Pentingnya Lingkungan Kerja Positif untuk Keselamatan Industri

Taufiq Ihsan Ph.D adalah Dosen Tetap Departemen Teknik Lingkungan, Universitas Andalas, dengan Bidang Keahlian: Kesehatan dan Manajemen Lingkungan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, serta Air, Sanitasi dan Higiene Kebencanaan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Taufiq Ihsan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Industri berisiko tinggi, seperti pertambangan, minyak dan gas, serta konstruksi, selalu dihadapkan pada tantangan besar dalam menjaga keselamatan kerja. Kecelakaan besar seperti tumpahan minyak Deepwater Horizon atau bencana nuklir Fukushima-Daiichi menyadarkan kita bahwa faktor manusia memegang peran penting dalam insiden-insiden tersebut. Namun, bagaimana sebenarnya kondisi psikologis pekerja, atau yang sering disebut faktor psikososial, dapat memengaruhi keselamatan di lingkungan kerja yang penuh risiko ini? Sebuah tinjauan literatur sistematis mencoba menjawab pertanyaan tersebut.
Memahami Faktor Psikososial
Faktor psikososial merujuk pada karakteristik lingkungan kerja yang memengaruhi kesehatan dan keselamatan pekerja, baik secara positif maupun negatif. Tuntutan pekerjaan yang tinggi, kurangnya dukungan sosial, kepemimpinan yang buruk, atau ketidakjelasan peran dapat menjadi beban psikologis yang berat. Di sisi lain, dukungan dari rekan kerja dan atasan, otonomi dalam bekerja, serta penghargaan yang adil dapat menjadi sumber daya yang meningkatkan motivasi dan kesejahteraan pekerja.
Hubungan antara Faktor Psikososial dan Keselamatan
Tinjauan ini menganalisis berbagai penelitian yang menghubungkan faktor psikososial dengan perilaku dan hasil keselamatan kerja di industri berisiko tinggi. Hasilnya menunjukkan bahwa tuntutan pekerjaan yang berlebihan, seperti tekanan kerja dan beban kerja yang tinggi, seringkali dikaitkan dengan peningkatan perilaku tidak aman dan risiko kecelakaan. Di sisi lain, sumber daya pekerjaan yang positif, seperti dukungan sosial dan kepemimpinan yang baik, berkontribusi pada peningkatan perilaku aman dan penurunan tingkat kecelakaan.
Model Tuntutan dan Sumber Daya Kerja (JD-R)
Teori Job Demands-Resources (JD-R) memberikan kerangka kerja yang berguna untuk memahami hubungan ini. Model ini menjelaskan bahwa tuntutan pekerjaan yang tinggi dapat menguras sumber daya mental dan fisik pekerja, menyebabkan kelelahan, stres, dan pada akhirnya perilaku tidak aman. Sementara itu, sumber daya pekerjaan yang memadai dapat membantu pekerja mengatasi tuntutan tersebut, meningkatkan motivasi, dan mendorong perilaku aman.
Safety I dan Safety II
Selain itu, tinjauan ini juga menyoroti pentingnya mempertimbangkan dua perspektif dalam keselamatan kerja: Safety I dan Safety II. Safety I berfokus pada pencegahan kecelakaan dan kesalahan, sedangkan Safety II menekankan pada pemahaman tentang apa yang membuat pekerjaan berjalan dengan baik dan aman.
Temuan Kunci dan Implikasinya
Beberapa temuan kunci dari tinjauan ini antara lain:
Tuntutan pekerjaan yang tinggi terkait dengan peningkatan perilaku tidak aman. Tekanan kerja, beban kerja berlebihan, dan ketidakjelasan peran dapat meningkatkan risiko kesalahan dan kecelakaan.
Sumber daya pekerjaan yang positif terkait dengan peningkatan perilaku aman. Dukungan sosial, kepemimpinan yang baik, dan otonomi dalam bekerja dapat meningkatkan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan dan partisipasi aktif dalam menjaga keselamatan.
Kondisi psikologis pekerja, seperti stres dan kelelahan, memediasi hubungan antara faktor psikososial dan keselamatan. Tuntutan pekerjaan yang tinggi dapat menyebabkan stres dan kelelahan, yang pada gilirannya meningkatkan risiko perilaku tidak aman.
Penelitian tentang faktor psikososial dan keselamatan di industri berisiko tinggi masih terbatas. Dibutuhkan lebih banyak penelitian, terutama yang menggunakan desain longitudinal dan multilevel, untuk memahami kompleksitas hubungan ini.
Temuan-temuan ini memiliki implikasi penting bagi perusahaan dan pembuat kebijakan di industri berisiko tinggi. Penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung, memberikan pelatihan dan pengembangan yang memadai, serta mempromosikan kepemimpinan yang baik untuk meningkatkan keselamatan kerja. Selain itu, penting juga untuk mengelola tuntutan pekerjaan dengan baik, memberikan kesempatan bagi pekerja untuk beristirahat dan memulihkan diri, serta menyediakan dukungan psikologis jika diperlukan.
Kesimpulan
Tinjauan literatur ini memberikan bukti kuat bahwa faktor psikososial memainkan peran penting dalam keselamatan kerja di industri berisiko tinggi. Dengan memahami hubungan antara faktor psikososial, kondisi psikologis pekerja, dan perilaku keselamatan, kita dapat mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk mencegah kecelakaan dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan sehat.
Mari bersama-sama membangun budaya keselamatan yang kuat, dimulai dari kepedulian terhadap kesejahteraan mental dan psikologis para pekerja.
