Konten dari Pengguna

Model Komunikasi Guru dan Orang Tua saat Pandemi COVID-19

Ika Lestari

Ika Lestari

Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Jakarta

ยทwaktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ika Lestari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi guru dan orang tua. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi guru dan orang tua. Foto: Shutter Stock

Pandemi COVID-19 telah membawa perubahan di setiap aktivitas kegiatan manusia termasuk di dalamnya penyelenggaraan pendidikan. Pembelajaran jarak jauh menjadi corak khusus dalam Pandemi COVID-19. Diawali dengan banyaknya guru yang kemudian menggunakan platform online di dalam pembelajaran. Kelas bergeser dari luar jaringan menjadi dalam jaringan.

Awal pandemi, kerepotan dirasakan dari sisi guru karena perlu menguasai teknologi agar pembelajaran tetap berlangsung. Lalu, permasalahan timbul pada diri peserta didik. Kejenuhan, kesulitan memahami pelajaran, serta tekanan tugas yang terlalu banyak mulai muncul beriringan dengan penggunaan pembelajaran dalam jaringan.

Pemasalahan berikutnya terjadi dari sisi guru dan orang tua dalam berkomunikasi. Guru merasa perlu berkomunikasi secara intensif dengan para orang tua karena perlu tahu perkembangan kemajuan belajar siswa di rumah.

Ilustrasi Foto: Penyajian Materi oleh Prof. Dr. Arifin Maksum, M.Pd. mengenai Model Komunikasi Guru dan Orang Tua kepada Guru-guru di SDN Duren Tiga 01 Pagi, Jakarta Selatan

Dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di SDN Duren Tiga 01 Pagi Jakarta Selatan, Guru Besar Universitas Negeri Jakarta yaitu Prof. Dr. Arifin Maksum, M.Pd menjelaskan elemen penting dalam menjalin komunikasi positif yang dapat dibina oleh guru dan orang tua yaitu:

Luangkan waktu untuk menulis kegiatan pembelajaran

Latar belakang pekerjaan atau tingkat pendidikan orang tua merupakan salah satu hal yang menyebabkan terhambatnya kelancaran komunikasi guru dan orang tua. Orang tua menjadi sulit membagi waktu antara membelajarkan anak di rumah dengan pekerjaan yang keduanya menuntut untuk dikerjakan bersama-sama. Ditambah dengan tingkat pendidikan orang tua dalam membantu membelajarkan materi ke anak menjadi tantangan terbesar, tentu tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi tetapi kemampuan dalam menciptakan strategi pembelajaran yang sebenarnya biasanya dilakukan oleh guru, menjadi tugas bagi orang tua. Untuk itu, guru perlu meluangkan waktu dalam menulis kegiatan pembelajaran yang telah dibelajarkan ke siswa ketika pembelajaran jarak jauh dan dapat dilaporkan ke orang tua termasuk penugasan yang perlu dikerjakan.

Memanfaatkan media komunikasi

Keberadaan media komunikasi seperti WhatsApp Group antara guru dan orang tua sangat dibutuhkan, tidak hanya sebagai sarana penyampaian informasi tugas tetapi dapat juga digunakan sebagai sarana berkonsultasi untuk kemajuan belajar setiap siswa agar dapat diketahui permasalahan atau kesulitan yang dihadapi orang tua selama membantu atau mendampingi siswa selama belajar dalam pembelajaran jarak jauh.

Tunjukkan kepedulian dan kenyamanan

Kepedulian dari guru dan orang tua terhadap kemajuan belajar siswa menjadi dorongan untuk keberhasilan dalam pembelajaran jarak jauh. Siswa merasa terbantu untuk diingatkan mengenai materi, sikap kedisiplinan, dan kenyamanan yang diperoleh ketika pembelajaran jarak jauh.

Terlepas dari ketiga hal tersebut, ketika berkomunikasi, guru perlu mempertimbangkan sikap, bahasa, pengetahuan, dan tingkat pendidikan dari orang tua sehingga dapat meminimalkan terjadinya kesalahpahaman di dua belah pihak. Dalam hal ini, terlihat bahwa komunikasi positif menjadi hal yang penting. Komunikasi positif dapat menanamkan pengertian, memberikan pemahaman, serta memengaruhi emosi atau perasaan dan menumbuhkan sikap yang bijak.

Berkomunikasi dengan orang tua penting untuk pengembangan sekolah sebagai komunitas belajar karena dukungan orang tua menjadi faktor pendukung penyelenggaraan pembelajaran di sekolah. Komunikasi satu arah dapat terjadi dengan guru memberi tahu orang tua tentang peristiwa, kegiatan, atau kemajuan siswa melalui berbagai sumber seperti surat pengantar di awal tahun ajaran, buku komunikasi, raport, situs web dan sebagainya sedangkan komunikasi dua arah dapat dilakukan melibatkan dialog interaktif antara guru dan orang tua. Percakapan dapat terjadi ketika rapat rutin dan berkomunikasi dengan berbagai komunitas sekolah.

Perhatian terhadap minat dan hobi yang dimiliki oleh siswa perlu didukung oleh orang tua agar belajar di rumah menjadi kegiatan bermain yang menyenangkan.