Konten dari Pengguna

Bullying Tak Kenal Tempat, dari Universitas ke Tempat Kerja

Ihza Akmal

Ihza Akmal

Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ihza Akmal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Seseorang Sedang Dirundung (Picture from Magnific)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Seseorang Sedang Dirundung (Picture from Magnific)

Penelitian Tentang Bullying

Kasus bullying marak terjadi di berbagai ruang, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Perilaku ini tidak hanya dilakukan oleh anak-anak dan remaja di lingkungan sekolah, tetapi juga terjadi di kalangan orang dewasa, seperti tempat kerja. Hal ini salah satunya ditunjukkan oleh studi Einarsen dan Skogstad (1996) yang mengkaji perilaku bullying di tempat kerja.

Fenomena bullying pertama kali dijelaskan oleh Heinemann menggunakan istilah mobbning. Dalam bahasa Norwegia, istilah tersebut merujuk pada kekerasan yang dilakukan oleh kelompok terhadap individu dan dapat terjadi atau berakhir secara tiba-tiba (Smith et al., 2002). Definisi tersebut kemudian diperluas oleh Olweus dengan menambahkan beberapa karakteristik bullying, yaitu perilaku agresif yang disengaja, dilakukan secara berulang, melibatkan ketidaksetaraan kekuatan, dan sering kali terjadi tanpa provokasi dari korban (Smith et al., 2002).

Bullying sendiri dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari kontak fisik, kata-kata, raut wajah, hingga pengucilan secara sengaja dari suatu kelompok (Smith et al., 2002). Penelitian juga menunjukkan bahwa laki-laki lebih sering menjadi pelaku bullying dibandingkan perempuan, terutama dalam tindakan yang melibatkan kekerasan fisik (Espelage & Holt, 2001; Salmivalli, 2009; Einarsen & Skogstad, 1996).

Goldsmid dan Howie (2014) dalam penelitiannya menemukan bahwa individu yang melakukan tindakan bullying cenderung menyalahkan korban dengan alasan bahwa korban telah memprovokasi perilaku tersebut. Namun, persepsi tersebut berbeda dengan pengalaman korban yang cenderung tidak menganggap dirinya telah memprovokasi tindakan bullying. Temuan ini menunjukkan adanya perbedaan persepsi antara pelaku dan korban dalam memandang suatu perilaku sebagai bentuk provokasi.

Sebanyak 75% pelaku bullying dalam setting sekolah berteman dengan pelaku lainnya (Espelage & Holt, 2001). Berdasarkan temuan ini, perilaku bullying tidak hanya berkaitan dengan hubungan antara pelaku dan korban, tetapi juga dengan lingkungan sosial di sekitar mereka (Espelage & Holt, 2001; Sinkkonen et al., 2012). Dengan kata lain, kelompok juga turut memengaruhi bagaimana perilaku bullying muncul dan dipertahankan.

Bullying dalam Konteks Akademik

Bullying tetap bisa terjadi di lingkungan universitas. Struktur hierarkis di lingkungan universitas memungkinkan bullying berlangsung dalam berbagai bentuk, baik secara vertikal maupun horizontal. Penelitian Sinkkonen et al. (2012) di sebuah universitas Finlandia menunjukkan bahwa mahasiswa dapat mengalami bullying dari mahasiswa lain maupun staf pengajar.

Bullying vertikal terjadi saat seseorang melakukan perundungan terhadap individu yang memiliki status lebih rendah. Dalam penelitiannya, Sinkkonen et al. (2012) menunjukkan bahwa pelaku bullying di universitas tidak hanya mahasiswa, tetapi staf pengajar juga turut berpotensi. Pengalaman tersebut dapat mendorong seseorang untuk menghindari situasi tempat bullying terjadi atau bahkan memutuskan untuk menghentikan studinya. Sementara itu, mahasiswa yang merespons bullying secara pasif dengan menyerah pada pelaku dapat mengalami penurunan motivasi, kepercayaan diri, bahkan depresi.

Di media sosial, komentar-komentar bernada negatif juga dapat ditemukan dalam unggahan-unggahan yang mengandung unsur pencapaian akademik. Komentar-komentar tersebut tak jarang juga menyinggung seberapa prestisius institusi tempat seseorang belajar dan seberapa besar suatu pencapaian yang didapatkan oleh seseorang.

Ketika Bullying Masuk ke Dunia Kerja

Persoalan serupa juga dapat ditemukan di dunia kerja. Faktor hierarki menjadi salah satu hal yang dapat berkontribusi terhadap munculnya bullying di lingkungan profesional. Studi Einarsen dan Skogstad (1996) menunjukkan tingkat prevalensi bullying sebesar 4,5% di antara orang dewasa, dan dalam konteks pekerjaan, persentasenya dapat bervariasi di berbagai profesi. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa pekerja yang berusia lebih tua (51–60 tahun) berisiko lebih tinggi menjadi korban bullying dibandingkan pekerja yang berusia lebih muda (< 50 tahun).

Selain faktor lingkungan dan struktur organisasi, karakteristik individu juga dapat berkaitan dengan pengalaman bullying. Studi literatur yang dilakukan oleh Samnani dan Singh (2012) menunjukkan bahwa beberapa karakteristik kepribadian dikaitkan dengan pengalaman seseorang sebagai target bullying. Individu dengan aspek kepribadian agreeableness (kecenderungan untuk bersikap kooperatif, empatik, percaya pada orang lain, dan menjaga hubungan interpersonal) yang rendah ditemukan lebih sering menjadi target bullying dalam beberapa penelitian. Sementara itu, conscientiousness (kecenderungan untuk bertanggung jawab, disiplin, teliti, dan berorientasi pada tujuan) yang rendah juga dikaitkan dengan pengalaman bullying yang lebih halus.

Pada akhirnya, bullying bukan hanya persoalan antara pelaku dan korban. Lingkungan sosial, hubungan antarindividu, struktur hierarki, hingga karakteristik individu dapat menjadi bagian dari fenomena tersebut. Baik di dunia akademik maupun profesional, lingkungan yang tidak sehat dapat berdampak pada kinerja dan kepuasan individu. Karena itu, upaya menciptakan lingkungan yang sehat perlu menjadi perhatian agar bullying dapat dicegah dan tidak dinormalisasikan.

Referensi:

Einarsen, S., & Skogstad, A. (1996). Bullying at work: Epidemiological findings in public and private organizations. European Journal of Work and Organizational Psychology, 5(2), 185-201. https://doi.org/10.1080/13594329608414854

Espelage, D. L., & Holt, M. K. (2001). Bullying and victimization during early adolescence. Journal of Emotional Abuse, 2(2-3), 123-142. https://doi.org/10.1300/J135v02n02_08

Goldsmid, S., & Howie, P. (2014). Bullying by definition: An examination of definitional components of bullying. Emotional and Behavioural Difficulties, 19(2), 210-225. https://doi.org/10.1080/13632752.2013.844414

Salmivalli, C. (2009). Bullying and the peer group: A review. Aggression and Violent Behavior, 15(2), 112-120. https://doi.org/10.1016/j.avb.2009.08.007

Samnani, A., & Singh, P. (2012). 20 Years of workplace bullying research: A review of the antecedents and consequences of bullying in the workplace. Aggression and Violent Behavior, 17(6), 581-589. https://doi.org/10.1016/j.avb.2012.08.004

Sinkkonen, H., Puhakka, H., & Meriläinen, M. (2012). Bullying at a university: Students' experiences of bullying. Studies in Higher Education, 39(1), 153-165. https://doi.org/10.1080/03075079.2011.649726

Smith, P. K., Cowie, H., Olafsson, R. F., Liefooghe, A. P. D., Almeida, A., Araki, H., Barrio, C., Costabile, A., Dekleva, B., Houndoumadi, A., Kim, K., Olafsson, R. P., Ortega, R., Pain, J., Pateraki, L., Schafer, M., Singer, M., Smorti, A., Toda, Y., ... Wenxin, Z. (2002). Definitions of bullying: A comparison of terms used, and age and gender differences, in a fourteen-country international comparison. Child Development, 73(4), 1119-1133. https://doi.org/10.1111/1467-8624.00461