Konten dari Pengguna

Reog: Warisan Budaya yang Terus Menyala Lewat Generasi Muda

Ika Nur asiyah

Ika Nur asiyah

Perkenalkan nama saya adalah Ika Nur Asiyah, biasa di panggil ika, saya mahasiswa aktif di Universitas Mulawarman Fakultas Ilmu Budaya Program Studi Sastra Indonesia, angkatan 2024, di kelas B

·waktu baca 1 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ika Nur asiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi Pribadi Oleh Ika Nur Asiyah
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pribadi Oleh Ika Nur Asiyah

Samarinda- Kesenian Reog kembali memukau masyarakat dalam sebuah pagelaran budaya yang meriah di hadapan warga. Dengan penuh semangat, para penari menampilkan gerakan khas Reog yang energik, selaras dengan alunan gamelan yang menghentak menyulut suasana penuh. Para penari perempuan yang dikenal sebagai Jathil tampil dengan lincah dan kompak. Busana mereka yang sarat ornamen tradisional berpadu dengan kuda kepang sebagai properti utama, menggambarkan karakter prajurit berkuda yang gagah berani. Kehadiran jathil bukan sekadar pemanis panggung, tetapi bagian penting dalam alur cerita Reog yang kuat akan nilai sejarah.

Menurut saya, saya adalah satu penari tersebut, menjaga Reog tetap hidup merupakan bentuk cinta pada budaya sendiri. “Saya senang bisa tampil dan melestarikan Reog. Semoga generasi muda lainnya juga ikut menjaga budaya kita,” ujar saya.

Reog bukan sekadar tradisi masa lalu. Di setiap hentakan kaki dan ayunan gerakan, terdapat nilai keberanian, keteguhan, dan identitas masyarakat Indonesia. Melihat semangat anak muda yang mengambil peran sebagai pelestari, harapan untuk masa depan seni budaya bangsa tetap menyala. Tradisi bukan sekadar tontonan, tetapi identitas yang terus kita jaga bersama.