Konten dari Pengguna

Kopi Klotok Yogyakarta: Solusi Nongkrong Dengan Suasana Perdesaan

JIKRIANTO

JIKRIANTO

Seorang Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Aisyiyah Yogyakarta dan Profesi Saat Ini Adalah Pelajar/Mahasiswa. Serta, mempunyai hobi traveling mengekspor tempat yang berkaitan dengan alam.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari JIKRIANTO tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pakem, Sleman Saat sore hari Kopi Klotok Yogyakarta sangat ramai sekali, suasana perdesaannya di sana pun begitu terasa. Warung ini terletak di Jalan Kaliurang KM 16, dengan kondisi sangat sederhana dan selalu ramai dikunjungi Wisatawan, baik dari lokal maupun luar daerah, bahkan mancanegara. Kopi Klotok bukanlah tempat yang di desain seperti caffe kekinian yang instagramable, melainkan tempat sederhana dengan suasana perdesaan. Namun, tetap saja tempat ini membuat orang-orang rela jauh-jauh datang hanya untuk menyeruput kopi dan menikmati pisang goreng, serta sayur lodeh khas ndeso.

ilustrasi pengunjung sedang menikmati suasana kopi klotok yogyakarta sore hari. (sumber 01/07/2025. Foto: Jikrianto)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi pengunjung sedang menikmati suasana kopi klotok yogyakarta sore hari. (sumber 01/07/2025. Foto: Jikrianto)

Menu andalan yang ada di Kopi Klotok adalah Pisang Goreng, Jadah goreng, Lodeh Sayur, dan makanan seperti angkriangan biasanya. Meskipun tempat ini sudah sangat populer dan dikunjungi oleh para artis, turis, dan wisata luar daerah. Harga makanan pada tempat tersebut juga sangat ramah dikantong mulai dari Rp 3.500 hingga Rp 11.500.

ilustrasi menu dan daftar harga di kopi klotok yogyakarta. (sumber: https://visit-jogja.com/kopi-klotok-jogja/#google_vignette)

Kopi Klotok Yogyakarta menjadi tempat yang begitu special bagi pengunjug, meskipun masih banyak tempat nongkrong yang serupa/sama dan lebih dekat juga dari kota, lebih modern, atau bahkan lebih murah.

Salah satu pengunjung asal Sulawesi Tengah, Dita (27), mengaku sudah tiga kali datang ke Kopi Klotok. “Bukan cuma soal makanannya, tapi suasananya. Saya merasa seperti pulang kampung. Kayak lagi makan di rumah nenek,” ujarnya sambil menikmati teh tubruk gulo batu/jawa dan pisang goreng.

Hal serupa diungkapkan Aditya (30), wisatawan dari Jakarta yang sedang liburan bersama keluarganya. Aditya mengungkapkan, Kopi Klotok menawarkan pengalaman yang tak tergantikan. “Di Jakarta banyak tempat makan yang sama seperti ini, tapi di sini rasanya beda. Ini bukan sekadar makan, tapi nostalgia. Anak-anak juga jadi tahu seperti apa makanan rumahan Jawa yang otentik.” ujarnya sambil tersenyum.

Warung ini memang mengusung konsep "warung jadul" dengan lantai semen, meja kayu panjang, dan pemandangan sawah yang membentang. Tidak ada AC atau musik elektronik. Suara riuh pengunjung dan dentingan piring justru menciptakan atmosfer alami yang sulit ditemukan di tempat lain.

ilustrasi keadaan warung kopi klotok yang sederhana, namun tetap ramai dikunjungi. (sumber 01/07/2025. Foto: Jikrianto)

Keberadaan Kopi Klotok juga berdampak pada masyarakat sekitar. Beberapa warga menjual hasil kebun dan makanan ringan di sekitar lokasi, menciptakan ekosistem ekonomi kecil yang hidup.

Walau banyak warung atau kafe lain yang mencoba meniru konsep Kopi Klotok, nyatanya masih banyak yang memilih datang ke sini. Bukan hanya karena rasa, tapi karena kenangan, kehangatan, dan suasana yang tidak bisa digantikan.

“Kalau sekadar makan enak, bisa di mana saja. Tapi kalau mau makan sambil merasa santai, damai, dan dengan suasana perdesaan, ya di sini tempatnya,” ujar Pak Gito, seorang supir bus yang datang dari Pekanbaru.

Salah satu tukang parkir yang sudah lama berjaga di area Kopi Klotok, Pak Didik, turut membenarkan bahwa tempat ini tak pernah sepi pengunjung.

“Saya di sini sudah lama jadi tukang parkir, Mas. Setiap hari ya begini, parkiran penuh terus. Bahkan sebelum jam buka kadang orang sudah nungguin di luar,” ujarnya sambil mengatur kendaraan roda dua yang berdatangan.

Pak Didik juga menyebut bahwa akhir pekan dan musim liburan adalah waktu yang paling padat.

“Kalau Sabtu Minggu, bus pariwisata juga banyak yang masuk. Rame terus. Kadang yang datang itu dari luar kota semua,” tambahnya.

Kopi Klotok bukan sekadar tempat makan. Ia adalah pertemuan antara rasa, ruang, dan memori. Di tengah dunia yang serba cepat, warung ini menawarkan jeda tempat untuk mengingat, menikmati, dan merasa dekat dengan rumah. Dan mungkin, itulah yang membuat orang terus kembali.

Jikrianto, mahasiswa sarjana Ilmu Komunikasi UNISA.