Konten dari Pengguna

Antara AI dan Otak: Siapa yang Belajar dari Siapa?

Ihza Akmal

Ihza Akmal

Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 6 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ihza Akmal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Orang Mengalami Ketergantungan Pada Artificial Intelligence (Picture from Freepik)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Orang Mengalami Ketergantungan Pada Artificial Intelligence (Picture from Freepik)

Manusia yang Mulai Melupakan Perannya

Menurut Cherry (2024), memori mengacu pada proses psikologis yang meliputi memperoleh, menyimpan, mempertahankan, dan mengakses kembali informasi yang sebelumnya didapatkan. Dalam kehidupan sehari-hari, memori memiliki peran penting dalam membantu manusia berfungsi secara adaptif, seperti mempelajari hal baru, mengambil keputusan, serta mendukung kemampuan berbahasa. Apabila fungsi memori terganggu, individu dapat mengalami hambatan dalam menjalani aktivitasnya, seperti kesulitan menyelesaikan tugas rutin, penurunan kemampuan berbahasa, hingga disorientasi tempat.

Seiring berkembangnya zaman, salah satu isu yang menjadi fokus kajian saat ini adalah teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI). Revolusi digital yang berlangsung secara progresif telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, mulai dari kesehatan, bisnis, transportasi, hingga pendidikan. Teknologi ini mampu membantu manusia dalam memproses informasi secara cepat dan efisien. Akan tetapi, AI juga dapat menjadi pisau bermata dua apabila tidak digunakan dengan bijak. Di satu sisi, AI menjadikan pekerjaan lebih praktis, namun di sisi lain, ketergantungan terhadap AI berpotensi memengaruhi aspek kognitif manusia.

Perkembangan teknologi ini tak jarang menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana interaksi manusia dengan AI dapat memengaruhi cara otak bekerja dalam menyimpan dan mengingat informasi. Semakin banyaknya aktivitas kognitif yang dialihkan ke AI, seperti menyusun teks, mengambil keputusan, hingga hal-hal yang berkaitan dengan kreativitas, memunculkan kekhawatiran pada aspek kognitif manusia, khususnya dalam konteks memori dan proses mengingat. Oleh karena itu, tulisan ini akan membahas dampak yang mungkin ditimbulkan oleh AI terhadap kognitif manusia.

Ketika Otak Berbagi Beban dengan AI

Ilustrasi artificial intelligence. Foto: Shutterstock

Berdasarkan model working-memory, memori tidak hanya menjadi tempat penyimpanan, tetapi juga secara aktif memproses informasi. Oleh karena itu, model ini lebih dinamis dibanding model three-store yang menjelaskan bahwa memori hanya sebagai tempat penyimpanan pasif dari berbagai informasi. Working-memory terdiri atas empat komponen (Baddeley, 2001), di antaranya:

  1. Visuospatial sketchpad

Komponen ini bertugas untuk menyimpan dan memanipulasi informasi dalam bentuk visual dan spasial secara singkat. Misalnya setelah individu terpapar dengan suatu informasi visual, ia masih dapat membayangkan representasi gambar tersebut secara mental meskipun rangsangan visualnya sudah tidak ada. Penggunaan AI dapat menstimulasi fungsi visuospatial sketchpad, misalnya ketika seseorang menggunakan GPS untuk mengunjungi suatu tempat pertama kalinya. Dalam hal ini, seseorang biasanya akan berulang kali melihat peta digital yang menjadi penunjuk arah dan menyesuaikannya dengan posisi dirinya. Ini melibatkan komponen visuospatial sketchpad di working-memory bekerja untuk dapat mengonversi informasi visual dua dimensi dari peta menjadi orientasi tiga dimensi dalam ruang nyata.

  1. Phonological loop

Phonological loop merupakan komponen dalam working-memory yang berfungsi menyimpan informasi verbal secara singkat. Komponen ini berperan penting dalam proses melafalkan kata-kata baru atau sulit. Phonological loop terdiri atas dua bagian, yaitu phonological store, yang menyimpan informasi berbentuk suara dalam waktu singkat (sekitar dua detik), dan subvocal rehearsal, yang berfungsi mempertahankan informasi dengan cara mengulanginya secara nonverbal (misalnya berbicara dalam hati). Proses pengulangan ini membantu mencegah informasi memudar dari phonological store.

Karena kapasitas penyimpanan phonological loop terbatas, seseorang akan lebih mudah mengingat kata-kata yang pendek dibandingkan yang panjang. Namun, kehadiran AI dengan fitur seperti speech recognition/speech-to-text memungkinkan konversi ucapan menjadi teks secara real-time. Apabila individu bergantung pada hal semacam ini secara berkelanjutan, fungsi alami otak untuk mempertahankan informasi verbal jangka pendek dapat menurun. Ini terjadi karena subvocal rehearsal atau active recall jarang dilakukan dan proses penyimpanan serta pengulangan dibebankan ke AI.

  1. Central executive

Komponen ini berperan dalam mengatur perhatian pada working-memory dengan memutuskan bagaimana membagi perhatian terhadap lebih dari satu tugas yang perlu dikerjakan secara bersamaan atau mengalihkan perhatian secara efektif di antara berbagai tugas. Central executive juga berperan sebagai gating mechanism yang menentukan informasi apa saja yang perlu diproses lebih lanjut dan bagaimana cara memprosesnya. Selain itu, komponen ini terlibat dalam fungsi eksekutif tingkat tinggi, seperti penalaran dan pemahaman.

Pemakaian AI di bidang pendidikan sudah seperti makanan siap saji yang dapat langsung dikonsumsi, kita hanya tinggal menikmati hasilnya saja tanpa terlibat dalam proses pembuatannya. Contohnya adalah AI summarizer yang dapat meringkas jurnal menjadi poin-poin penting dalam waktu singkat. Tentunya ini sangat meningkatkan efisiensi pekerjaan, tetapi juga dapat mengurangi keterlibatan otak dalam proses pengambilan keputusan. Individu tidak lagi menyeleksi informasi-informasi untuk menentukan bagian yang penting. Apabila dilakukan terus-menerus, kemampuan untuk mengalokasikan perhatian dan mempertahankan fokus dapat menurun.

  1. Episodic buffer

Komponen terbaru dari model working-memory ini menjelaskan bagaimana orang mengintegrasikan informasi dari berbagai sumber, seperti working-memory, long-term memory, visuospatial sketchpad, dan phonological loop. Ini memungkinkan seseorang untuk memecahkan masalah dan menilai kembali peristiwa masa lalu dengan menggunakan pengetahuan yang dimiliki saat ini. Menjadikan pengalaman terasa lebih utuh dan bermakna.

Dalam konteks penggunaan AI, algoritma pada suatu platform yang berbasis AI dapat memengaruhi episodic buffer. Pada aplikasi Google Photos, AI secara otomatis memilih dan menampilkan kenangan tertentu yang dianggap memiliki emosi positif. Ini dapat memanipulasi persepsi seseorang terhadap masa lalunya. Sebagai contoh, seseorang menilai tahun 2023 adalah momen yang membahagiakan karena AI menampilkan kumpulan foto menyenangkan, padahal di tahun tersebut juga terdapat pengalaman tidak menyenangkan yang tidak ditampilkan oleh AI. Akibatnya, hal ini dapat memengaruhi cara episodic buffer dalam menilai pengalaman masa lalu.

Ingatan yang Menjadi Dangkal

Ilustrasi ibu mudah lupa. Foto: Shutterstock

Mengingat merupakan proses penarikan kembali informasi yang tersimpan di memori. Berdasarkan model levels of processing (LoP), otak menggunakan isyarat tertentu untuk mengenali seberapa penting suatu informasi sebelum menentukan bagaimana informasi tersebut akan diproses. Penelitian mengenai LoP menjelaskan bahwa stimulus yang masuk akan melalui serangkaian tahap analisis, mulai dari yang dangkal (sensorik) hingga bermakna (semantik) (Craig & Lockhart, 1972, dikutip dari Sternberg & Sternberg, 2016). Semakin dalam suatu informasi diproses, semakin kecil kemungkinan informasi akan dilupakan.

Berkaitan dengan penggunaan AI, proses mengingat dapat dipengaruhi oleh cara individu memanfaatkan teknologi tersebut. Ketika orang bergantung pada AI untuk mengingat maupun menelusuri informasi, pemrosesan informasi sering kali hanya terjadi secara dangkal. Misalnya, alih-alih berusaha memahami dan mencatat materi perkuliahan, mahasiswa mungkin lebih memilih untuk bertanya secara langsung ke AI karena menyediakan jawaban instan tanpa perlu berpikir secara mendalam. Akibatnya, otak tidak terlatih untuk mengintegrasikan informasi baru dengan memori yang sudah ada sehingga penyimpanan jangka panjang melemah. Kondisi ini berkaitan dengan fenomena digital amnesia, yaitu kecenderungan individu untuk melupakan informasi karena merasa bisa menemukan informasi dengan mudah melalui teknologi.

Gunakan, Bukan Digantikan

AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti proses berpikir. Teknologi ini memungkinkan untuk mendukung pembelajaran aktif, tidak sekadar menanyakan jawaban instan, tetapi menjadikannya teman belajar. Mahasiswa bisa memanfaatkan AI untuk menguji pemahaman lewat teknik seperti Feynman method: menjelaskan ulang suatu konsep, lalu meminta AI memberikan umpan balik. Dengan begitu, otak tetap terlatih untuk berpikir.

Di sisi lain, penting juga untuk menumbuhkan literasi digital. AI memang bisa memberi informasi secara cepat dan ringkas, tetapi tidak selalu akurat. Oleh karena itu, memeriksa kembali kebenaran dan sumber informasi menjadi langkah penting agar kita tidak sekadar percaya, melainkan benar-benar memahami.