Konten dari Pengguna

Pemimpin yang Efektif dalam Organisasi Dinamis

Ika Susanti

Ika Susanti

Pranata Humas Ahli Muda pada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ika Susanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pemimpin yang Efektif, Sumber: Doc. ANTEROACEH.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pemimpin yang Efektif, Sumber: Doc. ANTEROACEH.com

Di era persaingan global saat ini, organisasi dituntut untuk mengikuti perkembangan secara cepat dan dinamis. Berbagai isu dan perubahan akan mempengaruhi organisasi, dan memaksa organisasi untuk menyesuaikan diri. Kepemimpinan sangat mempengaruhi keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan. Agar bisa mengelola sumber daya secara optimal, dibutuhkan pemimpin dengan kemampuan manajerial yang menyeluruh, yaitu kemampuan untuk mengatur, mengoordinasikan dan menggerakkan para pegawai ke arah pencapaian tujuan yang telah ditentukan organisasi.

Menurut Modern Dictionary of Sociology (1996) pemimpin adalah seseorang yang menempati peranan sentral/posisi dominan dan pengaruh dalam kelompok. Robert Tanembaum mendefinisikan pemimpin sebagai mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan perusahaan. Menurut G.L.Feman & E.K.aylor (1950) kepemimpinan adalah kemampuan untuk menciptakan kegiatan kelompok mencapai tujuan organisasi dengan efektifitas maksimum dan kerjasama dari tiap-tiap individu. Ralph M. Stogdill dalam Sutarto (1998) mendefinisikan kepemimpinan sebagai suatu proses mempengaruhi kegiatan-kegiatan sekelompok orang yang terorganisasi dalam usaha menetapkan dan mencapai tujuan.

Berdasarkan definisi tersebut, pemimpin yang dapat membawa organisasi mencapai tujuan dengan efektifitas maksimum memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1. Berintegritas dan bisa menjadi role model. Pemimpin organisasi adalah contoh nyata bagi pegawainya. Sikap perilakunya adalah bukti dari apa yang dikatakannya, dan apa yang diinginkan untuk dilakukan para pegawainya. Pegawai akan mengamati konsistensi pemimpin, membandingkan antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan. Pemimpin yang memiliki integritas tinggi dan sikap konsisten akan lebih dihargai dan menjadi panutan bagi pegawainya. Pegawai akan memberikan reaksi positif dengan mencontoh hal-hal yang baik.

  1. Berwawasan luas dan adaptif dengan perubahan. Organisasi membutuhkan pemimpin yang mampu berpikir kritis, lincah dan dinamis dalam mengambil keputusan. Wawasan yang luas akan membuat seorang pemimpin cepat beradaptasi dengan berbagai isu dan perubahan. Menjadi "Pemimpin Perubahan" bukan berarti terus berubah-rubah. Perubahan yang terjadi setiap saat justru akan membingungkan pegawai dan menganggap pemimpin tidak konsisten. Pemimpin harus mempunyai visi yang jelas, membuat strategi dan perencanaan matang, serta mampu mengambil keputusan di saat genting yang dapat dipahami semua pegawai. Kepemimpinan akan diuji saat menghadapi kondisi-kondisi darurat di luar perencanaan.

  2. Peduli dan empati. Membuka telinga dan mata tidak menjamin seseorang mampu mendengar dan melihat. Pemimpin harus peduli dan empati dengan kondisi di sekitarnya, apakah keputusan yang diberikan memberikan dampak yang baik. Pemimpin harus bersedia untuk dievaluasi dan bersedia untuk melayani. Turun ke lapangan, dengar dan lihatlah kenyataan. Ketika keputusan itu ternyata berdampak negatif bagi pegawai dan organisasi, maka segera lakukan perbaikan. Pemimpin tidak selalu benar, maka masukan dan saran dari berbagai pihak yang kompeten di bidangnya sangat dibutuhkan. Berikan kesempatan pegawai untuk berpendapat disertai data dan fakta yang akurat. Kepedulian dan empati menunjukkan tingkat kematangan seorang pemimpin dalam kepemimpinannya.

  3. Komunikatif dan partisipatif. Organisasi yang sehat dibangun dari komunikasi efektif dan partisipasi para pegawai dalam pencapaian tujuan organisasi. Komunikasi efektif baik secara vertikal maupun horizontal memungkinkan seluruh elemen organisasi memahami tujuan organisasi. Pemimpin yang komunikatif akan membuka ruang bagi pegawainya untuk berpartisipasi aktif dalam proses pengambilan keputusan. Keterbukaan informasi dan kejelasan dalam setiap proses, akan menciptakan situasi kerja yang kondusif. Komunikasi efektif menumbuhkan rasa saling percaya, soliditas dan kekompakan dalam organisasi.

  4. Bertanggung jawab dan solutif. Pemimpin harus bertanggung jawab terhadap semua keputusannya, tidak melarikan diri dari masalah dan mampu memberikan solusi ketika sebuah proses mengalami kendala. Pemimpin perlu membuat perencanaan dengan pertimbangan yang matang dan alternatif-alternatif strategi bila terjadi permasalahan. Pemimpin adalah tempat bertanya dan pengambil keputusan di saat genting. Kemampuan memberikan solusi menunjukkan kesiapan pemimpin dalam memimpin organisasinya.

  5. Mendorong kemajuan bersama. Sikap “one man show” tidak diperlukan dalam organisasi yang dinamis. Organisasi yang dinamis membutuhkan partisipasi dan kerja sama pegawai di semua level. Pemimpin memberikan dorongan dan motivasi bagi pegawai untuk bekerjasama, serta meningkatkan kompetensi dan performanya secara positif. Pemimpin menggali kemampuan, kreatifitas dan inovasi pegawai secara optimal untuk meningkatkan kinerja organisasi. Memberikan umpan balik, apresiasi dan penghargaan kepada pegawai secara layak untuk setiap prestasi yang dihasilkan. Keberhasilan yang diraih bukanlah semata-mata karena kehebatan seorang pemimpin, tapi merupakan hasil pencapaian bersama seluruh elemen organisasi.

  6. Memberikan ketenangan dan rasa aman. Suasana kerja yang kondusif, serta terpenuhinya hak dan kewajiban pegawai secara adil, akan menciptakan ketenangan dan rasa aman dalam bekerja. Keterbukaan informasi dan kejelasan dalam setiap proses sangat dibutuhkan pegawai. Rasa galau dan was-was akan menyebabkan kinerja pegawai tidak optimal. Isu-isu yang gagal diklarifikasi oleh pemimpin akan menyebabkan lingkungan kerja menjadi tidak sehat. Pegawai menjadi tidak bahagia, tidak bersemangat dan bersikap apatis. Kondisi ini jelas menjadi penghambat bagi kemajuan organisasi. Pemimpin harus mampu mendapatkan kepercayaan dari pegawainya untuk bisa membawa organisasi sukses mencapai tujuannya. (IkS).