Konten dari Pengguna

Konservasi MEP dan Beruk: Antara Perdagangan, Eksploitasi, dan Konflik Manusia

Ihzra Firman Nasrullah

Ihzra Firman Nasrullah

Mahasiswa Antropologi Universitas Airlangga

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ihzra Firman Nasrullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Artificial Intelligence - Eksploitasi MEP dan Topeng Monyet.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Artificial Intelligence - Eksploitasi MEP dan Topeng Monyet.

Konservasi MEP dan beruk di Indonesia kini menghadapi tekanan ganda, diperlakukan sebagai subjek konservasi sekaligus komoditas dalam jaringan perdagangan dan eksploitasi budaya. Esai ini mengurai mekanisme perdagangan legal dan ilegal, eksploitasi dalam pertunjukan dan pemeliharaan, serta konflik manusia macaca. Ditekankan pentingnya pendekatan multisektoral (One Health) dengan kebijakan transparan, edukasi masyarakat, dan penguatan regulasi.

Di Indonesia, MEP dan beruk tidak hanya sebagai wildlife icon, tetapi juga sebagai komoditas bernilai tinggi dalam pasar domestik dan internasional. Studi global menunjukkan nilai perdagangan hidup di antara primata termasuk long-tailed macaque mencapai lebih dari USD 1,25 miliar dalam dekade terakhir, mencerminkan tekanan ekonomi yang besar pada populasi alamnya (Hansen et al., 2022). Bersamaan, budaya seperti “topeng monyet” dan bisnis hewan peliharaan memperkuat narasi bahwa monyet adalah objek hiburan, bukan makhluk memerlukan kesejahteraan dan perlindungan.

Secara global, perdagangan primata hidup termasuk MEP terus meningkat. Hansen et al. (2022) menyebut nilai sekitar USD 1,25 miliar antara 2010-2019, mengindikasikan skala niaga yang mengerikan. Di tingkat nasional, laporan “The Macaque Report: Indonesia” mengungkap pasar domestik yang berkembang untuk perdagangan, breeder, dan penggunaan MEP dalam hiburan, dengan dukungan kebijakan yang terkadang ambigu atau tidak konsisten. Di sisi lain, dokumen Non-Detriment Finding (NDF) CITES untuk Indonesia pada 2023 menunjukkan adanya kuota ekspor yang diberi izin namun laporan pelacakan asal-usul individu masih lemah dan rawan disalahgunakan

Perdagangan Satwa Liar dan Dampaknya bagi MEP

Perdagangan legal, seperti melalui fasilitas breeding atau untuk penelitian, memiliki potensi membantu konservasi melalui captive-breeding. Namun tanpa audit dan verifikasi, ia juga menciptakan peluang untuk laundering individu hasil tangkapan liar membuat penyelundupan tampak “legal” secara administratif. Hansen et al. (2022) memperingatkan adanya inkonsistensi dalam alat pelaporan dan potensi peralihan status populasi liar sebagai komoditas tersertifikasi. https://kumparan.com/topic/perdagangan-satwa

Para aktor dalam sistem ini mencakup penjaga kebun, breeder, eksportir, dan perantara domestik yang mengeksploitasi celah peraturan. Selain itu, permintaan internasional terutama untuk penelitian biomedis memberikan dorongan ekonomi, sementara pasar turis domestik menyediakan permintaan untuk MEP sebagai “atraksi budaya”. Studi Warne et al. (2023) menunjukkan betapa bisnis monyet untuk riset kadang menjadi front legal atas pengangkutan individu yang berasal dari alam liar. Akibatnya, populasi lokal kian terdesak. Penangkapan massal dan fragmentasi habitat merusak struktur sosial dan keberlanjutan populasi primata, menciptakan implikasi etis terhadap konservasi jangka panjang.

Mengapa Eksploitasi Hewan Primata Masih Terjadi?

Eksploitasi MEP tidak selalu bersifat sistemik, tetapi sering dilakukan secara individu atau kultural seperti “topeng monyet”, pertunjukan keliling, MEP sebagai pekerja di tempat wisata, atau hewan peliharaan. The Macaque Report (2022) mencatat praktik pelatihan kasar, pembatasan ruang, bahkan penyiksaan sebagai bagian dari “hiburan berbasis budaya”.

Risiko zoonosis merupakan aspek serius. Penelitian Patouillat et al. (2024) dalam tinjauan sistematis menemukan bahwa primata Asia termasuk MEP menjadi reservoir bagi banyak patogen zoonotik. Kontak intensif manusia–primata, khas dalam pertunjukan atau kepemilikan pribadi, memicu kemungkinan spillover yang berbahaya bagi kesehatan publik. Pendekatan One Health menekankan bahwa kesejahteraan hewan dan keamanan masyarakat tak dapat dipisahkan. Secara normatif, eksploitasi ini menimbulkan dilema moral: apakah satwa harus tetap digunakan demi budaya dan ekonomi atau dialihkan ke model konservasi yang lebih manusiawi dan berorientasi ekologi?

Konflik Manusia dan MEP: Ancaman atau Peluang?

Interaksi keras antara manusia dan macaque sering muncul akibat hilangnya habitat dan fragmentasi lingkungan alami. Studi oleh Fitria (2020) di Jawa Tengah mengungkap konflik semacam perusakan tanaman, agresi terhadap manusia, hingga pembalasan berupa penangkapan atau pembunuhan primata. Limitasi ruang alami dan daya tarik pakan manusia seperti kebun atau limbah makanan mendorong primata memasuki area permukiman.

Cerita ironis muncul ketika konflik meningkat, bayi macaque semakin dicari untuk pasar peliharaan atau “pengganti” atraksi pasca ibu tertangkap atau malah ditembak. Siklus eksploitasi ini memperparah sistem tekanan terhadap populasi lokal.

perdagangan, eksploitasi, konflik membentuk struktur sistemik yang saling memperkuat. Konflik lokal meningkatkan pasokan untuk pasar peliharaan (akibat ibu hilang), perdagangan legal menyamarkan asal individu (laundering), dan eksploitasi budaya normalisasi kontak intensif manusia mesin serta membahayakan kesehatan publik.

Contohnya, sebuah breeder bisa mengklaim individu MEP sebagai captive-bred, padahal berasal dari lingkungan liar yang rusak karena konflik. Selanjutnya, pertunjukan budaya seperti “topeng monyet” lalu menyuburkan citra monyet sebagai hiburan formal, mendukung kelanjutan permintaan. Potensi zoonosis membalik ancaman biologis menjadi risiko sosial.

Rekomendasi kebijakan & solusi operasional

Guna membongkar sistem tekanan di atas, perlu pendekatan lintas sektor (One Health, Conservation, dan Penegakan Hukum):

  1. Penguatan regulasi & transparansi perdagangan: Audit ketat breeding facility dan persyaratan verifikasi captive-bred dengan kode F/C, pengawasan ketat terhadap pasar daring, pelaporan domestik-eksport per individu. Hansen et al. (2022) menekankan kebutuhan transparansi data perdagangan.

  2. Penegakan hukum yang tegas: Penindakan penyelundupan dan pelanggaran animal welfare, serta penegakan aturan CITES dan NDF dengan sanksi nyata. Menurut Lady Freethinker (2022) menyebut landmark penangkapan dan denda sebagai acuan.

  3. Edukasi dan pemberdayaan masyarakat: Skema kompensasi atas kerusakan pertanian (guard crops, sistem alarm manusia primata), kampanye kesadaran antisipasi ‘topeng monyet’, serta alternatif ekonomi berbasis ekowisata atau rehabilitasi.

  4. Riset & intervensi kesehatan: Surveilans zoonotik terfokus di hotspot konflik, protokol biosecurity di breeder dan fasilitas penelitian. Patouillat et al. (2024) menyoroti pentingnya monitoring patogen.

  5. Indikator monitoring (monitoring): Tren data konfiskasi, data populasi lapangan, jumlah konflik yang dilaporkan, transparansi perdagangan, dan kasus zoonosis. Data ini memungkinkan evaluasi kebijakan secara berkala dan responsif.

Dengan itu juga diperlukan proyeksi masa depan, seperti:

  1. Skenario “Business-as-usual”: tanpa reformasi, tekanan pada populasi meningkat populasi liar menyusut, konflik memanas, risiko zoonosis membayangi tinggi.

  2. Sebaliknya, skenario “Integrative reform” yang konsisten terhadap rekomendasi menghasilkan tren positif: penurunan perdagangan ilegal, konflik semakin diredam, rehabilitasi populasi MEP dan Beruk mulai membaik, Sistem konservasi menjadi proaktif serta berkelanjutan.

Sumber: Artificial Intelligence - Harapan Konservasi Monyet Ekor Panjang.

MEP dan beruk seharusnya dipandang lebih dari sekadar “komoditas” atau hiburan mereka adalah cermin dari keseimbangan ekologis, integritas konservasi, dan kesehatan public. Mengurai sistem kompleks yang mengeksploitasi mereka membutuhkan pendekatan holistik dan transparan. Penegakan hukum, riset kesehatan, keterlibatan masyarakat, dan kebijakan berbasis bukti adalah fondasi untuk beralih dari sistem tekanan menuju sistem perlindungan yang adil dan efektif.

Isu konservasi MEP dan beruk juga merefleksikan cara kita sebagai manusia memperlakukan makhluk hidup lain di bumi. Cara kita menjaga atau justru mengeksploitasi mereka akan menjadi tolok ukur apakah peradaban ini mampu bertransformasi menuju keberlanjutan yang sejati. Mengubah paradigma dari “memanfaatkan” menjadi “merawat” bukan hanya menyelamatkan satu spesies, tetapi juga memastikan bahwa ekosistem tetap berfungsi, generasi mendatang terlindungi dari risiko zoonosis, dan nilai-nilai etika kita sebagai manusia tetap terjaga. https://kumparan.com/topic/konservasi

Referensi:

Hansen, M. F., Briefer, E. F., Nielsen, D. R. K., & Nijman, V. (2022). Monetary value of live trade in a commonly traded primate, the long-tailed macaque, based on global trade statistics. Frontiers in Conservation Science, 3, Article 839131. https://doi.org/10.3389/fcosc.2022.839131

Warne, R. K., Moloney, G. K., & Chaber, A.-L. (2023). Is biomedical research demand driving a monkey business? One Health, 16, 100520. https://doi.org/10.1016/j.onehlt.2023.100520

Patouillat, L., Hambuckers, A., Adi Subrata, S., Garigliany, M., & Brotcorne, F. (2024). Zoonotic pathogens in wild Asian primates: a systematic review highlighting research gaps. Frontiers in Veterinary Science, 11, 1386180. https://doi.org/10.3389/fvets.2024.1386180

Lady Freethinker. (2022). The Macaque Report: Indonesia. https://ladyfreethinker.org/wp-content/uploads/2022/11/THE-MACAQUE-REPORT-INDONESIA-2022-ENGLISH-compressed-compressed.pdf

CITES Secretariat. (2023). Non-Detriment Findings (NDF) – Long-tailed macaque (Macaca fascicularis), Indonesia. https://cites.org/sites/default/files/ndf_material/NDF_MEP_Indonesia_2023%20%281%29.pdf

Fitria, W. (2020). Human and long-tailed macaque conflict in Central Java, Indonesia. E3S Web of Conferences: ICENIS 2020. https://www.e3s-conferences.org/articles/e3sconf/abs/2020/62/e3sconf_icenis2020_06011/e3sconf_icenis2020_06011.html