Uhang Pandak, Sebuah Mitos Gunung Kerinci di Jambi

Ihsan Maulana
Mahasiswa S1 Teknik Biomedis Fakultas Teknik Telekomunikasi dan Elektro
Konten dari Pengguna
3 Desember 2023 17:04 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Ihsan Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Legenda dikenal sebagai asal muasal kejadian yang terjadi akibat cerita masa lalu yang memiliki cerita membekas dipikiran masyarakat setempat. Pada kesempatan ini aku mau cerita tentang Uhang Pandak yang merupakan legenda yang sudah melekat pada masyarakat sekitar. Uhang Pandak sering ditemukan di seluruh hutan Sumatera, tepatnya di Gunung Kerinci, di bagian Jambi Utara.
ADVERTISEMENT
Kerinci terkenal dengan keindahan Gunung Kerinci, yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Sumatera dengan ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut. Gunung ini menjadi tujuan favorit para pendaki karena saat di puncak mereka dapat menikmati pemandangan yang menakjubkan. Di balik keindahan alam tersebut, terdapat cerita warisan nenek moyang masyarakat Kerinci tentang gunung tersebut, dan masyarakat Kerinci masih mempertahankan kebudayaan leluhur mereka hingga saat ini.
Masyarakat Kerinci meyakini bahwa di dalam gunung terdapat kehidupan selain manusia biasa yang disebut Uhang Pandak. Kepercayaan ini memunculkan larangan bagi para pendaki gunung agar tidak merusak alam dan selalu mendaki bersama kelompok. Mereka dilarang untuk mendaki sendirian dan diharapkan memiliki niat baik saat mendaki. Jika aturan-aturan ini tidak diikuti, konsekuensinya dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak terduga bahkan di luar nalar.
https://unsplash.com/s/collections/gunungkerinci
Kepercayaan masyarakat Kerinci terhadap keberadaan Uhang Pandak ini menjadi landasan penting dalam menjaga kelestarian alam dan memberikan penghormatan pada gunung yang dianggap sakral. Dengan menjaga kebudayaan leluhur dan menghormati aturan-aturan yang berlaku, masyarakat Kerinci melestarikan nilai-nilai kearifan lokal dan menjaga hubungan yang harmonis antara manusia dan alam.
ADVERTISEMENT
Dalam konteks ini, kepercayaan masyarakat Kerinci terhadap Uhang Pandak mengajarkan pentingnya menghormati dan menjaga lingkungan alam serta menjalin hubungan yang baik dengan kekuatan-kekuatan supranatural yang diyakini ada di sekitar mereka. Keberlanjutan kepercayaan ini juga mencerminkan kearifan lokal dalam melestarikan alam dan menjaga keindahan gunung yang menjadi simbol identitas dan kebanggaan masyarakat Kerinci. Berikut video Jejak misterius Uhak Pandak.
https://unsplash.com/s/collections/uhang
Berdasarkan cerita yang beredar, Uhang Pandak diyakini memiliki kemampuan supranatural dan seringkali berada dalam keadaan gaib, sehingga hanya dapat dilihat oleh orang-orang tertentu. Namun, mereka kadang-kadang dapat menampakkan diri dan hidup dengan manusia tanpa disadari keberadaannya. Uhang Pandak hidup dalam dimensi yang berbeda dengan manusia dan hanya dapat terlihat ketika mereka memilih untuk menampakkan diri. Saat menampakkan diri, mereka memiliki penampilan yang menyerupai manusia dengan kecantikan atau kegantengan yang luar biasa. Sebagian masyarakat meyakini bahwa mereka tinggal di pedalaman hutan atau pegunungan yang jauh dari pemukiman manusia. Ada juga yang berpendapat bahwa mereka sering kali tinggal di tempat-tempat terpencil dan rumah-rumah kosong yang sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya sehingga para pemilik rumah akan menjual atau menutup lahan yang disinggahi.
https://unsplash.com/s/photos/uhang-pandak
Uhang Pandak dicirikan sebagai manusia berkaki terbalik yang diyakini jika seorang pendaki melihat sesosok tersebut pendaki tersebut dalam pantauan uhang pandak. Karena pendaki yang tidak menjaga sopan santun dalam lisan maupun perilaku akan dikategorikan sebagai target uhang pandak. Uhang Pandak dapat dianggap sebagai makhluk penjaga atau penunggu Gunung Kerinci. Mereka memiliki tubuh yang gemuk dengan tangan yang panjang, mata yang berwarna merah terang, dan tubuh yang ditutupi oleh bulu berwarna abu-abu. Makhluk berukuran sekitar 80 cm ini memiliki kemampuan untuk mendeteksi keberadaan orang di sekitarnya, sehingga mereka cenderung berlari menjauh ketika bertemu dengan orang lain. Mereka tinggal di dalam hutan, namun bukan merupakan spesies orangutan.
ADVERTISEMENT
Secara jelas dapat disimpulkan bahwa keberadaan Uhang Pandak benar-benar menjadi topik hangat dikalangan pendakian gunung kerinci. Dengan meyakini bahwa Uhang Pandak ada, kita seharusnya tetap menjaga tata bicara saat berada di lingkungan yang seharusnya bukan milik kita.