Model Blended Learning untuk Pasca Pembelajaran Jarak Jauh di Sekolah Dasar

Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Jakarta
Tulisan dari Ika Lestari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Per 3 Januari 2022, sekolah di DKI Jakarta telah melaksanakan pembelajaran secara tatap muka (Kompas, 2022). Pembelajaran jarak jauh saat Pandemi Covid-19 telah diperkirakan memunculkan learning loss dikarenakan penutupan sekolah. Hasil perkiraan menunjukkan bahwa penutupan sekolah hingga Juni 2021 telah mengakibatkan hilangnya sekitar 0,9 tahun sekolah yang disesuaikan dengan pembelajaran dan 25 poin pada nilai membaca PISA siswa. Learning loss di Indonesia lebih disebabkan pada persoalan dukungan pembelajaran yang ada daripada persoalan durasi penutupan sekolah (Yarrow & Afkar, 2021).
Siswa pada 350 ribu sekolah dasar di Belanda juga mengalami learning loss dikarenakan sistem pembelajaran yang dilakukan penuh secara dalam jaringan (Engzell et al., 2021). Padahal, sistem pendanaan sekolah di Belanda dilakukan secara merata dan tingkat akses broadband tertinggi di dunia. Kekhawatiran muncul lebih pada dampak akumulatif yang muncul dalam bidang pengetahuan siswa. Dengan demikian, learning loss tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di negara yang memiliki akses teknologi yang baik.
Untuk mengantisipasi kembali terjadinya penutupan sekolah sehingga mempertinggi tingkat learning loss yang terjadi, semua sekolah perlu melakukan tindakan agar dapat memastikan siswa tidak mengalami ketertinggalan dalam belajar, salah satunya melalui blended learning.
Dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di SDN Srengseng Sawah 12 Pagi, Jakarta Selatan, dosen program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Negeri Jakarta yaitu Dr. Ika Lestari, S.Pd., M.Si menjelaskan bahwa model blended learning perlu dikuasai oleh para guru sekolah dasar karena membuat guru semakin variatif dan fleksibel dalam menghadapi situasi pembelajaran yang terjadi.
Blended learning pada dasarnya mengkombinasikan aspek positif dari dua jenis lingkungan belajar yaitu pembelajaran di kelas dan e-learning sehingga melibatkan sistem pembelajaran sinkronus dan asinkronus demi ketercapaian tujuan pembelajaran.
Pembelajaran secara sinkronus dimaksudkan guru dan siswa berada pada waktu dan lokasi yang sama (tatap muka fisik) atau guru dan siswa berada di waktu yang sama tetapi lokasi yang berbeda (tatap muka maya: live streaming youtube, zoom, google meet).
Adapula pembelajaran secara asinkronus dilaksanakan dengan belajar kapan saja, di mana saja tentang apa saja, serta tidak memerlukan bantuan orang lain termasuk guru atau dinamakan sebagai asinkronus mandiri. Selain dilakukan secara mandiri, asinkronus dapat melalui kolaboratif yang berarti belajar kapan saja, di mana saja, tentang apa saja, dan dengan siapa saja.
Dengan guru memilih aktivitas pembelajaran melalui penggabungan antara salah satu sinkronus dan salah satu asinkronus, maka blended learning telah dilakukan sehingga tidak ada lagi penyebab pembelajaran tidak dapat terlaksana dengan baik. Hal ini membuat learning loss pada siswa sekolah dasar dapat dihindari.
Referensi
Kompas. (2022). Aturan lengkap sekolah tatap muka dengan kapasitas 100 persen di Jakarta. Kompas, 03/01/2022. https://megapolitan.kompas.com/read/2022/01/03/09112281/aturan-lengkap-sekolah-tatap-muka-dengan-kapasitas-100-persen-di-jakarta
Yarrow, N., & Afkar, R. (2021). Rewrite the future: How Indonesia can overcome the student learning losses from the pandemic and increase learning outcomes for all (p. 1). World Bank Blogs. https://blogs.worldbank.org/eastasiapacific/rewrite-future-how-indonesia-can-overcome-student-learning-losses-from-the-pandemic
Engzell, P., Frey, A., & Verhagen, M. D. (2021). Learning loss due to school closures during the COVID-19 pandemic. In Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America (Vol. 118, Issue 17, pp. 1–7). https://doi.org/10.1073/PNAS.2022376118
