Bikin Kangen Kampung! Cemilan Jadul Khas Bangka Belitung Teman Setia Ngopi

Mahasiswa Pariwisata Universitas Budi Luhur
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ihya Ulumiddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Penulis By : Ihya Ulumiddin & Jasmine Qur'ani
Kadang, secangkir kopi sore tuh rasanya kurang lengkap kalau nggak ada cemilan pendampingnya. Apalagi buat anak rantau, momen ngopi santai sering banget bikin kangen suasana rumah. Kangen duduk ngobrol di meja makan sederhana bareng Mak dan Abah, ditemani jajanan jadul yang rasanya jujur dan apa adanya. Bukan makanan mewah sih, tapi menikmati cemilan sederhana khas Bangka Belitung ini selalu sukses bikin rindu rumah sedikit terobati.

Buat yang belum tahu, ini namanya Kue Rintak. Bentuknya mungil kayak bunga, warnanya cokelat keemasan, dan ciri khas utamanya ada di bagian atasnya yang sengaja dibikin retak-retak. Walaupun dari luar kelihatannya padat dan renyah, ajaibnya kue ini tuh langsung lumer begitu masuk mulut.
Kue Rintak adalah warisan turun-temurun dari akar budaya masyarakat Melayu Nusantara yang udah ada sejak zaman nenek moyang dulu jauh sebelum tren kedai kopi zaman sekarang menjamur. Kehadiran kue berbahan dasar sagu ini jadi bukti nyata betapa kreatifnya orang tua zaman dulu memanfaatkan hasil alam lokal untuk dijadikan kudapan yang awet sekaligus nikmat.
Bahannya sebenarnya sederhana banget: pakai tepung sagu, santan, sama gula merah. Tapi perpaduan gurihnya santan dan manisnya gula merah itu yang bikin rasanya "ngangenin" banget.
Buat yang penasaran dan ingin mencoba di rumah, cara pembuatannya sebenarnya cukup praktis:
Sangrai Tepung: Sangrai tepung sagu bersama beberapa lembar daun pandan menggunakan api kecil sampai teksturnya terasa ringan, lalu dinginkan. Proses ini adalah kunci agar kue nantinya bisa lumer di mulut.
Siapkan Cairan Gula: Rebus santan kental bersama irisan gula merah (dan sedikit garam) sampai larut dan mendidih. Saring cairannya, lalu biarkan sampai benar-benar bersuhu ruang.
Uleni Adonan: Tuang cairan gula merah perlahan ke dalam tepung sagu yang sudah disangrai. Uleni perlahan sampai adonan menyatu, kalis, dan mudah dibentuk.
Cetak & Tabur Wijen: Cetak adonan menggunakan cetakan khusus kue rintak yang berbentuk bunga. Susun rapi di atas loyang, lalu beri taburan biji wijen di bagian atasnya untuk memberikan aroma sangrai ekstra.
Panggang: Masukkan ke dalam oven dan panggang hingga matang. Tanda kue ini sukses dipanggang adalah munculnya retakan-retakan cantik khas rintak di bagian atasnya
Hebatnya lagi, eksistensi Kue Rintak di masyarakat Bangka Belitung itu nggak main-main. Kue ini ibarat "hidangan wajib" yang selalu hadir di tiga momen penting. Pertama, jelas sebagai teman setia ngopi hitam atau ngeteh di sore hari. Kedua, kue ini udah pasti jadi primadona yang mengisi penuh toples-toples di ruang tamu pas momen Lebaran tiba. Dan yang ketiga, Kue Rintak juga sering banget disajikan buat melengkapi acara-acara adat, seperti perayaan pernikahan.
Sambil nikmatin secangkir kopi hitam dan beberapa keping Kue Rintak, rasanya kayak lagi ditarik pulang sebentar ke Bangka Belitung. Sederhana, tapi sarat makna dan cukup banget buat ngobatin kangen sama kehangatan rumah.
