggrek modern. Perbanyakan anggrek melalui kultur jaringan sudah sangat massal dilakukan di Thailand dan Taiwan. Sayangnya, teknologi yang telah lama digunakan secara luas di negara pesaing tersebut belum berkembang menjadi fondasi utama industri anggrek nasional.

Gambar perkecambahan biji anggrek Grammatophyllum scriptum melalui teknik kultur jaringan tanaman (Sumber: Dokumentasi pribadi)

Di tengah meningkatnya permintaan pasar florikultura global, Indonesia sesungguhnya memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat industri anggrek dunia. Pemerintah perlu menjadikan anggrek sebagai komoditas florikultura strategis melalui pembangunan pusat kultur jaringan regional, insentif bagi industri perbanyakan, serta penguatan kolaborasi perguruan tinggi dan pelaku usaha. Tanpa langkah tersebut, Indonesia akan terus menjadi negara kaya plasma nutfah yang hanya menjadi penonton di pasar anggrek

Gambar planlet Anggrek Grammatophyllum scriptum yang diperbanyak melalui teknik kultur jaringan tanaman (Sumber: Dokumentasi pribadi)
Gambar proses penanaman tanaman ke dalam media tanam di Laminar Air Flow Cabinet (LAFC) dengan teknik kultur jaringan tanaman (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)

dunia. Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia mampu menjadi pemain utama industri anggrek dunia, melainkan apakah Indonesia berani mengubah kekayaan plasma nutfahnya menjadi kekuatan ekonomi yang nyata melalui hilirisasi yang berkelanjutan.