Postur Kerja Buruk di Pabrik Karet: Ancaman Nyeri Muskuloskeletal

Taufiq Ihsan Ph.D adalah Dosen Tetap Departemen Teknik Lingkungan, Universitas Andalas, dengan Bidang Keahlian: Kesehatan dan Manajemen Lingkungan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, serta Air, Sanitasi dan Higiene Kebencanaan
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Taufiq Ihsan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era industri 4.0 yang serba cepat dan kompetitif, kesehatan dan keselamatan kerja (K3) menjadi perhatian utama. Salah satu masalah K3 yang sering dihadapi oleh para pekerja, terutama di sektor industri yang menuntut fisik, adalah gangguan muskuloskeletal (MSDs). MSDs merupakan gangguan pada otot, saraf, tendon, ligamen, sendi, tulang rawan, atau cakram tulang belakang yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk postur kerja yang buruk.
Penelitian ini berfokus pada analisis postur kerja di tiga pabrik karet remah terbesar di Kota Padang, Indonesia. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi risiko ergonomis pada berbagai pekerjaan di area produksi dan mengevaluasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap risiko tersebut. Dengan memahami masalah ini secara mendalam, diharapkan dapat ditemukan solusi yang tepat untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja para pekerja di industri karet remah.
Masalah Postur Kerja yang Mendesak di Industri Karet
Industri karet remah, yang merupakan salah satu sektor penting dalam perekonomian Sumatera Barat, melibatkan berbagai aktivitas fisik yang menuntut. Pekerja di pabrik karet remah harus melakukan tugas-tugas seperti mengangkat, membawa, mendorong, dan menarik beban berat, seringkali dalam posisi yang tidak ergonomis.
Mereka mungkin harus membungkuk berulang kali, memutar badan secara tidak alami, atau mengangkat beban dengan postur yang salah. Jika dilakukan secara terus-menerus dan dalam jangka waktu lama, postur kerja yang buruk ini dapat menyebabkan kelelahan otot, nyeri, dan bahkan cedera serius pada sistem muskuloskeletal.
Dampak MSDs: Lebih dari Sekadar Nyeri
Gangguan muskuloskeletal (MSDs) bukan hanya masalah kesehatan fisik semata. MSDs juga dapat berdampak pada kesehatan mental dan kesejahteraan pekerja secara keseluruhan. Nyeri kronis, keterbatasan gerak, dan ketidakmampuan untuk bekerja dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan depresi.
Selain itu, MSDs juga dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi pekerja dan perusahaan. Pekerja yang mengalami MSDs mungkin harus absen dari pekerjaan, menjalani perawatan medis yang mahal, atau bahkan kehilangan kemampuan untuk bekerja secara permanen. Bagi perusahaan, MSDs dapat menyebabkan penurunan produktivitas, peningkatan biaya kompensasi pekerja, dan penurunan moral karyawan.
Metode Penilaian REBA: Alat Ukur yang Efektif
Untuk menilai risiko ergonomis terkait postur kerja, penelitian ini menggunakan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA). REBA adalah metode yang cepat dan efektif untuk mengevaluasi postur kerja seluruh tubuh. Metode ini memberikan skor pada setiap segmen tubuh berdasarkan sudut dan posisi tubuh saat melakukan pekerjaan. Skor-skor ini kemudian digabungkan untuk menghasilkan skor REBA keseluruhan, yang menunjukkan tingkat risiko ergonomis dari suatu pekerjaan. Semakin tinggi skor REBA, semakin tinggi pula risiko terjadinya MSDs.
Hasil Penelitian: 72% Pekerjaan Berisiko Sedang
Penelitian ini melibatkan 348 pekerja di area produksi, baik di divisi basah (pencucian, pencampuran, penggilingan, dan pengeringan) maupun divisi kering (pengawasan, pemotongan, pengisian, penimbangan, pengemasan, dan pengangkutan). Hasil penilaian REBA menunjukkan bahwa 72,34% dari pekerjaan yang diperiksa termasuk dalam kategori risiko menengah, yang berarti sebagian besar pekerjaan di pabrik karet remah tersebut memiliki potensi untuk menyebabkan MSDs jika tidak dilakukan tindakan perbaikan.
Beberapa pekerjaan dengan skor REBA tertinggi, yang mengindikasikan risiko tinggi, antara lain:
Pengeringan alami di area produksi basah. Pekerja harus berdiri dalam waktu lama sambil memutar alat pengeringan, yang dapat menyebabkan kelelahan dan nyeri pada otot lengan dan punggung.
Mengangkat peti kemas dari truk di area produksi kering. Pekerjaan ini melibatkan pengangkatan beban berat dengan postur yang tidak ergonomis, meningkatkan risiko cedera pada punggung dan leher.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Risiko MSDs
Penelitian ini juga menganalisis hubungan antara beberapa faktor, seperti usia, masa kerja, beban kerja, dan area kerja, dengan skor REBA. Hasil analisis menunjukkan bahwa beban kerja merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap postur kerja dan risiko MSDs. Semakin berat beban kerja, semakin tinggi pula skor REBA.
Selain beban kerja, usia dan masa kerja juga ditemukan sebagai faktor risiko yang signifikan terhadap kelelahan kerja dan MSDs. Pekerja yang lebih tua dan memiliki masa kerja yang lebih lama cenderung lebih rentan mengalami masalah kesehatan terkait pekerjaan.
Upaya Perbaikan Postur Kerja: Mencegah MSDs Sejak Dini
Berdasarkan hasil penilaian REBA, beberapa upaya perbaikan postur kerja yang direkomendasikan antara lain:
Desain Ulang Tempat Kerja. Menyesuaikan posisi alat atau mesin dengan tinggi tubuh pekerja dapat mengurangi kebutuhan pekerja untuk membungkuk atau meregangkan tubuh secara berlebihan.
Manajemen Waktu Kerja dan Istirahat. Memberikan waktu istirahat yang cukup bagi pekerja untuk memulihkan tenaga dan mengurangi kelelahan otot sangat penting.
Penggunaan Alat Bantu. Penggunaan alat bantu seperti forklift atau troli dapat mengurangi beban fisik pada pekerja dan mencegah cedera saat mengangkat beban berat.
Senam Peregangan. Mendorong pekerja untuk melakukan senam peregangan sebelum dan sesudah bekerja dapat membantu meningkatkan fleksibilitas otot dan mengurangi risiko cedera.
Rotasi Pekerjaan. Menerapkan rotasi pekerjaan dapat membantu mengurangi beban kerja pada kelompok otot tertentu dan mencegah kelelahan akibat gerakan berulang.
Pelatihan Ergonomi. Memberikan pelatihan ergonomi kepada pekerja dapat membantu mereka memahami prinsip-prinsip postur kerja yang baik dan cara menghindari cedera.
Pentingnya Kolaborasi
Pencegahan MSDs bukanlah tanggung jawab satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara perusahaan, pekerja, dan pemerintah untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat. Perusahaan perlu berkomitmen untuk menerapkan program K3 yang efektif, pekerja perlu berperan aktif dalam menjaga kesehatan dan keselamatan diri, dan pemerintah perlu memastikan bahwa peraturan K3 ditegakkan dengan baik.
Dengan upaya bersama, kita dapat menciptakan industri karet remah yang tidak hanya produktif, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan dan keselamatan para pekerjanya.
Kesimpulan
Penelitian ini menyoroti pentingnya memperhatikan postur kerja dan ergonomi di lingkungan pabrik karet remah. Dengan mengidentifikasi potensi bahaya, melakukan penilaian risiko, dan menerapkan upaya perbaikan yang tepat, perusahaan dapat mengurangi risiko MSDs pada pekerja, meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja, serta meningkatkan produktivitas secara keseluruhan.
