Pikiranmu Menjebak Dirimu: Otak dan Logical Fallacy

Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Brawijaya
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Ihza Akmal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Si Pemegang Kendali: Otak
Otak manusia memiliki fungsi yang sangat krusial bagi keberlangsungan hidup individu. Bagaimana tidak, bagian tubuh yang terletak di kepala ini merupakan salah satu sistem saraf pusat yang terdiri dari miliaran neuron dan berfungsi untuk mengatur segala fungsi vital dan kognitif. Otak memiliki empat bagian besar (lobus) di mana masing-masing lobus memiliki tanggung jawab yang berbeda.
Mulai dari lobus temporal yang erat kaitannya dengan kemampuan pendengaran, kemampuan memahami bahasa baik secara lisan maupun tulisan, serta pengolahan memori jangka panjang. Kemudian, ada lobus oksipital yang berperan sebagai pemroses informasi visual. Ketika sinyal visual dari retina tiba di lobus oksipital, bagian ini akan memberi informasi mengenai apa yang sedang kita lihat, bagaimana bentuknya, dan di mana objek yang sedang kita lihat berada.
Selanjutnya, ada lobus pariental yang berfungsi sebagai tempat mengintegrasikan informasi sensorik dari berbagai indra. Ini memungkinkan seseorang dalam mengenali posisi tubuhnya (propriosepsi) dan menafsirkan sensasi dari sentuhan (somatosensasi). Tak kalah penting, lobus frontal bertanggung jawab atas kepribadian, pengambilan keputusan, dan kontrol motorik. Lobus frontal menyaring informasi dalam jumlah banyak dan memastikan kita fokus hanya pada informasi yang relevan.
Apa yang Membuat Kita adalah "Manusia"
Korteks prefrontal pada manusia memiliki perbedaan yang signifikan dari primata lain, terutama secara ukuran. Menurut Brodmann, korteks prefrontal pada manusia mencakup hingga 29% dari luas korteks serebral (lapisan tipis yang membungkus otak besar). Ini menunjukkan bahwa manusia memiliki proporsi korteks prefrontal yang lebih besar dibandingkan primata lain, seperti simpanse dan monyet rhesus yang masing-masing hanya sebesar 17% dan 11,5%.
Di sebagian besar primata, perkembangan korteks prefrontal relatif sebanding dengan area korteks lainnya. Namun, pada manusia, pertumbuhan ini jauh lebih pesat. Perkembangan ini tidak hanya meningkatkan ukuran, tetapi juga memperluas jaringan konektivitas pada otak melalui peningkatan jumlah dendrit, akson, dan kepadatan sel glial. Dengan kata lain, ukuran korteks prefrontal yang lebih besar dan konektivitas yang lebih kompleks menjadikan kemampuan kognitif manusia lebih tinggi. Korteks prefrontal pada manusia bertanggung jawab atas fungsi eksekutif, seperti perencanaan, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan pembuatan tujuan jangka panjang. Ini membedakan manusia dengan hewan lain.
Jangan Sampai Rusak!
Selain membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai kematangan dibandingkan dengan area otak lainnya, kerusakan pada area korteks prefrontal juga memiliki dampak yang signifikan bagi individu. Di sebuah studi yang dilakukan oleh Zalla dkk. (2001) menunjukkan bahwa orang yang mengalami gangguan di area ini menjadi kesulitan dalam melakukan tindakan secara runtut untuk mencapai suatu tujuan. Bayangkan seseorang tahu cara mengambil teko, menuang air, dan memasukkan teh ke dalam cangkir. Akan tetapi, karena terjadi kerusakan di area ini, ia tidak mampu untuk menyelesaikan langkah-langkah untuk membuat teh secara berurutan.
Tidak hanya itu, kerusakan pada bagian korteks prefrontal ventromedial (vmPFC) juga berdampak pada cara seseorang mengambil keputusan yang melibatkan aspek moral. Individu dengan gangguan pada area ini cenderung dingin dalam mengambil keputusan. Mereka memiliki sifat utilitarian dalam menilai sesuatu, yaitu lebih mementingkan hasil akhir daripada nilai moral. Hal ini terjadi karena berkurangnya respons emosional individu terhadap pelanggaran moral sehingga mereka kehilangan sinyal alami seperti rasa bersalah atau empati yang biasanya membantu kita untuk menghindari tindakan yang tidak bermoral.
Di sisi lain, korteks prefrontal dorsolateral (dlPFC) berperan dalam mengatur fokus dan fleksibilitas dalam berpikir. Apabila bagian ini mengalami kerusakan, seseorang dapat mengalami kesulitan untuk memindahkan perhatiannya secara fleksibel dan lebih mudah terjebak dalam perilaku kompulsif. Melihat dampak destruktif dari masing-masing bagian yang mengalami kerusakan, tentunya penting bagi kita untuk menerapkan pola hidup sehat dan menghindari aktivitas berbahaya yang berpotensi menimbulkan cedera pada otak.
Otak Sehat tapi Pikiran Sesat?
Meskipun tidak ada kerusakan pada area korteks prefrontal, manusia tetap dapat melakukan kesalahan dalam berpikir, yang disebut dengan logical fallacy. Mengutip dari Cambridge Dictionary, logical fallacy adalah kesalahan dalam cara berpikir tentang sesuatu yang membuat penilaian atau keputusan akhir menjadi salah. Di Indonesia sendiri, hal ini sangat umum ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Berikut adalah beberapa kekeliruan yang sering terjadi:
Hasty generalization
hasty generalization merupakan kesalahan berpikir di mana seseorang menarik kesimpulan terhadap suatu kelompok atau fenomena hanya berdasarkan sedikit contoh, tanpa mempertimbangkan apakah contoh tersebut mewakili keseluruhan populasi.
Contoh: Arif memiliki teman, yaitu Budi dan Irfan. Mereka adalah orang yang tidak ramah dan sama-sama berasal dari Kota X. Kemudian, Arif berasumsi bahwa orang-orang dari Kota X memang tidak ramah.
Argumentum ad hominem
Argumentum ad hominem adalah jenis kesalahan berpikir ketika seseorang tidak menanggapi isi argumen yang disampaikan, tetapi menyerang kepribadian, karakter, atau atribut pribadi dari lawan bicaranya. Inti dari kesalahan berpikir ini adalah menyerang seseorang secara personal, bukan pada logika atau substansi argumen yang dikemukakan.
Contoh: Budi menyampaikan opininya tentang cara mengatasi masalah lingkungan. Namun, alih-alih menanggapi isi argumen Budi, Irfan justru berkata "Apa yang kamu tahu tentang isu lingkungan? Kamu kan cuma lulusan SMP."
Dalam hal ini, Irfan tidak membantah argumen Budi secara substansi, tetapi malah menyerang latar belakang pendidikannya.
Strawman fallacy
Strawman fallacy adalah jenis kesalahan berpikir ketika seseorang menyederhanakan, melebih-lebihkan, atau memelintir argumen lawan bicara menjadi versi yang lebih lemah atau tidak akurat, lalu menyerang versi yang sudah diubah tersebut, padahal bukan itu maksud yang sebenarnya.
Contoh:
Budi: "Sebaiknya kita menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung, supaya punya dana darurat kalau sewaktu-waktu butuh."
Irfan: "Jadi kamu mau kita hidup pelit dan tidak menikmati hasil kerja keras kita sama sekali?"
Appeal to authority
Appeal to authority adalah jenis kesalahan berpikir di mana seseorang menganggap suatu pendapat pasti benar hanya karena disampaikan oleh tokoh yang dianggap memiliki otoritas, tanpa memeriksa apakah tokoh tersebut benar-benar ahli di bidang yang sedang dibahas atau apakah ada bukti yang mendukung klaimnya.
Contoh: Irfan mempercayai perkataan influencer Z tentang produk skincare yang dapat membuat kulit auto glowing, padahal influencer Z bukan seorang yang ahli di bidang dermatologi.
Referensi:
Gultom, P. Y. B., & Adelia, N. (2025). Kesalahan berpikir (logical fallacies). Jurnal Pendidikan Tambusai, 9(1), 1859-1864. https://jptam.org/index.php/jptam/article/view/24493/16669
Levy, R. (2023). The prefrontal cortex: From monkey to man. Brain, 147(3), 794-815. https://doi.org/10.1093/brain/awad389
Moretto, G., Làdavas, E., Mattioli, F., & di Pellegrino, G. (2010). A psychophysiological investigation of moral judgment after ventromedial prefrontal damage. Journal of Cognitive Neuroscience, 22(8), 1888-1899. https://doi.org/10.1162/jocn.2009.21367
Zalla, T., Plassiart, C., Pillon, B., Grafman, J., & Sirigu, A. (2001). Action planning in a virtual context after prefrontal cortex damage. Neuropsychologia, 39(8), 759-770. https://doi.org/10.1016/S0028-3932(01)00019-7
